Kesultan Brunei Cabut Gelar Menantu, Ini Sosok Pengiran Raabi’atul

Kebaruan.com Kabar mengejutkan datang dari Kesultanan Brunei Darussalam. Sultan Hassanal Bolkiah resmi mencabut gelar kerajaan milik menantu perempuannya, Pengiran Raabi’atul Adawiyyah Pengiran Haji Bolkiah. Banyak pihak mengaitkan keputusan ini dengan perilaku yang mereka nilai tidak pantas, meski pihak kerajaan belum membuka detail lengkapnya.

Kronologi Pencabutan Gelar

Kantor Kepala Protokol Kerajaan mengumumkan keputusan ini pada 8 Agustus lalu, seperti dilansir New Straits Times pada Senin (10/8/2026). Sultan mencabut gelar “Yang Amat Mulia Pengiran Anak Isteri” dari Pengiran Raabi’atul. Gelar kehormatan ini sebelumnya melekat padanya selaku istri Pangeran Abdul Malik, putra kedua Sultan Bolkiah.

Pelaksana Tugas Kepala Protokol Kerajaan, Pengiran Haji Raffizana Pengiran Haji Razali, menjelaskan bahwa keputusan ini merupakan titah langsung Sultan Bolkiah. Aturan barunya berlaku efektif segera setelah pihak protokol mengeluarkan pengumuman resmi, tanpa masa transisi.

Pihak protokol kerajaan sengaja tidak merinci alasan di balik pencabutan gelar tersebut dalam pernyataan resminya.

Isu Perilaku Jadi Sorotan

Media lokal Brunei, RTB News, melaporkan versi lain dari balik layar keputusan ini. Menurut laporan tersebut, pencabutan gelar berkaitan dengan perilaku Pengiran Raabi’atul yang dinilai tidak pantas untuk seorang istri anggota keluarga Kesultanan Brunei. RTB News bahkan menyebut perilaku itu mencoreng nama baik kerajaan sekaligus menunjukkan kurangnya rasa hormat kepada Sultan Bolkiah.

Sayangnya, tidak ada keterangan tambahan soal bentuk perilaku yang dimaksud. Publik pun masih menerka-nerka apa sebenarnya yang terjadi di balik keputusan mendadak ini.

Mengenal Sosok Pengiran Raabi’atul Adawiyyah

Terlepas dari kontroversi yang menyelimutinya, latar belakang Pengiran Raabi’atul sebenarnya cukup menarik untuk ditelusuri. Ia lahir pada 27 Oktober 1992 sebagai anak kedua dari sepuluh bersaudara, putri dari bangsawan Brunei Pengiran Haji Bolkiah dan Pengiran Hajah Noor’aismah.

Jejak pendidikannya terbilang mentereng sejak usia dini. Raabi’atul mulai bersekolah di Al-Falaah School pada 1997 saat baru berusia enam tahun, lalu melanjutkan pendidikan di Rimba I Primary School, Menglait Secondary School, hingga Rimba Secondary School.

Selepas lulus sekolah, karier profesionalnya sempat menyentuh dunia teknologi informasi. Pada 2012, Raabi’atul bergabung dengan BAG Networks sebagai System Data Analyst, sebelum pindah ke HAD Technologies setahun berikutnya sebagai IT Instructor. Minatnya pada bidang ICT terlihat jelas dari deretan sertifikat yang ia kantongi, mulai dari Internet and Computing Core Certification sampai Microsoft Office Specialist, ditambah keikutsertaannya dalam ICT Youth Development Programme selama 2012-2013.

Selain aktif di dunia teknologi, Raabi’atul juga punya sisi religius yang menonjol. Semasa remaja, ia kerap mewakili sekolahnya dalam berbagai kompetisi membaca Al-Qur’an, termasuk lomba tilawah pada 2005 dan kompetisi Skim Tilawah Al-Qur’an Remaja pada 2008.

Kehidupan Raabi’atul berubah drastis setelah menikah dengan Pangeran Abdul Malik pada April 2015. Pernikahan keduanya membuahkan empat orang anak, sebelum akhirnya Sultan mencabut gelar kerajaannya sembilan tahun kemudian.

Belum Ada Penjelasan Resmi Lanjutan

Hingga saat artikel ini terbit, pihak Kesultanan Brunei belum memberikan klarifikasi tambahan soal insiden ini. Publik di Brunei maupun kawasan Asia Tenggara masih menunggu kejelasan lebih lanjut, mengingat kasus pencabutan gelar kerajaan semacam ini terbilang jarang terjadi.