PSG Cetak Sejarah, Sejajar dengan Ajax, Milan, dan Madrid di Piala Super Eropa

Paris Saint-Germain baru saja menorehkan catatan langka di Eropa. Tim asuhan Luis Enrique mempertahankan gelar Piala Super Eropa. Mereka menang tipis 2-1 atas Aston Villa di Red Bull Arena, Salzburg, Kamis (13/8/2026) dini hari WIB. Hasil ini mengulang pencapaian musim lalu, ketika PSG naik podium usai menyingkirkan Tottenham Hotspur lewat drama adu penalti.

Duel di Salzburg berlangsung ketat sejak menit awal. Khvicha Kvaratskhelia membuka keunggulan PSG pada menit ke-20. Ia melepaskan sepakan melengkung yang tak mampu dihalau kiper Aston Villa, Marco Bizot. Villa menyamakan kedudukan menjelang turun minum lewat Brian Madjo, pemain berusia 17 tahun. Ia sekaligus mencetak sejarah sebagai pencetak gol termuda di ajang ini. Skor bertahan 1-1 hingga jeda.

Babak kedua jadi milik PSG. Desire Doue tampil sebagai penentu lewat golnya di menit ke-62. Wasit sempat menganulir gol itu karena offside, sebelum akhirnya mengesahkannya lewat pemeriksaan VAR. Aston Villa mencoba bangkit lewat beberapa peluang di sisa waktu. Sundulan Emiliano Buendia bahkan melebar tipis di masa injury time. Skor 2-1 tetap bertahan sampai peluit panjang.

Bukan Tim Ketiga, Melainkan Keempat

Ada satu catatan penting yang perlu diluruskan soal pencapaian ini. Banyak yang menyebut PSG sebagai tim ketiga yang mampu back-to-back di Piala Super Eropa. Padahal sejarah mencatat satu nama lagi sebelum AC Milan dan Real Madrid, yaitu Ajax Amsterdam. Klub asal Belanda itu lebih dulu melakukannya pada 1972 dan 1973. Dengan begitu, PSG sebenarnya menjadi klub keempat yang mempertahankan trofi ini secara beruntun, bukan ketiga.

Jejak AC Milan sebagai Perintis Era Modern

AC Milan tetap dikenang sebagai perintis di era yang lebih dikenal publik luas. Mereka melakukannya pada 1989 dan 1990, ketika format pertandingan masih dua leg. Milan menahan imbang Barcelona 1-1 di Camp Nou. Mereka lalu menang 1-0 di leg kedua dan mengunci trofi lewat agregat 2-1.

Setahun berikutnya, giliran Sampdoria jadi korban. Milan bermain imbang 1-1 di leg pertama. Mereka tampil dominan di leg kedua dengan kemenangan 2-0, hingga unggul agregat 3-1. Skuad besutan Arrigo Sacchi kala itu sedang berada di puncak performa, tak lama setelah membawa Milan menjuarai Piala Champions dua musim beruntun.

Real Madrid Susul Lewat Drama Menit Akhir

Real Madrid menyusul jejak Milan pada 2016 dan 2017, meski dengan cerita yang berbeda satu sama lain. Pada 2016, Madrid nyaris tersingkir oleh Sevilla setelah tertinggal di waktu normal. Sergio Ramos menyelamatkan Madrid lewat gol penyama di masa tambahan waktu. Dani Carvajal lalu mengunci kemenangan 3-2 di babak extra time.

Setahun kemudian, giliran Manchester United yang dihadapi Madrid di Skopje. Casemiro dan Isco sempat membawa Los Blancos unggul 2-0. Romelu Lukaku memperkecil ketertinggalan, tapi Madrid tetap menang 2-1. Gelar ini melengkapi dominasi Eropa Madrid di pertengahan dekade 2010-an, yang juga diwarnai gelar Piala Super Eropa 2014.

PSG Melengkapi Barisan Elite

Perjalanan PSG menuju status back-to-back dimulai musim lalu, tepatnya pada 2025 saat mereka menghadapi Tottenham Hotspur di Udine. Mereka sempat tertinggal 0-2. Les Parisiens bangkit menyamakan kedudukan 2-2, sebelum akhirnya menang lewat drama adu penalti 4-3.

Musim ini giliran Aston Villa yang harus mengakui keunggulan PSG. Kemenangan 2-1 di Salzburg membuat PSG resmi bergabung dengan Ajax, AC Milan, dan Real Madrid. Mereka kini jadi bagian dari klub elite yang sukses mempertahankan Piala Super Eropa dua musim berturut-turut. Bagi Luis Enrique, ini menjadi gelar Piala Super Eropa ketiga sepanjang kariernya sebagai pelatih.

Daftar Klub yang Sukses Back-to-Back di Piala Super Eropa

Klub Tahun Lawan
Ajax Amsterdam 1972, 1973
AC Milan 1989, 1990 Barcelona, Sampdoria
Real Madrid 2016, 2017 Sevilla, Manchester United
PSG 2025, 2026 Tottenham Hotspur, Aston Villa

Torehan ini menambah koleksi trofi Eropa PSG musim ini. Sebelumnya mereka juga mengangkat trofi Liga Champions 2025/2026. Sementara itu, kekalahan ini memperpanjang rekor buruk pelatih Aston Villa, Unai Emery. Ia belum sekali pun membawa timnya juara dalam empat kali kesempatan tampil di ajang ini.

F
Firmansyah ✔ Jurnalis Terverifikasi

Jurnalis Kebaruan.com · Meliput isu ekonomi, politik, dan peristiwa terkini dengan integritas jurnalistik.

✎ Ditulis & ditinjau editor   |   ↻ Diperbarui 13 Juni 2026   |   Kebijakan editorial   Metodologi