Tatakrama Salim yang Baik kepada Orang Tua, Begini Adab yang Sesuai Sunnah
- account_circle Firmansyah
- calendar_month 5 jam yang lalu
- visibility 7
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kebaruan. Tatakrama salim yang baik kepada orang tua merupakan salah satu wujud penghormatan yang sudah mengakar kuat dalam budaya masyarakat Indonesia. Kebiasaan mencium tangan orang tua ini bukan sekadar formalitas, melainkan simbol rasa hormat, kasih sayang, dan pengakuan atas jasa besar yang telah diberikan sejak kita lahir hingga dewasa.
Sayangnya, di tengah kesibukan hidup modern, banyak anak mulai melupakan adab sederhana ini. Padahal, salim kepada orang tua punya makna mendalam yang jauh melampaui gerakan fisik semata, terutama jika dilakukan dengan hati yang tulus dan penuh kesadaran.
Makna di Balik Tatakrama Salim kepada Orang Tua
Dalam tradisi Islam, mencium tangan orang tua termasuk bentuk penghormatan yang dianjurkan, sebagaimana banyak diriwayatkan dalam berbagai hadis mengenai adab kepada kedua orang tua. Gerakan ini melambangkan ketundukan seorang anak terhadap orang yang telah membesarkan dan mendidiknya dengan penuh pengorbanan.
Selain nilai religius, salim juga mengandung makna sosial yang kuat. Kebiasaan ini mengajarkan anak untuk selalu rendah hati, menghargai orang yang lebih tua, dan tidak bersikap sombong meski sudah memiliki pencapaian tertentu dalam hidupnya.
Cara Melakukan Salim yang Benar dan Sopan
Supaya tatakrama salim terasa bermakna, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat melakukannya:
- Gunakan tangan kanan — ambil tangan orang tua dengan lembut menggunakan tangan kanan sebagai bentuk adab yang baik.
- Dekatkan wajah dengan sopan — cium punggung tangan dengan posisi badan sedikit membungkuk, hindari gerakan terburu-buru.
- Sertai dengan ucapan salam — ucapkan salam atau doa singkat, seperti “Assalamualaikum” sebelum atau sesudah salim.
- Jaga kontak mata yang hangat — tatap wajah orang tua dengan senyum tulus, bukan sekadar formalitas belaka.
- Lakukan dengan konsisten — biasakan salim setiap kali bertemu atau berpisah, bukan hanya saat momen tertentu seperti Lebaran.
Kapan Waktu yang Tepat untuk Salim?
Banyak orang bertanya-tanya, sebenarnya kapan momen terbaik melakukan tatakrama salim kepada orang tua? Berikut beberapa situasi yang cocok untuk membiasakannya:
- Sebelum berangkat sekolah atau bekerja, sebagai bentuk permohonan restu dan doa.
- Saat pulang ke rumah, terutama setelah bepergian jauh atau lama tidak bertemu.
- Menjelang tidur malam, sebagai penutup hari yang penuh rasa syukur.
- Saat momen keagamaan, seperti Idul Fitri, Idul Adha, atau acara keluarga besar lainnya.
Mengajarkan Adab Salim Sejak Dini
Orang tua punya peran besar dalam menanamkan kebiasaan ini kepada anak sejak usia kecil. Semakin sering dicontohkan, semakin mudah pula anak menyerap nilai-nilai kesopanan tersebut secara alami, tanpa perlu paksaan berlebihan.
Beberapa tips yang bisa diterapkan orang tua di rumah:
- Jadikan contoh langsung, misalnya orang tua juga salim ke kakek-nenek di depan anak.
- Beri penjelasan sederhana, tentang alasan pentingnya menghormati orang yang lebih tua.
- Berikan apresiasi, seperti pujian ringan setiap kali anak melakukannya secara sadar.
- Jangan memaksa secara berlebihan, ajarkan dengan penuh kesabaran agar anak memahami nilainya, bukan sekadar rutinitas kosong.
Tatakrama salim yang baik kepada orang tua sejatinya bukan sekadar warisan budaya, melainkan cerminan karakter dan akhlak seorang anak. Kebiasaan kecil ini, jika dijaga dan diwariskan dengan konsisten, akan terus membentuk generasi yang santun dan menghargai jasa orang tuanya sepanjang hidup.
- Penulis: Firmansyah
