Harga Minyak Dunia Rebound: Pasar Menanti Kejelasan Kesepakatan AS-Iran

Kebaruan.com Harga Minyak dunia menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada perdagangan hari Rabu, 17 Juni 2026, dengan menyentuh level US$79,43 per barel. Sentimen positif ini muncul seiring dengan sikap pelaku pasar yang menantikan kelanjutan rencana perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran. Para investor juga terus memantau kepastian mengenai pembukaan kembali jalur krusial, yakni Selat Hormuz. Sebelumnya, harga komoditas ini sempat mengalami koreksi tajam sekitar 5 persen pada sesi perdagangan Selasa, menyentuh titik terendah dalam kurun waktu tiga bulan.

Pemulihan Harga dan Harapan Pasar

Minyak mentah jenis Brent mencatat kenaikan sebesar 0,6 persen menjadi $79,43 per barel. Tren serupa juga terlihat pada minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS yang turut menguat 0,6 persen ke posisi $76,53 per barel. Hiroyuki Kikukawa, Kepala Strategi di Nissan Securities Investment, menyebut pasar sempat mengalami koreksi karena ekspektasi pembukaan Selat Hormuz. Namun, para pedagang kini menahan diri dari aksi jual masif sembari menunggu rincian lebih detail terkait perjanjian tersebut. Ia memperkirakan pergerakan WTI akan cenderung berfluktuasi di kisaran $10 di atas atau di bawah level $80 per barel.

Kesepakatan Damai dan Geopolitik

Detail kesepakatan damai sementara antara AS dan Iran mulai terungkap ke publik sejak Selasa lalu. Presiden AS Donald Trump menyatakan kesepakatan ini bertujuan menghalangi Teheran dalam kepemilikan senjata nuklir. Seorang pejabat AS menambahkan bahwa kesepakatan itu memungkinkan Iran untuk kembali menjual minyak ke pasar global setelah penandatanganan resmi. Nota kesepahaman ini mencakup perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari yang dimulai sejak April lalu.

Sebagai bagian dari poin kesepakatan, AS berencana mencabut blokade pelabuhan-pelabuhan Iran. Sebaliknya, Teheran akan membuka kembali lalu lintas kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz yang sempat terblokir. Namun, para pelaku industri memperingatkan bahwa pemulihan penuh tingkat produksi dan penyulingan minyak bisa memakan waktu yang cukup lama.

Tantangan dan Data Pasar

Situasi di lapangan masih menyimpan ketidakpastian tinggi, terutama karena Israel menjauhkan diri dari kesepakatan terbaru ini. Serangan drone Israel ke Lebanon selatan yang menewaskan empat orang baru-baru ini semakin menambah tensi geopolitik. Selain faktor politik, data ekonomi juga memberikan tekanan tersendiri bagi Harga Minyak. Volume minyak mentah yang diolah oleh Tiongkok pada bulan Mei lalu turun 9,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini merupakan level terendah dalam hampir empat tahun terakhir.

Di sisi lain, laporan American Petroleum Institute menunjukkan penurunan stok minyak mentah AS sebesar 8,3 juta barel pada pekan lalu. Data ini melampaui estimasi awal penurunan sebesar 4,6 juta barel. Dengan segala dinamika ini, fluktuasi Harga Minyak diprediksi masih akan terus berlanjut hingga ada kepastian mengenai stabilitas di kawasan Timur Tengah. Para pelaku pasar tentu akan terus mencermati rilis data resmi dari Badan Informasi Energi (EIA) yang dijadwalkan meluncur hari ini.

F
Firmansyah ✔ Jurnalis Terverifikasi

Jurnalis Kebaruan.com · Meliput isu ekonomi, politik, dan peristiwa terkini dengan integritas jurnalistik.

✎ Ditulis & ditinjau editor   |   ↻ Diperbarui 13 Juni 2026   |   Kebijakan editorial   Metodologi