Demo di 7 Negara Eropa: Prancis Rusuh, Ini Tuntutan Tiap Negara
- account_circle Firmansyah
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 52
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kebaruan. Tujuh negara Eropa sedang diguncang demo dalam sepekan terakhir: Prancis, Italia, Albania, Yunani, Spanyol, Belgia, dan Portugal. Puncaknya terjadi pada Sabtu (17/10/2026). Ratusan ribu orang turun ke jalan, dan di Prancis aksi itu berakhir rusuh.
Pemicunya berbeda di tiap negara. Namun benang merahnya sama: biaya hidup, pendidikan, dan hunian.
Prancis, Episentrum Demo Eropa
Gelombang ini bermula dari hal kecil. Pelajar SMA di Créteil, pinggiran Paris, memulai aksi pada September. Mereka mengeluhkan kekurangan guru, kelas yang penuh sesak, dan gedung sekolah yang rusak. Dalam beberapa pekan, aksi menjalar ke Paris, Marseille, Lille, dan Nantes. Mahasiswa, serikat pekerja, dan kelompok rompi kuning ikut bergabung, lalu menambahkan isu biaya hidup.
Pada 17 Oktober, jumlah peserta mencapai 550.000 hingga 800.000 orang. Sebagian besar aksi berjalan damai. Namun di sejumlah kota, massa menjarah toko dan membakar kendaraan. Api juga merusak balai kota bersejarah di Limoges yang berdiri sejak 1883. Polisi membalas dengan gas air mata.
Angka korban terus bergeser. Media melaporkan 1.200 penangkapan di awal, lalu 1.800 orang beserta 500 petugas terluka. Satu laporan lain menyebut hampir 2.400 penangkapan. Seorang demonstran juga meninggal akibat henti jantung di Paris. Presiden Emmanuel Macron mengecam para perusak dan meminta warga tenang.
Pemerintah sebenarnya sudah mencoba merespons. Pada 8 Oktober, Menteri Pendidikan Édouard Geffray berjanji menambah 3.000 guru pengganti. Di hari yang sama, survei L’ObSoCo dan Sciences Po menunjukkan 45% responden menempatkan inflasi dan daya beli sebagai masalah utama. Selain itu, rencana penghematan anggaran puluhan miliar euro memperkeruh suasana.
Italia: Serikat Buruh Melawan Kebijakan Meloni
Warga di Roma dan Milan turun ke jalan pada hari yang sama. Mereka memprotes kenaikan biaya hidup dan harga BBM. Serikat pekerja CGIL memimpin aksi di Roma untuk menentang kebijakan Perdana Menteri Giorgia Meloni.
Bentrokan pecah di Bologna dan Milan. Massa bertopeng melempar batu, botol, hingga alat pemadam api. Polisi menjawab dengan tongkat dan gas air mata.
Albania: Dari Kampus ke Isu Korupsi
Di Tirana, mahasiswa menuntut perbaikan sistem pendidikan, biaya kuliah yang terjangkau, dan peluang kerja setelah lulus. Kelompok lain kemudian menyusul dengan membawa isu korupsi dan ketimpangan. Laporan awal juga menyebut penolakan terhadap proyek resor mewah yang berkaitan dengan Jared Kushner, menantu Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Menurut detik, demo yang menuntut Perdana Menteri Edi Rama memasuki hari keenam pada Minggu (18/10/2026). Sebagian massa menyerang gedung pemerintah dan bank. Aparat membalas dengan gas air mata, meriam air, dan barikade beton.
Yunani, Spanyol, dan Portugal: Sekolah dan Hunian
Di Yunani, mahasiswa berkumpul di Lapangan Syntagma, Athena, dekat gedung parlemen, pada 13 Oktober. Mereka menolak mahalnya sewa tempat tinggal. Tuntutannya jelas: sewa turun, asrama bertambah, subsidi naik, dan dana pendidikan membesar.
Di Spanyol, guru dan murid menggelar aksi bertajuk Marea Verde atau Gelombang Hijau. Mereka meminta tambahan dana publik, kenaikan gaji, dan pengurangan jam mengajar. Mereka juga khawatir kebijakan daerah membuka jalan privatisasi sekolah negeri.
Sementara itu, ratusan orang berkumpul di pusat Lisbon, Portugal, pada Sabtu. Mereka memprotes harga rumah dan sewa yang terus menanjak.
Belgia: Bentrok di Brussel
Ratusan orang, sebagian besar anak muda, berunjuk rasa di Brussel. Aksi ini terinspirasi oleh gelombang di Prancis. Polisi memakai gas air mata dan meriam air. Sebagian massa membalikkan sebuah mobil. Menteri Dalam Negeri Bernard Quintin menyatakan pemerintah akan memakai segala cara untuk memulihkan ketertiban.
Di Liège, mahasiswa menyoroti kenaikan biaya pendidikan dan sulitnya mendapat bahan belajar. Para demonstran khawatir reformasi pendidikan tinggi membuat kampus kian sulit dijangkau.
Yang Menyatukan Demo di Tujuh Negara
Aksi-aksi ini tidak terkoordinasi. Tiap negara membawa persoalan domestik sendiri. Meski begitu, tekanan ekonomi dan rasa tidak puas pada kebijakan pemerintah muncul di hampir semua tempat.
Alberto Alemanno, profesor hukum dan kebijakan Uni Eropa di HEC Paris, menilai skala demo di negara lain belum menyamai Prancis. Ia juga memperkirakan aksi 17 Oktober bukan yang terakhir. Titik gejolak baru bisa muncul kapan saja.
- Penulis: Firmansyah

