Kebaruan.com Harga saham gabungan atau IHSG mengalami tekanan jual yang sangat tinggi pada perdagangan Senin (18/5/2026) hingga merosot ke level 6.470,348 pada akhir sesi I. Penurunan tajam sebesar 252,971 poin atau setara 3,76 persen ini memicu kekhawatiran massal di kalangan pelaku pasar modal domestik. Menanggapi situasi tersebut, Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa langsung memberikan pernyataan resmi untuk menenangkan para investor di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. Purbaya menegaskan bahwa kejatuhan indeks saat ini murni karena pengaruh sentimen jangka pendek akibat kecemasan terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah.
Strategi Intervensi Pemerintah di Pasar Obligasi
Pemerintah bergerak cepat meredam kepanikan pasar dengan menyiapkan langkah taktis guna menjaga stabilitas sektor keuangan nasional. Fokus utama kementerian saat ini adalah mempertahankan fondasi ekonomi makro agar pertumbuhan nasional tetap melaju kencang tanpa hambatan berarti.
- Intervensi Bond Market: Mulai hari ini, pemerintah masuk ke pasar obligasi dengan volume yang jauh lebih signifikan untuk mengendalikan harga Surat Berharga Negara (SBN).
- Mencegah Capital Outflow: Langkah intervensi ini bertujuan agar investor asing tidak melakukan aksi jual massal karena takut mengalami kerugian modal (capital loss).
- Menopang Mata Uang: Stabilisasi di pasar obligasi ini secara otomatis akan membantu memperkuat pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Perbandingan dengan Krisis 1998 dan Peluang Cuan Investor
Banyak analisis keliru yang mengaitkan penurunan harga saham hari ini dengan memori kelam krisis moneter 1997-1998. Purbaya dengan tegas membantah asumsi tersebut karena kondisi fundamental Indonesia saat ini jauh lebih kuat, stabil, dan tidak sedang berada dalam fase resesi ekonomi. Instabilitas sosial-politik yang terjadi pada era 1998 sama sekali tidak terlihat pada kondisi riil masyarakat saat ini.
Secara statistik, perdagangan sesi I mencatat sebanyak 682 saham melemah, sementara hanya 84 saham yang berhasil naik, dan 52 saham lainnya stagnan. Indeks LQ45 juga melemah 3,06 persen ke posisi 637,770, disusul Jakarta Islamic Index (JII) yang merosot hingga 4,21 persen. Nilai transaksi total pada paruh pertama hari ini mencapai Rp11,96 triliun dengan frekuensi perdagangan mencapai 1,72 juta kali transaksi.
Melihat kondisi teknikal yang ada, Menkeu justru menyarankan para pelaku pasar untuk memanfaatkan momentum ini sebagai peluang investasi yang langka. Ia optimis pasar akan segera berbalik arah (rebound) dalam satu atau dua hari ke depan. Oleh karena itu, penurunan harga saham saat ini menjadi kesempatan emas bagi para investor ritel maupun institusi untuk melakukan aksi borong atau serok bawah pada emiten-emiten berfundamental bagus dengan harga yang sangat murah.
