Kebaruan.com Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh, Said Iqbal, mengungkapkan rasa kecewanya. Ia merasa kesulitan saat mencoba menemui Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa. Pertemuan ini penting untuk membahas kebijakan pajak dalam pencairan dana Jaminan Hari Tua (JHT) bagi para pekerja. Sayangnya, permintaan audiensi tersebut belum mendapatkan respons memadai hingga saat ini.
Upaya Audiensi yang Belum Direspons
Said Iqbal mengaku sudah meminta waktu pertemuan sebanyak dua hingga tiga kali kepada sang bendahara negara. Meskipun posisinya sebagai Penasihat Khusus Presiden setara dengan menteri, ia tetap belum berhasil membuka jalur komunikasi. Ia menegaskan bahwa permohonan audiensi ini bukan atas nama serikat buruh KSPI, melainkan kapasitas pribadinya sebagai penasihat resmi presiden. Said menduga bahwa Menkeu Purbaya sengaja menghindari dirinya untuk membahas masalah ini.
Padahal, Said telah mengirimkan surat resmi sebagai bentuk prosedur formal untuk menjadwalkan pertemuan. Ia membantah keras jika ada anggapan bahwa Purbaya tidak pernah menerima surat darinya. Langkah tegas ini ia ambil karena banyaknya keluhan dari kaum buruh mengenai aturan potongan pajak JHT yang dirasa memberatkan. Beberapa laporan bahkan menyebutkan potongan pajak dalam pencairan JHT mencapai angka yang cukup fantastis.
Pentingnya Dialog Terbuka
Kondisi ini menciptakan keresahan di kalangan pekerja yang mengharapkan solusi konkret dari pemerintah. Said berharap Purbaya bersedia meluangkan waktu dalam waktu dekat untuk berdiskusi secara terbuka. Dialog antara pemerintah dan perwakilan buruh sangat krusial guna meluruskan aturan yang membebani masyarakat. Tanpa komunikasi yang baik, masalah JHT berpotensi menimbulkan ketidakpuasan lebih luas di kalangan buruh.
Sebagai Penasihat Khusus Presiden, Said Iqbal memikul tanggung jawab besar untuk menjembatani aspirasi pekerja dengan kebijakan ekonomi nasional. Ia berkomitmen untuk terus memperjuangkan hak-hak buruh terkait keadilan dalam pencairan dana pensiun tersebut. Masyarakat pun menanti tindakan nyata dari kedua belah pihak untuk menyelesaikan polemik pajak ini secara adil. Transparansi dalam kebijakan fiskal menjadi kunci utama agar hubungan antara pemerintah dan buruh tetap terjaga dengan harmonis. Said tetap optimis bahwa pertemuan tersebut akan segera terlaksana demi kepentingan banyak pihak.
