Baju Basah dan Mitos Masuk Angin, Ini Penjelasan Medisnya
- account_circle firmansyah
- calendar_month 7 jam yang lalu
- visibility 8
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kebaruan. Baju basah kerap dituding jadi penyebab utama masuk angin, terutama saat musim hujan tiba. Namun benarkah anggapan ini punya dasar medis yang kuat? Faktanya, dunia kedokteran sama sekali tidak mengenal istilah “masuk angin” sebagai sebuah penyakit. Istilah ini murni kreasi masyarakat Indonesia untuk menggambarkan sekumpulan keluhan seperti demam, pegal-pegal, dan perut kembung.
Masuk Angin Bukan Diagnosis Medis
Beberapa dokter spesialis menegaskan hal serupa. Mengenakan pakaian basah selama berjam-jam memang bukan penyebab langsung penyakit tertentu. Klaim tersebut lebih tepat disebut mitos ketimbang fakta medis. Meski begitu, bukan berarti baju basah sama sekali tidak berdampak pada tubuh. Reaksi tubuh terhadap kondisi lembap dan dingin inilah yang sering disalahartikan sebagai masuk angin.
Kenapa Baju Basah Bikin Badan Tidak Enak?
Suhu tubuh yang menurun akibat pakaian lembap ternyata memicu efek domino. Ahli kulit menjelaskan, baju berkeringat yang tak segera diganti akan membuat tubuh mengalami “stres” dalam jangka waktu lama. Kondisi ini muncul karena suhu tubuh jadi dingin dan lembap akibat terpapar basah terlalu lama. Situasi serupa juga berlaku ketika seseorang memakai baju basah lalu masuk ke ruangan berpendingin. Perubahan suhu yang mendadak inilah yang berpotensi menurunkan daya tahan tubuh.
Riset dari Yale School of Medicine turut memperkuat penjelasan ini. Air hujan sendiri bukan penyebab utama munculnya penyakit. Faktor sebenarnya adalah penurunan suhu tubuh akibat pakaian lembap yang basah oleh hujan. Ketika suhu tubuh turun, kinerja sistem imun ikut terganggu secara otomatis. Penurunan sistem kekebalan tubuh inilah yang membuat seseorang jadi lebih rentan terserang penyakit, bukan air atau angin itu sendiri.
Bahaya Sebenarnya di Balik Pakaian Basah
Selain menurunkan imunitas sementara, baju basah yang dibiarkan menempel di kulit terlalu lama juga membawa risiko lain. Kondisi lembap menciptakan lingkungan ideal bagi bakteri dan jamur untuk berkembang biak. Akibatnya, kulit bisa mengalami peradangan, kemerahan, hingga ruam, terutama pada orang yang memiliki bakat alergi.
Perlu digarisbawahi, gejala yang muncul setelah memakai baju basah sebenarnya bukan disebabkan oleh basahnya pakaian, melainkan oleh virus atau bakteri yang lebih mudah menyerang saat imun tubuh sedang lemah. Itulah sebabnya tidak semua orang yang kehujanan atau berkeringat berlebih otomatis jatuh sakit. Banyak orang tetap sehat meski basah kuyup, apalagi jika segera mandi air hangat dan mengganti pakaian.
Cara Tepat Mencegah Badan Tidak Enak
Beberapa langkah sederhana bisa membantu menjaga tubuh tetap fit meski sempat terkena hujan atau berkeringat deras. Segera ganti baju basah dengan pakaian kering dan bersih begitu ada kesempatan. Mandi air hangat juga membantu menghangatkan tubuh sekaligus membersihkan kuman yang menempel di kulit. Pastikan asupan cairan dan istirahat tetap tercukupi agar sistem imun bekerja optimal.
Pada akhirnya, baju basah memang bukan penyebab langsung penyakit seperti yang selama ini dipercaya turun-temurun. Namun, membiarkan tubuh dalam kondisi lembap dan dingin terlalu lama tetap berisiko menurunkan daya tahan tubuh, sehingga tubuh jadi lebih mudah terserang virus atau bakteri di sekitar.
- Penulis: firmansyah
