kebaruan.com Peristiwa erupsi Gunung Dukono yang terjadi baru-baru ini menyisakan duka mendalam bagi dunia pendakian Indonesia. Tim SAR gabungan akhirnya menutup operasi pencarian setelah berhasil menemukan tiga jasad pendaki yang sempat hilang akibat paparan erupsi Gunung Dukono. Para petugas menemukan para korban dalam kondisi tertimbun material vulkanik yang sangat tebal di dekat area kawah. Meskipun medan sangat berbahaya, dedikasi tim penyelamat memastikan seluruh jasad dapat terevakuasi ke titik aman. Kejadian memilukan ini menjadi pengingat keras akan bahaya aktivitas vulkanik yang bisa berubah sewaktu-waktu tanpa peringatan dini yang cukup bagi para pendaki di area puncak.
Identitas Korban dan Proses Pencarian
Tim pencari mengonfirmasi bahwa dari tiga korban jiwa, satu orang merupakan Warga Negara Indonesia (WNI) dan dua lainnya adalah Warga Negara Asing (WNA). Berikut rincian data korban yang berhasil dievakuasi:
- Enjel (WNI): Ditemukan pada Sabtu (9/5/2026) sekitar 50 meter dari bibir kawah. Jasadnya mulai terlihat setelah hujan deras mengikis tumpukan pasir vulkanik.
- Heng Wen Qiang Timothy (30): Warga Negara Singapura yang ditemukan pada pencarian hari ketiga.
- Shahin Muhrez bin Abdul Hamid (27): Rekan asal Singapura yang lokasinya berdekatan dengan titik penemuan korban lainnya.
Proses evakuasi melibatkan 98 personel gabungan dari berbagai unsur seperti Basarnas, TNI, Polri, hingga masyarakat setempat. Keberadaan dua korban selamat berinisial RS dan JA sangat membantu tim dalam menentukan koordinat terakhir para korban sebelum terjebak situasi darurat.
Kendala Berat Akibat Material Vulkanik
Kepala Pusat Data BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa ketebalan pasir vulkanik menjadi rintangan utama di lapangan. Material tersebut menutupi permukaan dengan kedalaman yang bervariasi, sehingga menyulitkan penyisiran manual. Selain itu, aktivitas kawah yang masih fluktuatif memaksa tim SAR untuk bekerja ekstra hati-hati demi keselamatan personel.
Tim bahkan harus menandai titik koordinat menggunakan teknologi GPS sebelum melakukan penggalian material yang menimbun tubuh korban. Ketangguhan petugas diuji saat cuaca buruk melanda lokasi yang membuat medan menjadi sangat licin dan berbahaya.
Langkah Tegas Pemerintah Daerah
Menanggapi tragedi ini, Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara menegaskan kembali larangan aktivitas pendakian yang sebenarnya sudah berlaku sejak 17 April 2026. Pemerintah akan memperketat pengawasan di jalur-jalur tikus agar kejadian serupa tidak terulang kembali di masa depan.
Tragedi akibat erupsi Gunung Dukono ini harus menjadi pelajaran berharga bagi setiap pendaki untuk selalu mematuhi aturan penutupan jalur demi keselamatan nyawa. Pengawasan yang lebih ketat terhadap pemandu (guide) dan porter juga menjadi fokus pihak kepolisian guna mencari tahu alasan mengapa para pendaki tetap berada di area berbahaya meskipun larangan resmi sudah keluar. Kita semua berharap tidak ada lagi korban jiwa akibat mengabaikan peringatan dini terkait erupsi Gunung Dukono.
