Nasional

Pilihlah Pengacara Rakyat: Ahmad Rifa’i atau Tedjo

Posted on

Oleh : Bosman Batubara

(Postdoctoral researcher pada Human Geography and Spatial Planning Department, Utrecht University)

KEBARUAN.COM – Nama saya Bosman Batubara. Saya berasal dari Mandailing Natal, Sumatera Utara. Saya menyelesaikan pendidikan S-1 di Jurusan Teknik Geologi UGM pada 2005. Semasa kuliah saya berkegiatan di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Gadjah Mada dan Cabang Sleman. Setelah tamat, saya bekerja di perusahaan tambang di Kalimantan Timur. Pada sekitar 2009-10, saya terlibat dalam mengadvokasi korban Lumpur Lapindo, di Porong, Jawa Timur.

Di salah satu kesempatan berada di Jawa Timur pada sekitar 2009-10 itu, melalui jaringan pertemanan yang saya dapat dari PMII, saya bertemu dengan Ahmad Rifa’i, atau akrab disapa dengan Tedjo (Mas Tedjo) di Malang. Yang dapat saya ingat, Tedjo juga adalah anggota PMII di Malang. Belakangan saya tahu kalau dia pernah menjadi Ketua Komisariat PMII di Universitas Islam Malang (UNISMA). Obrolan kami (Tedjo dan saya) dalam beberapa kesempatan/pertemuan kala itu tidak jauh-jauh dari tipikal kegelisahan mahasiswa yang aktif di PMII: masalah-masalah keagamaan, situasi politik nasional ketika itu, dan Lumpur Lapindo.

Baca jugaMemahami Ide AMIN tentang Pembangunan Terpadu Desa dan Kota

Tema terakhir, Lumpur Lapindo, karena pada waktu itu rasanya kepala saya dipenuhi dengan permasalahan-permasalahan Lumpur Lapindo. Di mana pun saya ngobrol, rasanya hanya itu tema yang menarik, di segala tempat di segala cuaca. Kosa kata saya misalnya, bencana industri, industri ekstraksi, dan Porong. Itu membuat saya semakin yakin, meskipun tidak bisa ingat dengan persis, bahwa tema Lumpur Lapindo selalu muncul dalam perbincangan pada pertemuan-pertemuan Tedjo dan saya di Malang.

Pada pertengahan 2010, saya pergi ke Leuven, Belgia, untuk meneruskan kuliah ke jenjang S-2. Pada fase ini saya banyak tidak tersambung bukan hanya dengan Tedjo, tapi juga dengan banyak kawan, baik dari PMII maupun dengan kawan-kawan dari berbagai organisasi lain. Suka lara hidup ini, kesibukan kuliah, pengalaman-pengalaman baru, juga pertemanan baru, telah menyedot saya secara dalam.

Pada akhir 2012, saya menyelesaikan program S-2 di Leuven, dan kembali ke Indonesia. Melalui banyak momen ngobrol, diskusi, perjalanan-perjalanan, secara pelan-pelan saya makin terhubungkan dengan gerakan rakyat di Jawa. Pada masa itu saya sering naik motor matic di Jawa. Misalnya dari Jogja ke Kebumen, di mana para petani Kebumen Selatan atau Urutsewu, berhadapan dengan kasus perampasan tanah rakyat oleh TNI AD. Kosa kata saya mulai bertambah. Saya semakin akrab dengan frase-frase seperti konflik agraria, sumber daya alam, ekologi politik, dan ekspansi kapitalisme.

Sekitar pertengahan 2013 hingga akhir 2014, saya singgah di beberapa tempat di Jawa selain Yogyakarta, seperti Cigugur/Cirebon, Porong, Kebumen, Surabaya, Jombang, Banyuwangi, Blitar, dan Madura (Sumenep). Di banyak tempat itu saya bertemu dengan banyak aktivis yang terlibat dalam advokasi, berdiri di sisi rakyat dalam konflik-konflik agraria. Dalam salah satu kesempatan, saya kembali bertemu dengan Tedjo, di daerah asalnya, Banyuwangi.

Pertemuan-pertemuan dengan banyak aktivis itu kemudian yang, salah satunya, mendorong munculnya organisasi bernama Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA). Seingat saya, Tedjo adalah salah seorang yang paling awal mendukung ide pendirian FNKSDA.

Sejak itu, melalui komunikasi langsung atau mengikuti lewat media arus utama dan sosial, saya menyimak bahwa Tedjo yang sudah bekerja sebagai pengacara, selalu berdiri di sisi rakyat dalam kasus-kasus konflik agraria. Beberapa di antaranya yang pernah saya simak adalah kasus penolakan warga terhadap tambang emas di Tumpang Pitu, kasus Budi Pego, kasus penolakan rakyat terhadap tambang galian C di Wongsorejo, kasus warga Pakel yang terlibat konflik dengan perkebunan, dan kasus tuduhan merusak hutan kepada petani Desa Bayu, Kecamatan Songgon, semuanya di Banyuwangi.

Saya sendiri, sekarang ini (2024) sudah tidak aktif dengan FNKSDA, tapi kelihatannya Tedjo masih, mungkin minimal sampai beberapa bulan yang lalu. Informasi yang saya dapat dari Tedjo, terakhir dia terlibat sebagai Dewan Etik. Berdasarkan rekam jejaknya di atas itu, izinkanlah saya menyebut Tedjo sebagai pengacara rakyat.

Pada pemilihan 2024 ini, Tedjo maju sebagai caleg DPR RI nomor urut 4 dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) untuk daerah pemilihan (dapil) Jawa Timur III yang meliputi Banyuwangi, Bondowoso, dan Situbondo. Tulisan ini adalah dukungan saya terhadap pen-calegan Tedjo. Saya kurang ilmu tentang bagaimana politik elektoral bekerja. Saya tidak memiliki hak suara di dapil di mana Tedjo menjadi caleg.

Saya sekarang mencari nafkah dengan bekerja di kampus, sebagai peneliti di Jurusan Human Geography and Spatial Planning, Universitas Utrecht, Belanda. Ketika saya melamar kerja ke Universitas Utrecht, saya membutuhkan rekomendasi dari orang yang mengenal saya, ditujukan kepada calon supervisor (orang yang akan mempekerjakan atau calon atasan) saya di Utrecht. Surat rekomendasi itu dibuat oleh para pembimbing disertasi saya di University of Amsterdam dan IHE-Delft Institute for Water Education.

Baca jugaResistensi AMIN terhadap IKN: Akar dan Maknanya

Mirip, melalui tulisan ini saya merekomendasikan kepada para pemilih di Dapil III Jawa Timur untuk memilih Tedjo sebagai anggota DPR RI pada pemilu 14 Februari 2024 mendatang. Mungkin tidak benar-benar sama dengan surat rekomendasi yang saya dapat/peroleh ketika melamar kerja, tapi ada cara kerja yang mirip di antara keduanya.

Yang membedakannya mungkin, salah satunya, adalah pemberi rekomendasi. Rekomendasi saya dalam melamar kerja diberikan/dibuat oleh profesor pembimbing saya. Saya merekomendasikan Tedjo untuk dipilih, dengan posisi saya yang bukan siapa-siapa. Sebagai gambaran, di twitter saya memperkenalkan diri sebagai warganet kebanyakan (ordinary netizen).

Yang mirip mungkin adalah sifatnya yang merekomendasikan. Sebagaimana halnya pembimbing saya yang mengenal saya selama menempuh studi doktoral dan berdasarkan itu mereka memberikan rekomendasi ketika saya melamar pekerjaan, rekomendasi untuk memilih Tedjo ini saya buat karena saya tahu, mengenal, dan menyimak rekam-jejak Tedjo. Yang dapat saya tahu, dia adalah seorang aktivis, pengacara rakyat yang berjuang sehari-hari bersama orang biasa; Tedjo adalah rakyat itu sendiri, seperti saya atau kita. Saya percaya bahwa urusan rakyat akan lebih baik kalau dipegang oleh orang yang sudah lama menunjukkan komitmen mengerjakan urusan-urusan rakyat seperti sahabat Tedjo.

Semarang, 2 Februari 2024

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

Exit mobile version