Kebaruan.com Kamu pernah mengikuti akun Influencer AI di Instagram karena tampilannya menarik, gayanya stylish, dan kontennya terasa relatable? Hati-hati — bisa jadi sosok itu tidak pernah benar-benar ada di dunia nyata.
Fenomena influencer berbasis kecerdasan buatan (AI) kini tumbuh pesat di berbagai platform media sosial. Wajahnya cantik, tubuhnya proporsional, aktif berolahraga, hadir di Paris Fashion Week, dan rajin mempromosikan produk — persis seperti influencer manusia pada umumnya. Namun di balik semua itu, mereka hanyalah karakter digital hasil rekayasa teknologi.
Merek Mulai Pakai Influencer AI untuk Jualan
Investigasi The Guardian pada 21 Juni 2026 mengungkap fakta yang cukup mengejutkan. Sejumlah perusahaan sudah menggunakan influencer AI dalam kampanye pemasaran mereka di media sosial — dan tidak selalu memberi tahu audiens bahwa figur yang tampil bukan manusia sungguhan.
Konten yang muncul pun dirancang menyerupai pengalaman pelanggan asli. Sekilas tampak seperti ulasan jujur dari pengguna nyata. Dua contoh yang ditemukan adalah promosi aplikasi foto Once dan aplikasi desain rumah Maket.
Perusahaan keamanan siber Reality Defenders menganalisis beberapa video tersebut dan menyimpulkan bahwa sejumlah sosok yang tampil kemungkinan besar merupakan karakter hasil generasi AI.
Maket sendiri mengakui pernah memanfaatkan influencer AI untuk menguji konsep kreatif dalam skala kecil.
“Influencer AI menjadi salah satu cara untuk menguji ide kreatif dan strategi pemasaran sebelum kami berinvestasi pada kampanye yang lebih besar,” kata pihak Maket.
Siapa Saja Influencer AI yang Paling Terkenal?
Beberapa nama sudah meraih jutaan pengikut di seluruh dunia — tanpa pernah benar-benar menghirup udara.
Aitana López adalah salah satu yang paling banyak diperbincangkan. Influencer virtual berambut merah muda ini memiliki ratusan ribu pengikut di Instagram dan rutin mengunggah konten gaya hidup, kecantikan, serta kebugaran. Penciptanya, Rubén Cruz, mengaku membuat Aitana karena kesulitan menemukan influencer manusia yang sesuai kebutuhan klien. Hasilnya? Aitana mampu menghasilkan lebih dari 11.000 dolar AS per bulan — dan pernah menerima pesan pribadi dari selebritas yang mengira ia nyata.
Granny Spills punya sekitar dua juta pengikut di Instagram. Karakter virtual yang digambarkan sebagai nenek berusia 80-an tahun ini terkenal lewat konten gaya hidup dan nasihat percintaan yang jenaka.
Ada juga Shudu Gram, sosok yang disebut sebagai supermodel digital pertama di dunia. Namanya pernah muncul dalam kampanye berbagai merek fesyen ternama kelas dunia.
Lebih Murah, Lebih Mudah Dikontrol
Pembuat influencer AI, Clarissa Mansbridge, menyebut daya tarik utama karakter virtual bagi merek adalah soal efisiensi biaya. Tidak perlu fotografer, tidak perlu model, tidak perlu menyewa lokasi pemotretan.
“Perusahaan menginginkan fotografi berkualitas tinggi, tetapi tidak ingin membayar puluhan ribu dolar untuk pemotretan tradisional,” ujarnya.
Selain lebih murah, influencer AI juga tidak punya masalah pribadi, tidak bisa tersandung skandal, dan tampilannya bisa diatur sesuai keinginan merek kapan saja.
Banyak Konsumen Masih Mudah Tertipu
Di sinilah masalah besarnya muncul. Editor Which? Tech, Lisa Barber, menegaskan bahwa mayoritas konsumen masih kesulitan membedakan konten asli dan hasil rekayasa AI.
Hingga saat ini, belum ada regulasi di Inggris yang mewajibkan perusahaan mengungkap penggunaan influencer AI dalam iklan mereka. Namun Uni Eropa berencana memberlakukan aturan baru mulai Agustus 2026 yang mewajibkan pelabelan untuk konten hasil AI atau manipulasi digital seperti deepfake.
Indonesia sendiri belum memiliki regulasi serupa. Artinya, sebagai konsumen, kamu perlu lebih waspada secara mandiri.
Cara Mengenali Influencer AI
Ada beberapa tanda yang bisa kamu perhatikan:
Pertama, pergerakan tubuh atau ekspresi wajah terasa terlalu sempurna dan kaku. Kedua, tidak ada konten live atau interaksi real-time yang autentik. Ketiga, latar belakang gambar terlihat terlalu mulus atau tidak konsisten. Keempat, tidak ada jejak digital di luar platform utama mereka.
Teknologi makin canggih, dan garis antara nyata dan virtual makin tipis. Saatnya kamu lebih kritis terhadap siapa yang kamu ikuti di media sosial.
