Kebaruan.com PT Kereta Api Indonesia (Persero) resmi memulai groundbreaking rumah rusun subsidi Manggarai pada Jumat, 21 Agustus 2026. Proyek ini menyasar masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di Jakarta Selatan. Lokasinya menempel langsung ke Stasiun Manggarai, jadi akses transportasi jadi nilai tambah besar buat calon penghuni.
Empat Tipe Unit, Satu Kawasan
Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, menjelaskan bahwa timnya menyiapkan empat pilihan unit. Tujuannya, calon penghuni bisa menyesuaikan hunian dengan kebutuhan keluarga masing-masing. Pilihannya mencakup studio 28 meter persegi, tipe 36 dengan dua kamar tidur, tipe 45 dengan dua kamar tidur, dan tipe 52 dengan tiga kamar tidur.
Tipe 52 hanya ada di Blok F. Unit ini jadi pilihan paling luas dari semua tipe yang tersedia. Keluarga besar bisa mengincar tipe ini. Sementara itu, pasangan muda atau penghuni lajang mungkin lebih cocok dengan unit studio yang ringkas dan terjangkau.
Siapa yang Berhak Membeli?
Tidak semua orang bisa langsung membeli unit di rumah rusun subsidi Manggarai. Pemerintah mengatur kriteria MBR lewat Peraturan Menteri PKP Nomor 5 Tahun 2025. Aturan ini membagi wilayah Indonesia ke dalam empat zona penghasilan. Jakarta dan sekitarnya termasuk zona 4, zona dengan batas penghasilan tertinggi karena biaya hidup di ibu kota memang lebih mahal.
Calon pembeli yang belum menikah punya batas penghasilan maksimal Rp12 juta per bulan. Yang sudah berkeluarga, batasnya naik jadi Rp14 juta. Peserta Tapera juga mengikuti angka yang sama. Badan Pusat Statistik turut menyusun angka ini karena kondisi ekonomi tiap daerah berbeda-beda.
Skala Proyek yang Cukup Besar
KAI akan membangun total 3.784 unit di delapan menara setinggi 24 lantai. Blok G menampung tiga tower dengan kapasitas 1.276 unit. Blok F yang lebih luas memuat lima tower dengan total 2.508 unit.
Di Blok G, Tower A punya 352 unit, Tower B punya 418 unit, dan Tower C punya 506 unit sebagai yang terbesar. Di Blok F, Tower 1 dan Tower 2 sama-sama menyediakan 572 unit. Tower 3 menyusul dengan 528 unit. Tower 4 menyediakan 308 unit sebagai yang terkecil. Tower 5 kembali menyediakan 528 unit.
Kawasan ini juga punya 150 unit ritel sebagai fasilitas pendukung. Penghuni jadi tidak perlu jauh-jauh keluar kawasan untuk belanja kebutuhan sehari-hari.
Dibangun di Atas Lahan Milik KAI
Proyek ini berdiri di lahan seluas 2,2 hektare berstatus Hak Pengelolaan (HPL) milik KAI. Karena KAI tetap memegang lahan ini, konsep bangunan vertikal jadi pilihan utama. Konsep ini memaksimalkan pemanfaatan ruang di kawasan strategis tersebut.
KAI menargetkan seluruh pembangunan rampung dalam 18 bulan sejak groundbreaking. Rancangan awal proyek sebenarnya hanya mencakup tipe 45 dan 52. Tim pengembang lalu menambah dua tipe lain agar variasi unit lebih sesuai kebutuhan calon penghuni.
Warga Jabodetabek yang memenuhi syarat penghasilan dan mencari hunian dekat stasiun bisa memantau perkembangan proyek ini hingga serah terima unit nanti.
