Kebaruan.com Tidak banyak negara berani menurunkan Harga BBM Solar saat harga minyak global sedang naik. Malaysia justru melakukannya. Mulai 1 Juli 2026, harga solar di Malaysia turun menjadi RM2,10 per liter — setara sekitar Rp9.150 berdasarkan kurs Rp4.359 per ringgit. Kebijakan ini berlaku secara nasional, tapi dengan sejumlah ketentuan yang tidak bisa diabaikan.
Dua Harga Lama yang Jadi Masalah
Sebelum kebijakan baru ini muncul, Malaysia menerapkan dua tarif solar yang berbeda:
- RM2,15 per liter — berlaku di Sabah dan Sarawak (Malaysia Timur), dengan subsidi penuh
- RM4,07 per liter — berlaku di Semenanjung Malaysia, tanpa subsidi
Kesenjangan harga yang terlampau jauh ini menciptakan celah besar. Solar bersubsidi dari Sabah dan Sarawak kerap bocor — bahkan diselundupkan melewati perbatasan antarnegara bagian untuk dijual di wilayah yang harganya jauh lebih tinggi.
Pemerintah akhirnya memutuskan menutup celah itu dengan satu tarif baru yang berlaku merata.
Siapa yang berhak dapat harga baru ini?
Penurunan harga ini bukan untuk semua orang. Pemerintah Malaysia menetapkan syarat ketat:
- Hanya warga negara Malaysia yang memenuhi kriteria tertentu
- Verifikasi identitas melalui kartu identitas nasional
- Pembelian solar dibatasi maksimal 200 liter per bulan
Wakil Menteri Keuangan Amir Hamzah Azizan dijadwalkan mengumumkan rincian teknis lebih lanjut pada hari Senin. Artinya, skema implementasinya masih dalam finalisasi saat berita ini beredar.
Anggaran Subsidi Melonjak Empat Kali Lipat
Di balik kebijakan yang terkesan populis ini, ada beban fiskal yang sangat berat. Anggaran subsidi solar Malaysia melonjak lebih dari empat kali lipat — dari RM700 juta per bulan menjadi sekitar RM3,2 miliar per bulan.
Pemicunya adalah kenaikan harga minyak mentah global yang dipicu meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah, khususnya konflik yang melibatkan Iran.
Bagi pemerintah Malaysia, ini pertaruhan besar. Mereka memilih menanggung beban subsidi demi meredam dampak ke masyarakat, meski risikonya terhadap defisit anggaran sangat nyata.
Petronas Ekspansi ke Turkmenistan
Terpisah dari kebijakan subsidi domestik, ada kabar ekspansi besar dari Petronas — perusahaan energi nasional Malaysia.
Petronas menandatangani beberapa perjanjian baru di Turkmenistan, termasuk kolaborasi dengan dua perusahaan negara: Turkmennebit dan Hazarnebit. Langkah ini memperkuat posisi Petronas di Laut Kaspia sekaligus memperluas portofolio hulu mereka di Asia Tengah.
PM Anwar Ibrahim menyebut kesepakatan ini membuka akses Malaysia ke salah satu cadangan gas terbesar di dunia. Potensinya mencakup peningkatan ekspor gas ke mitra strategis seperti China, Jepang, dan Korea Selatan.
Rusia Juga Masuk: Pasokan 20 Tahun
Satu lagi kabar besar dari front energi Malaysia. Rusia telah menjamin Malaysia dengan perjanjian pasokan jangka panjang — mencakup minyak, gas, dan diesel selama minimal 20 tahun.
Anwar Ibrahim membenarkan hal ini tapi tidak merinci lebih jauh soal volumenya maupun skema harganya. Yang jelas, Malaysia sedang membangun fondasi ketahanan energi dari berbagai arah sekaligus.
Apa Artinya Ini bagi Kawasan?
Malaysia kini bergerak di dua jalur bersamaan: menstabilkan harga energi domestik lewat subsidi terstruktur, sekaligus mengamankan pasokan energi jangka panjang dari luar negeri.
Bagi Indonesia, langkah ini patut dicermati. Sebagian besar pasokan BBM Indonesia justru berasal dari Malaysia dan Singapura. Kalau Malaysia semakin mandiri secara energi dan mengurangi ekspor ke kawasan, dinamika Harga BBM Solar di Asia Tenggara bisa berubah.
