Nasional

Pentingnya Dukungan Politik Jusuf Kalla untuk Kemenangan AMIN

Posted on

KEBARUAN.COM – Selasa lalu, 19 Desember 2023, Jusuf Kalla, tokoh senior Partai Golkar (Golongan Karya), NU, Alumni HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), Wakil Presiden ke – 10 dan ke-12 R.I (Republik Indonesia), secara resmi menyatakan dukungannya pada pasangan calon (paslon) Anies – Muhaimin (AMIN), dalam kontestasi Pilpres (Pemilu Presiden) 2024 (Sumber: detik.com, diakses 21 desember 2023). Dukungan ini sangat besar artinya, karena biasanya dalam setiap perhelatan Pilpres langsung, hampir semua paslon yang mendapat dukungan politik Jusuf Kalla (JK), selalu memperoleh kemenangan.

Pengeculian mungkin pada Pilpres 2009, saat JK mencalonkan diri sebagai presiden dalam kontestasi tersebut, dengan didampingi Jenderal (Purn) Wiranto, sebagai cawapres (calon wakil presiden). Akan tetapi, pada tahun 2004, ketika beliau mendampingi SBY (Susilo Bambang Yudhoyono), sebagai cawapres, pasangan calon SBY – JK menang telak atas paslon Megawati Soekarnoputri – Hasyim Muzadi, padahal saat itu Megawati adalah petahana, yang masih menjabat sebagai presiden R.I.

Pada tahun 2014, kemenangan juga diraih oleh pasangan Jokowi – JK, yang berhadapan dengan paslon Prabowo Subianto – Hatta Rajasa (Prabowo – Hatta). Menariknya, paslon yang dikalahkan oleh paslon Jokowi – JK ini, atau Prabowo Hatta, didukung oleh banyak partai parlemen (partai yang punya kursi di Dewan Perwakilan Rakyat/DPR). Tercatat, ada 6 partai parlemen, yang mndukung paslon Prabowo – Hatta saat itu, di antaranya adalah, Partai Gerindra, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Golkar. Total persentase dukungan untuk paslon ini, adalah sebesar 48,93% suara, atau sekitar 292 kursi DPR. Sementara paslon Jokowi – JK saat itu hanya memperoleh dukungan sebesar 39,97% suara atau sekitar 207 kursi DPR (Sumber: voaindonesia.com, diakses 21 Desember 2023).

Pada Pilpres 2019, JK tidak bisa maju lagi dalam perhelatan Pilpres, sebagai cawapres, karena terganjal konstitusi, yaitu Pasal 7 UUD 1945, yang telah diamandemen. Isinya adalah bahwa presiden dan wakil presiden hanya bisa dipilih kembali dalam jabatan yang sama, untuk satu kali masa jabatan saja. Karena JK sudah menjabat sebagai wakil presiden sebanyak dua kali, maka beliau tidak bisa ikut kontesrasi Pilpres saat itu, mendampingi Jokowi (Sumber: cnnindonesia.com, diakses 21 Desember 2023). Akan tetapi, pada Pilpres 2019, JK tetap melabuhkan dukungan politiknya, untuk paslon Jokowi – Ma’ruf Amin, yang kemudian memenangi Pilpres, mengalahkan paslon Prabowo Subianto – Sandiaga Uno (Prabowo – Sandi) (Sumber: tempo.co, diakses 21 Desember 2023).

Secara keseluruhan, Jusuf Kalla, atau JK sudah pernah berlaga dalam kontestasi Pilpres sebanyak 3 kali, dengan dua kali kemenangan (2004 dan 2014), dan satu kali kekalahan (2009). Selain itu, dari empat perhelatan pemilu langsung, paslon yang mendapat dukungan politik beliau, telah menang 3 kali, dan satu kali kalah.

Pertanyaannya, mengapa dukungan politik JK dalam setiap perhelatan Pilpres, sebagai besar berujung pada kemenangan? Pertama, walaupun bukan faktor penentu utama, Jusuf Kalla, adalah tokoh pengusaha, yang memiliki kekayaan ratusan miliar rupiah (Sumber: okezone.com, diakses 21 Desember 2023). Dengan ini, setiap paslon yang beliau dukung, tentu akan mendapat suntikan dana yang tidak sedikit, sehingga setiap kebutuhan paslon dan tim pemenangan dalam menjalani kontestasi Pilpres, bisa tercukupi. Faktor kedua adalah pengaruh politik JK yang sangat besar di berbagai organisasi politik dan masyarakat di seluruh Indonesia. JK adalah tokoh NU (Nahdlatul Ulama), organisasi kemasyarakatan dengan massa sangat besar di Indonesia. Beliau adalah anak dari Haji Kalla, pendiri NU di Sulawesi Selatan (Sulsel), dan juga pernah menjadi pengurus NU Sulsel, sebagai bendahara. Jusuf Kalla sendiri, pernah menjadi Mustasyar (Penasihat) PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) pada tahun 2010 – 2015 (Sumber: nu.or.id, diakses 21 Desember 2023).

Baca jugaBerbagai Program Kongkrit AMIN untuk Penyandang Disabilitas

Jk juga adalah senior Partai Golkar, dan pernah menjabat sebagai Ketua Umum Partai Golkar dari tahun 2004 sampai 2009 (Sumber: kompas.com, diakses 21 Desember 2023). Partai Golkar merupakan partai tertua yang masih eksis sampai sekarang ini. Sudah mengecap asam garam kekuasaan semenjak zaman demokrasi terpimpin. Secara keseluruhan, Partai Golkar telah membersamai seluruh presiden di Indonesia, menjalankan kekuasaan, dari mulai Soekarno sampai Joko Widodo (Jokowi).

Sebagai seorang tokoh politik yang berpengaruh besar, JK juga memiliki peran yang cukup signifikan dalam terwujudnya perdamaian dan solusi konflik di berbagai daerah, seperti Ambon, Poso, dan Aceh. Karena itulah, beliau cukup disegani oleh sebagian besar tokoh dan elit politik di Indonesia.

Itulah dua faktor utama, yang membuat dukungan politik Jusuf Kalla sangat berarti dan bernilai, untuk setiap paslon yang didukungnya dalam perhelatan Pilpres. Oleh karena itu, tidak heran, jika pada tanggal 19 November 2023, Ganjar Pranowo, capres nomor urut 3, sowan ke rumah JK yang terletak di Jalan Dharmawangsa, Jakarta Selatan (Sumber: liputan6.com, diakses 21 Desember 2023).

Baca jugaPotensi Kemenangan AMIN, Menurut Survei Litbang Kompas

Akhir kata, dukungan tokoh politik sekelas Jusuf Kalla, pada dasarnya sangat besar nilainya, untuk paslon nomor urut 1, Anies – Muhaimin (AMIN). JK adalah tokoh yang pengaruhnya sangat besar di perekonomian dan politik. Sejarah membuktikan, bahwa dukungan politik JK, selalu membuahkan kemenangan bagi kubu yang didukung oleh beliau. Selain itu, kubu AMIN juga harus belajar banyak dari Jusuf Kalla, khususnya terkait bagaimana kiat-kiat pemenangan yang jitu dalam kontestasi Pilpres, karena beliau telah pernah mengikuti kontestasi Pilpres langsung sebanyak tiga kali, dan keluar sebagai pemenang sebanyak dua kali. Pengalaman adalah guru terbaik, oleh karena itu, maka sangat penting untuk belajar pada orang-orang yang telah memiliki banyak pengalaman, seperti Jusuf Kalla.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

Exit mobile version