Harga Minyak Hari Ini Melonjak, Konflik Iran-AS Jadi Pemicu Utama
- account_circle firmansyah
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 3
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kebaruan.com Harga minyak dunia hari ini terus menanjak, melanjutkan tren kenaikan tajam sejak awal pekan. West Texas Intermediate (WTI) bergerak di kisaran USD91 per barel, naik hampir 9 persen dalam tiga sesi perdagangan terakhir. Brent crude, patokan harga minyak internasional, sempat menembus level USD96 per barel. Harga kemudian turun tipis dan berakhir sedikit di bawah angka itu pada perdagangan Rabu waktu setempat.
Lonjakan harga minyak kali ini berakar dari eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran di sekitar Selat Hormuz. Jalur pelayaran ini mengangkut sebagian besar pasokan minyak dunia. Militer AS melancarkan serangan baru terhadap sejumlah target Iran, sebagai balasan atas upaya Teheran menanam ranjau di jalur pelayaran tersebut. Iran pun mengklaim telah membalas dengan menyasar sejumlah pangkalan militer AS di kawasan, termasuk di Yordania.
Kenapa Selat Hormuz Jadi Kunci Pergerakan Harga Minyak
Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia, dan sekitar seperlima pasokan minyak dunia melintasi jalur sempit ini setiap hari. Sebelum konflik memanas, sekitar 20 juta barel minyak mentah dan produk turunannya melintasi selat tersebut setiap hari. Menteri Energi AS Chris Wright menyebut, 17 juta barel minyak masih berhasil melintasi Hormuz pada Senin lalu. Trafik kapal tanker sendiri turun signifikan di bawah rata-rata sepuluh hari terakhir.
Investor pasar komoditas kini mencermati dua hal sekaligus: risiko gangguan pasokan akibat konflik bersenjata. Mereka juga memperhatikan tanda-tanda bahwa aliran minyak sebenarnya masih berjalan meski tidak normal. Ketegangan ini membuat harga minyak dunia bergerak fluktuatif, kadang melonjak tajam dalam hitungan jam, lalu terkoreksi begitu muncul kabar de-eskalasi.
Dampak Kenaikan Harga Minyak bagi Pasar Global
Kenaikan harga minyak akibat konflik Timur Tengah biasanya merembet ke berbagai sektor. Dampaknya mencakup biaya logistik, harga bahan bakar eceran, sampai inflasi di negara-negara importir minyak. Brent crude sendiri sudah naik lebih dari 13 persen dalam sebulan terakhir, dan melonjak sekitar 40 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Presiden AS Donald Trump menyampaikan sinyal bahwa kampanye militer AS terhadap Iran kemungkinan tidak berlangsung lama. Ia juga menegaskan kesiapan melancarkan operasi tambahan jika diperlukan. Pernyataan semacam ini turut memengaruhi sentimen pasar, karena pelaku pasar cenderung bereaksi cepat terhadap setiap sinyal soal durasi konflik.
Yang Perlu Diperhatikan Pelaku Pasar dan Konsumen
Fluktuasi harga minyak dunia yang tinggi seperti sekarang membuat proyeksi harga jangka pendek jadi tidak mudah. Pelaku usaha yang bergantung pada bahan bakar sebaiknya memantau perkembangan konflik secara berkala, sebab situasi geopolitik bisa berubah dalam hitungan jam. Konsumen di dalam negeri juga perlu bersiap terhadap kemungkinan penyesuaian harga BBM. Harga minyak mentah dunia memang jadi salah satu komponen utama penentu harga bahan bakar domestik.
Ingat, angka harga minyak di atas bersifat dinamis dan bisa berubah kapan saja mengikuti pergerakan pasar serta perkembangan situasi di Timur Tengah. Selalu cek sumber data pasar terkini sebelum mengambil keputusan bisnis atau investasi terkait komoditas ini.
- Penulis: firmansyah
