Kebaruan.com Minat investor global terhadap Indonesia belum surut. Sepanjang semester I 2026, penanaman modal asing (PMA) mencapai Rp507,6 triliun, hampir seimbang dengan penanaman modal dalam negeri sebesar Rp502,9 triliun. Angka ini membuktikan satu hal: Indonesia masih jadi incaran dana asing, meski dunia menghadapi banyak ketidakpastian.
Singapura Masih Jadi Raja Investor
Dari sisi asal negara, satu nama masih bertahan di puncak. Singapura menyumbang investasi terbesar, sekitar US$4,6 miliar pada kuartal I 2026. Hong Kong menyusul dengan US$2,7 miliar, lalu Tiongkok US$2,2 miliar, Amerika Serikat US$1,3 miliar, dan Jepang US$1,0 miliar di posisi kelima. Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Perkasa Roeslani, menegaskan dominasi Singapura sudah berlangsung lama. “Memang Singapura dalam 10 tahun terakhir ini masih memegang perannya sebagai investor terbesar Indonesia,” ujarnya.
Hilirisasi Mineral Jadi Daya Tarik Utama
Lalu, apa yang membuat investor terus melirik Indonesia? Jawabannya: potensi hilirisasi. Rosan menyebut tiga daerah luar Jawa — Sulawesi Tengah, Maluku Utara, dan Kepulauan Riau — menjadi magnet PMA karena kaya sumber daya mineral. Buktinya jelas. Maluku Utara mencatat nilai investasi PMA terbesar pada kuartal II 2026, mencapai Rp39,5 triliun atau 15,3% dari total investasi asing.
Sektor pertambangan dan pengolahan mineral memang jadi primadona. Industri logam dasar seperti smelter mendominasi investasi. Sektor jasa lainnya, pertambangan, kawasan industri, transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi menyusul di belakangnya. Kekayaan alam plus kebijakan hilirisasi pemerintah rupanya jadi kombinasi ampuh untuk menarik dana asing dalam jumlah besar.
Portofolio Keuangan Juga Ikut Diminati
Menariknya, ketertarikan investor tak berhenti di sektor riil. Instrumen keuangan domestik pun kebanjiran modal asing. Aliran investasi portofolio asing pada kuartal II 2026 mencatat net inflow US$8,5 miliar, terutama didukung instrumen SBN dan SRBI, ujar Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti. Tren ini diperkirakan berlanjut ke kuartal berikutnya, seiring naiknya imbal hasil instrumen keuangan dalam negeri.
Masih Ada Tantangan yang Perlu Dibenahi
Meski capaiannya positif, Indonesia belum sepenuhnya unggul dibanding negara kompetitor. Ekonom CORE Indonesia, Mohammad Faisal, menyoroti satu hal penting: kepastian kebijakan. Faktor ini menentukan seberapa nyaman investor menanamkan modalnya — dan menurutnya, Indonesia masih perlu memperkuat sisi ini.
Terlepas dari tantangan tersebut, tren investasi asing ke Indonesia tetap menggembirakan. Kekayaan sumber daya alam, potensi hilirisasi, dan pasar domestik yang besar membuat Indonesia tetap masuk radar investor global. Persaingan antarnegara kawasan memang kian ketat, tapi posisi Indonesia belum tergoyahkan.
