Kritik Tajam Kebijakan Pembelajaran Bahasa Prancis di Sekolah: JPPI Singgung Bencana Literasi

Kebaruan.com Instruksi mengejutkan ini keluar saat Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan resmi ke Istana Kepresidenan Élysée, Paris. Di hadapan Presiden Prancis Emmanuel Macron, beliau menyatakan telah memerintahkan agar seluruh tingkatan sekolah di Indonesia mengajarkan bahasa Prancis demi menghadapi perkembangan dunia masa depan.

Namun, Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji, langsung merespons keras instruksi tersebut. Ubaid menyebut kebijakan ini sebagai langkah yang lepas dari konteks kebutuhan nyata. Menurutnya, pemerintah seharusnya memprioritaskan penyelesaian “bencana” literasi dasar sebelum melompat ke kurikulum bahasa Eropa.

Data dan Statistik: Rapor Merah PISA Indonesia

Kritik dari JPPI bukan tanpa dasar yang kuat. Jika kita melihat indikator internasional, kualitas pendidikan dasar kita memang memerlukan penanganan serius:

  • Kemampuan Dasar Jeblok: Data Programme for International Student Assessment (PISA) secara konsisten menunjukkan posisi kompetensi siswa Indonesia berada di level bawah untuk urusan membaca, matematika, dan sains.
  • Gagal Mencerna Teks: Jangankan menguasai tata bahasa asing yang kompleks, banyak anak didik di dalam negeri yang bahkan masih kesulitan memahami dan mencerna isi teks dalam bahasa Indonesia yang berstatus bahasa ibu.

Studi Kasus: Krisis Ketersediaan SDM Guru

Tantangan terbesar dari implementasi program baru ini terletak pada ketersediaan tenaga pendidik. Studi kasus di berbagai daerah menunjukkan bahwa sekolah-sekolah di Indonesia saat ini justru berada dalam status darurat kekurangan guru interdisipliner.

Kita masih terseok-seok dalam memenuhi kuota:

  • Guru kelas sekolah dasar.
  • Tenga pengajar matematika.
  • Guru sains/IPA.

Melihat fakta tersebut, mendatangkan atau mencetak puluhan ribu guru bahasa baru dalam waktu singkat tentu menjadi target yang sangat tidak realistis dan berisiko membebani anggaran negara secara keliru.

Sudut Pandang Pribadi: Benahi Fondasi Sebelum Membangun Atap

Menurut saya, penguasaan bahasa internasional memang penting untuk daya saing global di masa depan. Namun, memberlakukan aturan ini secara menyeluruh ke seluruh sekolah merupakan langkah yang tergesa-gesa. Pemerintah sebaiknya membenahi fondasi pendidikan terlebih dahulu—seperti kesejahteraan guru, fasilitas sekolah pelosok, dan metode pembelajaran literasi. Jangan sampai anak-anak kita menjadi kelinci percobaan dari ambisi elite yang kurang memahami jeritan riil di ruang-ruang kelas daerah.