Kebaruan.com Setelah nyaris tiga dekade tertunda, proyek gas Blok Masela akhirnya memasuki tahap konstruksi. Presiden Prabowo Subianto meresmikan peletakan batu pertama atau groundbreaking Lapangan Abadi, Blok Masela, pada Kamis (16/7/2026). Peresmian ini berlangsung lewat video conference dari Istana Merdeka, Jakarta, karena agenda kenegaraan lain tidak memungkinkan Presiden hadir langsung ke lokasi di Kepulauan Tanimbar, Maluku.
Dalam pidatonya, Prabowo sempat meminta maaf karena tidak bisa hadir secara fisik. Ia menyampaikan hal itu tanpa mengurangi rasa hormat kepada seluruh pihak yang telah menunggu proyek ini bertahun-tahun. Meski begitu, momen ini tetap terasa istimewa. Wajar saja, proyek yang mangkrak hampir 28 tahun akhirnya menemukan titik terang.
Siapa Saja yang Hadir?
Sejumlah pejabat penting hadir langsung di lokasi acara. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memimpin rombongan bersama Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, Kepala KSP Dudung Abdurachman, dan Kepala SKK Migas Djoko Siswanto. Bupati Kepulauan Tanimbar, Ricky Jauwerissa, turut menyambut para tamu di daerahnya sendiri.
CEO Inpex Corporation, Takayuki Ueda, juga menyaksikan momen bersejarah ini. Ia bahkan memberikan laporan perkembangan proyek secara langsung, mengingat Inpex berperan sebagai operator utama sekaligus pemegang participating interest (PI) terbesar di Blok Masela, yakni 65%. Dua mitra lainnya, PT Pertamina Hulu Energi Masela dan Petronas Masela Sdn. Bhd., masing-masing memegang 20% dan 15% PI.
Cadangan Gas Terbesar di Laut Arafura
Lapangan Abadi bukan sembarang ladang gas. Lokasinya berada sekitar 160 kilometer lepas pantai Pulau Yamdena, di kedalaman laut 400-800 meter, dengan potensi cadangan mencapai 6,97 triliun kaki kubik (TCF). Angka ini menjadikan Masela sebagai lapangan gas laut dalam dengan cadangan terbesar yang pernah ditemukan di Indonesia.
Cerita panjang proyek ini bermula dari penandatanganan kontrak bagi hasil pada 1998, di era Presiden BJ Habibie. Inpex baru menemukan cadangan gas jumbo tersebut dua tahun kemudian, tepatnya pada 2000. Sayangnya, perjalanan menuju produksi tidak berjalan mulus. Perubahan skema kilang dari lepas pantai menjadi di darat, ditambah keputusan Shell mundur dari proyek pada 2019, membuat rencana pengembangan molor bertahun-tahun dari target awal.
Barulah setelah hak partisipasi Shell beralih ke Pertamina dan Petronas pada 2023, pemerintah menyetujui revisi Rencana Pengembangan (PoD-I) proyek ini. Sejak itu, langkah menuju konstruksi mulai terlihat nyata.
Target Produksi dan Nilai Investasi
Nilai investasi proyek ini diperkirakan mencapai US$20-22 miliar, atau setara Rp300-355 triliun tergantung asumsi kurs yang dipakai. Setelah beroperasi nanti, Lapangan Abadi ditargetkan memproduksi 9,5 juta ton LNG per tahun. Angka itu setara lebih dari 10% kebutuhan impor LNG tahunan Jepang.
Selain LNG, kilang ini juga akan menghasilkan 150 juta standar kaki kubik gas pipa per hari dan 35.000 barel kondensat per hari. Progres front end engineering design (FEED) proyek sudah mencapai 79,56% hingga awal Juli 2026, bahkan melampaui target yang direncanakan. Pemerintah menargetkan keputusan investasi final atau final investment decision (FID) rampung pada akhir tahun ini, dengan produksi pertama diharapkan mulai berjalan pada 2029-2030.
Menariknya, Lapangan Abadi Masela juga akan menjadi proyek LNG pertama di Indonesia yang mengintegrasikan teknologi carbon capture and storage (CCS) sejak tahap pengembangan awal. Langkah ini sejalan dengan komitmen pemerintah mendorong transisi energi yang lebih ramah lingkungan.
Dampak bagi Maluku dan Ekonomi Nasional
Bagi masyarakat Kepulauan Tanimbar, proyek ini membawa harapan besar. Selama ini, warga setempat mengandalkan sektor perikanan, kelapa, dan sagu untuk menopang perekonomian mereka. Biaya logistik yang tinggi juga membuat harga kebutuhan pokok relatif mahal di kawasan tersebut.
Kehadiran Blok Masela diperkirakan membuka sekitar 12.000 lapangan kerja langsung selama masa konstruksi. Pemerintah juga berharap proyek ini mendorong pertumbuhan industri pendukung, memperluas peluang usaha UMKM, dan mempercepat pembangunan infrastruktur dasar seperti jalan, pelabuhan, listrik, dan telekomunikasi di kawasan timur Indonesia.
Kajian dari LPEM FEB UI bahkan memperkirakan kontribusi proyek ini terhadap Produk Domestik Bruto nasional bisa mencapai US$137,7 miliar dalam jangka panjang. Angka yang cukup besar untuk satu proyek migas.
Catatan Akhir
Groundbreaking Blok Masela menandai babak baru bagi sektor migas Indonesia. Setelah bertahun-tahun terkatung-katung akibat perubahan skema dan pergantian mitra, proyek strategis nasional ini akhirnya melangkah ke tahap konstruksi. Tentu, perjalanan menuju produksi pada 2029-2030 masih panjang. Namun, langkah hari ini menjadi bukti bahwa komitmen pemerintah dan Inpex terhadap proyek ini semakin serius.
