Kanker Esofagus Mengintai di Balik Kebiasaan Minum Terlalu Panas
- account_circle Firmansyah
- calendar_month 8 jam yang lalu
- visibility 7
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kebaruan. Kanker esofagus jadi ancaman kesehatan yang jarang disadari banyak orang. Pemicunya ternyata bisa berasal dari kebiasaan sehari-hari yang terlihat sepele. Salah satunya adalah kebiasaan menyeruput teh atau kopi selagi masih mengepul panas. IARC, badan riset kanker di bawah naungan WHO, mengklasifikasikan minuman bersuhu di atas 65 derajat Celsius sebagai zat yang mungkin bersifat karsinogenik. Kategori ini masuk dalam Grup 2A.
Suhu, Bukan Jenis Minuman, Jadi Biang Masalah
Banyak orang mengira kopi atau teh sendiri yang berbahaya. Faktanya tidak demikian. Para peneliti menemukan hubungan paling jelas justru pada kanker esofagus. Suhu minuman, bukan jenisnya, menjadi faktor risiko utama. Riset di berbagai belahan dunia memperkuat temuan ini. Sebagian besar bukti awal muncul dari kebiasaan mengonsumsi maté di Amerika Selatan. Masyarakat di sana biasa meminum maté pada suhu sekitar 70 derajat Celsius. Studi menunjukkan konsumsi maté panas dalam jumlah besar meningkatkan risiko kanker esofagus. Peneliti menemukan pola serupa di Timur Tengah, Afrika, dan Asia. Kebiasaan minum teh atau kopi panas memang sudah mengakar dalam budaya masyarakat di kawasan tersebut.
Bagaimana Suhu Panas Merusak Esofagus
Secara medis, mekanismenya cukup masuk akal. Minuman bersuhu sangat tinggi bisa melukai sel-sel pelapis esofagus. Jika cedera ini terjadi berulang dalam jangka panjang, proses perbaikan sel yang terus-menerus bisa memicu perubahan sel menjadi ganas. Eksperimen laboratorium turut mendukung dugaan ini. Peneliti pada 2016 memberi tikus air panas bersuhu 70 derajat Celsius. Tikus tersebut mengalami pertumbuhan pra-kanker di esofagus lebih cepat dibandingkan tikus yang minum air bersuhu lebih rendah.
Efek jangka panjang lainnya bahkan lebih mengkhawatirkan. Panas berlebih diduga melemahkan penghalang alami esofagus. Kondisi ini membuat organ tersebut lebih rentan terhadap paparan asam lambung kronis, salah satu faktor risiko kanker esofagus. Selain suhu, faktor lain juga ikut berperan. Jumlah minuman dalam sekali teguk dan kecepatan minum sama-sama memengaruhi tingkat risiko.
Riset skala besar di Inggris turut memperkuat kekhawatiran ini. Tim peneliti mengamati hampir setengah juta orang dewasa dan menemukan kaitan jelas antara konsumsi teh atau kopi sangat panas dengan kanker esofagus. Orang yang minum delapan cangkir atau lebih per hari memiliki risiko hampir enam kali lipat. Bandingkan dengan mereka yang jarang mengonsumsi minuman panas.
Langkah Sederhana Menurunkan Risiko
Kabar baiknya, pencegahan kanker esofagus akibat suhu minuman terbilang mudah. Para pakar kesehatan menyarankan agar setiap orang mendiamkan minuman beberapa menit sebelum meminumnya. Cukup diamkan makanan atau minuman selama 5-10 menit hingga uap panasnya berkurang. Setelah itu, baru konsumsi ketika suhunya sudah turun ke level aman. Bagi yang ingin lebih presisi, gunakan termometer masak untuk memastikan suhu minuman sudah di bawah ambang batas berisiko.
Kebiasaan kecil seperti menunggu minuman agak dingin ternyata bisa berdampak besar bagi kesehatan kerongkongan dalam jangka panjang. Kanker esofagus kerap tidak menunjukkan gejala di tahap awal. Karena itu, langkah pencegahan semacam ini jauh lebih murah dan mudah dibandingkan menghadapi risikonya di kemudian hari.
- Penulis: Firmansyah
