Solusi Sampah Bantar Gebang yang Sudah Menumpuk — Langkah Nyata yang Bisa Dilakukan

Kebaruan.com Siapa pun yang pernah melintas di sekitar Bekasi tahu betul bau menyengat yang datang dari arah Bantar Gebang. Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang bukan lagi sekadar tempat buang sampah — ini sudah jadi gunung sampah seluas lebih dari 110 hektare dengan ketinggian yang terus bertambah setiap harinya.

Jakarta membuang sekitar 7.000–8.000 ton sampah per hari ke lokasi ini. Kapasitasnya sudah lama terlampaui. Kalau tidak ada intervensi serius, Bantar Gebang bisa kolaps dalam hitungan tahun.

Akar masalahnya ada di mana?

Sebelum bicara solusi, penting untuk jujur soal penyebabnya. Masalah Bantar Gebang bukan hanya soal volume sampah — tapi soal sistem yang tidak berjalan.

  • Pemilahan sampah dari rumah tangga masih sangat minim
  • Infrastruktur pengolahan di hulu belum merata
  • Kesadaran masyarakat soal reduce dan reuse masih rendah
  • Anggaran pengelolaan sampah sering tidak sebanding dengan kebutuhan lapangan
  • Koordinasi antara Pemerintah DKI Jakarta dan Kota Bekasi kerap tidak sinkron

Selama akar masalah ini tidak disentuh, solusi apapun hanya akan bersifat tambal sulam.

Solusi Teknologi: Ubah Sampah Jadi Energi

Salah satu pendekatan paling menjanjikan adalah Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Teknologi ini membakar sampah pada suhu sangat tinggi untuk menghasilkan uap yang menggerakkan turbin listrik.

Jakarta sudah merencanakan PLTSa sejak lama, dan proyek di Bantar Gebang perlahan mulai berjalan. Kalau beroperasi penuh, PLTSa bisa memproses ribuan ton sampah per hari sekaligus menghasilkan listrik untuk ribuan rumah tangga.

Selain PLTSa, ada beberapa teknologi lain yang relevan:

  • Pengomposan skala besar — sampah organik yang mendominasi komposisi sampah Jakarta bisa diolah jadi kompos bernilai jual. Ini mengurangi volume sampah sekaligus menciptakan produk bermanfaat.
  • Refuse Derived Fuel (RDF) — sampah kering diolah menjadi bahan bakar alternatif untuk industri semen. Beberapa pabrik semen di Indonesia sudah mulai menerima RDF sebagai substitusi batu bara.
  • Biogas dari landfill — gas metana yang keluar dari timbunan sampah bisa ditangkap dan dikonversi menjadi energi. Bantar Gebang sudah punya instalasi biogas, meski kapasitasnya masih perlu dikembangkan.

Solusi dari Hulu: Kurangi Sebelum Sampai TPA

Teknologi pengolahan di hilir tidak akan cukup kalau sampah yang masuk terus bertambah. Solusi jangka panjang harus dimulai dari hulu — dari dapur dan tempat sampah di rumah tangga.

  1. Bank sampah terbukti efektif di banyak kota. Warga memilah sampah lalu menukarnya dengan nilai ekonomi. Model ini tidak hanya mengurangi volume sampah, tapi juga membangun kebiasaan baru di masyarakat.
  2. Extended Producer Responsibility (EPR) adalah kebijakan di mana produsen bertanggung jawab atas kemasan produknya hingga akhir masa pakai. Beberapa negara maju sudah lama menerapkan ini. Indonesia mulai mendorong regulasinya, tapi implementasinya butuh tekanan lebih kuat.
  3. Larangan kantong plastik sekali pakai yang konsisten juga membantu. DKI Jakarta sudah punya aturannya, tapi penegakan di lapangan masih belum merata.

Peran Pemerintah Daerah yang Tidak Bisa Absen

Solusi teknis apapun tidak akan jalan tanpa dukungan regulasi dan anggaran dari pemerintah. Beberapa langkah yang perlu segera diambil:

  • Percepat operasionalisasi PLTSa yang sudah direncanakan
  • Bangun fasilitas pengolahan sampah di setiap kecamatan agar tidak semua sampah dikirim ke Bantar Gebang
  • Perkuat insentif bagi warga dan komunitas yang aktif memilah sampah
  • Tingkatkan koordinasi lintas daerah antara DKI Jakarta, Bekasi, dan Bogor

Bantar Gebang adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya urusan Bekasi.

Apa yang bisa kita lakukan sekarang?

Masalah sebesar Bantar Gebang memang butuh solusi struktural. Tapi perubahan kecil di tingkat individu tetap punya dampak nyata:

  • Kurangi sampah plastik dari konsumsi harian
  • Pilah sampah organik dan anorganik di rumah
  • Dukung dan ikut program bank sampah di lingkungan sekitar
  • Hindari membeli produk dengan kemasan berlebihan

Setiap kilogram sampah yang tidak terbuang ke TPA adalah kontribusi nyata.

Penutup

Bantar Gebang bukan hanya masalah lingkungan — ini masalah tata kelola kota, kebijakan industri, dan kebiasaan jutaan orang setiap hari. Solusinya ada, teknologinya tersedia, dan regulasinya bisa dibuat. Yang paling dibutuhkan sekarang adalah kemauan untuk bergerak lebih cepat dari laju sampah yang terus berdatangan.

F
Firmansyah ✔ Jurnalis Terverifikasi

Jurnalis Kebaruan.com · Meliput isu ekonomi, politik, dan peristiwa terkini dengan integritas jurnalistik.

✎ Ditulis & ditinjau editor   |   ↻ Diperbarui 13 Juni 2026   |   Kebijakan editorial   Metodologi