Harga Minyak Dunia Melonjak Akibat Kegagalan Negosiasi Damai AS-Iran

Kebaruan.com Pasar energi merespons negatif batalnya putaran kedua pembicaraan damai antara Washington dan Teheran. Hal ini menghapus harapan pelaku pasar akan pemulihan arus distribusi energi melalui Selat Hormuz dalam waktu dekat. Akibatnya, harga minyak dunia hari ini menunjukkan tren kenaikan yang cukup tajam pada perdagangan Senin pagi.

Minyak Brent sebagai standar harga internasional melesat hampir 3% hingga menyentuh level USD 108,23 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni juga merangkak naik sekitar 2% ke posisi USD 96,37 per barel. Warren Patterson, pakar komoditas dari bank ING, menyebut bahwa pasar kian mengetat setiap harinya karena minimnya kemajuan diplomatik.

Proyeksi Analis: Potensi Menuju USD 150

Ketidakpastian jalur distribusi di kawasan Teluk memaksa sejumlah lembaga keuangan raksasa merevisi prediksi mereka. Goldman Sachs telah menaikkan proyeksi rata-rata harga Brent menjadi USD 90 per barel pada kuartal keempat tahun ini. Penyesuaian ini terjadi karena produksi dan ekspor di kawasan tersebut diperkirakan membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali normal.

Bahkan, analisis dari Citigroup mengeluarkan peringatan yang lebih mengkhawatirkan. Jika gangguan pasokan akibat konflik bersenjata ini terus berlanjut hingga akhir Juni, harga Brent berpotensi melonjak hingga angka fantastis USD 150 per barel. Situasi di lapangan, seperti di ladang minyak Zubair, Irak, menunjukkan bahwa operasi produksi telah berkurang drastis akibat dampak perang yang meluas.

Kebuntuan Diplomasi dan Sikap Amerika Serikat

Meskipun Iran sempat mengajukan usulan baru untuk membuka kembali Selat Hormuz, titik terang belum juga terlihat. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, justru membatalkan rencana pengiriman utusan resminya untuk bernegosiasi. Melalui media sosial, Trump menegaskan bahwa pihak AS memegang kendali penuh atas situasi ini dan tidak merasa perlu melakukan perjalanan diplomatik yang sia-sia.

Di sisi lain, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan bahwa tidak ada agenda pertemuan yang direncanakan antara pihaknya dengan Amerika Serikat. Sikap kedua negara yang sama-sama keras membuat volatilitas harga minyak dunia hari ini sulit diredam dalam waktu singkat, sehingga masyarakat global perlu mengantisipasi dampak lanjutan terhadap harga bahan bakar di tingkat konsumen.

Sudut Pandang: Kebuntuan komunikasi antara dua kekuatan besar ini menjadi pengingat betapa rapuhnya stabilitas energi global. Tanpa solusi diplomatik yang konkret, beban ekonomi akibat mahalnya harga energi akan terus menghantui pasar hingga akhir tahun.