Kebaruan.com Harga minyak mentah dunia terus bergerak turun — dan ini bukan kabar yang bisa diabaikan begitu saja. Setelah sempat melonjak ke level 120 dolar AS per barrel akibat ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, harga minyak kini melandai ke kisaran 80 dolar AS per barrel per 22 Juni 2026.
Tren penurunan ini membuka peluang nyata. Pemerintah dan PT Pertamina (Persero) kini punya ruang untuk menyesuaikan harga Pertamax — BBM nonsubsidi yang selama ini mengikuti dinamika pasar global.
Piter Abdullah: Penyesuaian Harus Terukur
Policy and Program Director Prasasti, Piter Abdullah, angkat bicara soal momentum ini.
Menurut Piter, penyesuaian harga Pertamax bukan berarti mengembalikan ke angka lama. Melainkan menurunkan harga secara wajar sesuai tren pasar yang sedang terjadi.
“Penurunan harga minyak dunia membuka ruang bagi pemerintah untuk menyesuaikan harga Pertamax. Seberapa besar angkanya, pemerintah dan Pertamina yang memegang perhitungannya,” ujar Piter, Selasa (23/6/2026).
Langkah ini dinilai wajar selama terukur dan tidak bersifat reaktif terhadap fluktuasi jangka pendek.
Antrean Pertalite Mulai Mengkhawatirkan
Ada sinyal yang lebih mengkhawatirkan di balik isu ini.
Piter menyoroti gejala perpindahan konsumen dari Pertamax ke Pertalite — BBM bersubsidi yang harganya jauh lebih murah. Tanda-tanda itu sudah mulai terlihat dari antrean yang memanjang di berbagai SPBU.
Kalau tren ini terus berlanjut tanpa intervensi, konsumsi Pertalite bisa jebol melampaui kuota yang sudah ditetapkan pemerintah untuk tahun ini.
“Antrean Pertalite yang memanjang menandakan sebagian konsumen sudah beralih. Kalau dibiarkan, pasokan dan permintaan tidak lagi cocok. Risikonya bisa sampai kelangkaan,” tegas Piter.
Situasi ini jelas tidak ideal — baik bagi konsumen maupun ketahanan energi nasional.
Kenapa Penyesuaian Pertamax Jadi Penting?
Logikanya sederhana. Ketika harga Pertamax terlalu jauh di atas Pertalite, konsumen cenderung beralih ke yang lebih murah — meski Pertalite sebenarnya bukan untuk mereka.
Penyesuaian harga Pertamax ke bawah bisa mempersempit selisih itu. Konsumen kelas menengah ke atas pun tidak lagi punya alasan kuat untuk antre di jalur Pertalite.
Hasilnya? Subsidi energi lebih tepat sasaran. Kuota Pertalite tidak cepat habis. Dan SPBU tidak lagi penuh antrean panjang yang tidak perlu.
Ancaman Geopolitik Masih Membayangi
Meski tren harga minyak sedang bersahabat, Piter mengingatkan bahwa kondisi global masih penuh ketidakpastian.
Potensi penutupan Selat Hormuz oleh Iran dan belum tuntasnya negosiasi antara Teheran dan Washington bisa kembali mengguncang pasar energi kapan saja.
Fluktuasi harga minyak dunia punya dampak langsung ke harga energi domestik. Karena itu, pemerintah perlu punya strategi yang tidak hanya reaktif — tapi juga antisipatif.
Subsidi Harus Tepat Sasaran, Distribusi Harus Diperbaiki
Di luar soal harga, Piter menekankan pentingnya pembagian peran yang jelas antara BBM subsidi dan nonsubsidi.
BBM nonsubsidi seperti Pertamax wajar mengikuti mekanisme pasar. Sementara Pertalite harus benar-benar dijaga agar hanya mengalir ke kelompok masyarakat yang berhak.
“Pemerintah perlu memastikan distribusi Pertalite tetap tepat sasaran. Mekanisme penyalurannya harus diperbaiki agar subsidi energi benar-benar sampai kepada yang berhak,” kata Piter.
Perbaikan sistem distribusi ini bukan sekadar urusan administratif. Ini soal keadilan energi — memastikan uang subsidi negara tidak salah alamat.
Kesimpulan: Momentum Ini Jangan Dilewatkan
Harga minyak dunia yang melandai adalah kesempatan yang tidak datang setiap saat.
Pemerintah dan Pertamina perlu bergerak cepat namun tetap terukur. Turunkan Pertamax secara proporsional, perbaiki distribusi Pertalite, dan jaga kuota subsidi agar tidak jebol.
Kalau momentum ini dikelola dengan baik, masyarakat yang paling merasakan manfaatnya — baik pengguna Pertamax maupun mereka yang betul-betul membutuhkan Pertalite.
