Kebaruan.com Perang Suku Papua yang melibatkan Suku Lanny (Pirime) dan Suku Hubla (Kurima/Woma) di Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, kini mulai berangsur kondusif. Ketegangan yang pecah sejak pertengahan pekan lalu di sekitar Jalan Diponegoro dan Pasar Wouma sempat membuat situasi Kota Wamena mencekam. Berdasarkan data valid terbaru dari pihak kepolisian, insiden berdarah ini menelan korban jiwa hingga 13 orang meninggal dunia, sementara 19 warga lainnya mengalami luka-luka dan harus menjalani perawatan intensif di RSUD Wamena.
Kronologi dan Pemicu Utama Bentrokan
Akar permasalahan dari pertikaian besar ini bermula dari perselisihan mengenai pembayaran denda adat terkait kasus kecelakaan lalu lintas pada tahun 2024 lalu yang menewaskan seorang anggota DPRD Lanny Jaya.
- Kesepakatan Awal: Hasil musyawarah adat sebenarnya telah menetapkan sanksi denda sebesar Rp2 miliar dan 30 ekor babi.
- Ketidaksesuaian Dana: Saat pertemuan realisasi pembayaran pada 6 Mei 2026, pihak Lanny Jaya menolak karena nominal yang tersedia tidak sesuai kesepakatan, sehingga memicu aksi saling serang.
- Tragedi Jembatan Putus: Situasi kian memanas ketika jembatan gantung di Kali Uwe putus akibat kelebihan beban saat ratusan warga melintas. Musibah ini menyebabkan puluhan orang hanyut, di mana tim Basarnas dan Polres Jayawijaya berhasil menemukan 19 jenazah terpisah dari korban perang langsung.
Kerugian Materiel dan Gelombang Pengungsian Warga
Amukan massa yang meluas berujung pada aksi pembakaran massal terhadap rumah tinggal dan rumah adat Honai milik warga di sekitar Distrik Woma. Kondisi ini memaksa sebanyak 789 warga sipil, termasuk ratusan anak-anak dan lansia, meninggalkan tempat tinggal mereka untuk mengungsi ke Mako Polres Jayawijaya serta Kodim 1702/Jayawijaya demi menyelamatkan diri.
Aparat keamanan gabungan yang terdiri dari Polres Jayawijaya dan tambahan 3 Satuan Setingkat Kompi (SSK) Sat Brimob Polda Papua kini bersiaga penuh di tujuh titik strategis. Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol Cahyo Sukarnito, menyatakan bahwa langkah preventif ini berhasil memulihkan roda aktivitas masyarakat, mulai dari kegiatan perkantoran hingga sekolah.
Langkah Mediasi Tradisional untuk Perdamaian Abadi
Pemerintah pusat dan daerah bergerak cepat meredam konflik agraria dan sosial ini agar tidak meluas ke wilayah lain. Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Ribka Haluk bersama Gubernur Papua Pegunungan Jhon Tabo langsung menggelar dialog khusus dengan para tokoh adat dan perwakilan masyarakat Lanny Jaya di Gereja Gonambur, Distrik Sinakma.
Pemerintah mengimbau warga pendatang untuk kembali ke daerah asal mereka dengan jaminan pengawalan ketat dari TNI dan Polri selama perjalanan. Di sisi lain, para kepala suku menegaskan bahwa penyelesaian Perang Suku Papua wajib mengedepankan mekanisme peradilan adat yang adil sebagai solusi mutlak untuk melahirkan perdamaian yang permanen dan mengembalikan stabilitas ekonomi kawasan.
