Asap Karhutla Mulai Menjauh dari Jabodetabek, Ini Kata BMKG
- account_circle Firmansyah
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kebaruan. Citra satelit pada Jumat (16/10) menunjukkan asap karhutla masuk atmosfer Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi hanya sesaat. Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, menyebut asap itu tidak lama berada di sana dan tidak berdampak pada kualitas udara permukaan.
Pantauan Sabtu pukul 08.00, 10.00, dan 13.00 WIB memperlihatkan pergeseran bertahap. Angin yang melemah dan arah angin yang berubah mendorong asap menjauh. BMKG masih mendeteksi sisa sebaran di Pesisir Barat Banten, pada ketinggian 10.000 sampai 18.000 kaki atau sekitar 3 sampai 5,4 kilometer.
Kenapa asap karhutla bisa sampai Jawa
Sumbernya jauh. BMKG mencatat 478 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi pada 16 Oktober, dan Sumatera Selatan menyumbang yang terbanyak, yaitu 189 titik. Asap masih tersebar di sebagian besar Sumatera, Kalimantan, Sulawesi bagian tengah hingga selatan, Maluku, dan Papua.
Secara meteorologis, asap bisa menempuh ratusan kilometer bila aliran udara mengarah ke Laut Jawa. Ahli bencana Daryono mengingatkan bahwa jalurnya harus dibuktikan dengan data angin aktual.
Kualitas udara Jakarta: belum sepenuhnya baik
Di sinilah perlu ketelitian. Satelit mendeteksi asap di atmosfer, bukan polusi di permukaan tanah. BMKG menegaskan penurunan kualitas udara di Jakarta tidak otomatis berasal dari asap karhutla.
Meski begitu, angkanya tetap perlu dicermati. Pada Sabtu pukul 06.00, IQAir mencatat AQI 173 dengan PM2.5 87 mikrogram per meter kubik, kategori tidak sehat. Angka itu 17,4 kali nilai panduan tahunan WHO. Data resmi Pemprov DKI juga menunjukkan kondisi tidak merata. Pukul 07.00, Tanjung Priok mencatat ISPU 156 (tidak sehat), sedangkan Kalideres hanya 60.
Gubernur Pramono Anung mengakui udara Jakarta memburuk dalam dua sampai tiga hari terakhir. Ia memerintahkan Dinas Kesehatan bersiap membantu warga yang mengalami gangguan pernapasan.
Imbauan untuk warga
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengimbau warga waspada terhadap cuaca panas, udara kering, dan penurunan kualitas udara. Anak-anak, lansia, dan penderita gangguan pernapasan perlu lebih berhati-hati. BMKG menyarankan masker yang sesuai, cukup minum, dan membatasi aktivitas di luar ruangan.
BPBD DKI menyarankan masker N95 atau KN95 saat keluar rumah. Masker kain biasa kurang efektif menahan partikel halus PM2.5. Wakil Gubernur Rano Karno meminta warga tetap tenang dan tidak panik.
Yang perlu dipantau berikutnya
Titik panas masih menyala di banyak wilayah, jadi asap bisa kembali bergeser seiring perubahan angin. Pantau data kualitas udara di udara.jakarta.go.id atau aplikasi resmi BMKG, bukan hanya citra satelit.
Risiko kesehatan ditentukan oleh angka PM2.5 di tempat Anda berada. Jadi, periksa kondisi udara di lokasi sebelum beraktivitas di luar.
- Penulis: Firmansyah
