Persija dan Persib Sejarah Rivalitas yang Tak Kunjung Damai
- account_circle Firmansyah
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kebaruan. Persija dan Persib sulit damai karena rivalitasnya berputar dalam lingkaran dendam. Bentrokan, korban jiwa, dan pembatasan suporter silih berganti selama dua dekade. Bahkan pada derbi 12 September 2026, Bobotoh masih dilarang masuk SUGBK.
Awal mula: dari akrab jadi musuh
Para pelaku sejarah belum satu suara soal titik awalnya. Ketua Jakmania pada masa itu, Ferry Indrasjarief, mengaku hubungan kedua kelompok semula baik. Pada Liga Indonesia 2000, Viking berkoordinasi untuk datang ke Lebak Bulus dan disambut hangat. Kemudian rombongan lebih dari 1.000 Jakmania ke Bandung tidak bisa mendukung tim dan harus pulang. Beberapa kejadian lain menyusul.
Catatan lain memakai patokan berbeda. Laga 2002 di Stadion Siliwangi, yang berakhir 1-1, disebut sebagai awal rivalitas, dan pemain Persija pulang dengan kendaraan lapis baja. Sementara itu, sebuah kajian akademik menilai gesekan makin banyak seiring membesarnya Jakmania pada akhir 1990-an. Jadi, tanggal pasti dimulainya permusuhan memang belum disepakati.
Bentrok demi bentrok, janji damai yang rapuh
Setelah itu, kekerasan berulang. Pada 10 Juli 2010, Jakmania dan kelompok Viking bentrok saat Persija menjalani uji coba di Gunung Putri, Bogor. Tiga anggota Viking terluka parah. Empat tahun kemudian, pendukung kedua klub berjanji mengakhiri permusuhan lewat surat damai yang ditandatangani di markas kepolisian di Bogor.
Namun, janji itu tidak bertahan. Pada Juli 2017, konflik kembali memanas di GBLA, lalu Menpora mengundang kedua kelompok untuk membahas deklarasi damai. Peneliti pun menyebut komunitas yang bertetangga sangat rentan konflik. Jakarta dan Bandung memang berdekatan.
2018: kematian Haringga Sirla

Titik paling kelam terjadi pada 23 September 2018. Haringga Sirla, 23 tahun, pendukung Persija asal Cengkareng, tewas dikeroyok di area parkir GBLA Bandung sebelum laga Persib vs Persija. Ia disebut sebagai korban jiwa ketujuh dalam rivalitas kedua klub.
Komisi Disiplin PSSI lalu menjatuhkan sanksi. Komdis menyatakan oknum suporter terbukti mengintimidasi ofisial Persija saat pertemuan teknis, melakukan sweeping, pengeroyokan, dan pemukulan. Para pengeroyok dilarang menonton sepak bola di seluruh Indonesia seumur hidup, dan ketua panpel Persib dilarang terlibat selama dua tahun. Selain itu, suporter Persib dilarang menonton laga langsung hingga pertengahan musim 2019. Rabu 03 Oct 2018 05:23 WIB +2
Proses pidananya berjalan terpisah. Pada November 2018, satu dari lima terdakwa di bawah umur divonis bebas, sedangkan empat lainnya dihukum tiga sampai empat tahun penjara. Kemudian, jaksa menuntut tujuh terdakwa lain dengan hukuman tujuh hingga 11,5 tahun.
Mengapa permusuhan Persija dan Persib terus berulang?
Pertama, kekerasan memancing balasan. Lembaga Save Our Soccer mencatat 69 suporter tewas sejak 1995 hingga 2018, dan 36 kasus di antaranya akibat pengeroyokan oleh suporter lawan.
Kedua, akar konfliknya berlapis. Kajian akademik menyebut sejarah perselisihan, tindakan provokatif, pembatasan aktivitas, dan stigma sebagai biang onar ikut memeliharanya.
Ketiga, kedua kubu jarang bertemu. Ferry menggambarkan permusuhan ini seperti koreng yang harus dibiarkan kering. Menurutnya, caranya dengan tidak saling bertemu dulu, dan perdamaian jangan terlalu didesak. Akibatnya, larangan suporter tamu menjaga keamanan sekaligus menunda pertemuan yang bisa mencairkan suasana.
Kondisi terbaru: derbi tanpa suporter tamu
Pola itu masih berlaku pada 2026. Menjelang laga di Bandung, polisi mengimbau Jakmania tidak datang ke GBLA pada 11 Januari. Pada 10 Mei, derbi digelar di Samarinda, Kalimantan Timur, dan Viking berkomitmen tidak hadir karena berstatus tim tamu.
Lalu, pada 12 September, Persija menjamu Persib di Jakarta untuk pertama kali dalam tujuh tahun. Operator liga sudah mencabut aturan umum larangan suporter tandang, tetapi Bobotoh tetap dilarang hadir. Sebanyak 17.800 personel gabungan mengamankan laga itu. Selain itu, rencana menghadirkan perwakilan Bobotoh sebagai simbol damai dibatalkan.
Hasilnya, Persija menang 2-1, dan Polda Metro Jaya menyebut pengamanan berjalan tertib. Adapun upaya damai kini berpindah ke luar lapangan. PSSI menyiapkan agenda “ngopi bareng” untuk mempertemukan Jakmania dan Bobotoh di luar pertandingan. Namun, selama kedua suporter belum duduk di tribun yang sama, damai masih sebatas rencana.
- Penulis: Firmansyah
