Belasan jam. Itulah rentang waktu yang akhirnya mengubah bahan pangan biasa menjadi sumber malapetaka bagi puluhan siswa di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, membeberkan titik terang dari investigasi sementara insiden keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sempat menggegerkan publik pekan ini.
Bukan soal bahan baku busuk atau dapur kotor. Akar masalahnya justru lebih sederhana dan sekaligus lebih mengerikan: standar penyimpanan yang gagal dijalankan konsisten.
Ketika 300 Ekor Ikan “Terlupakan”
Bayangkan dapur besar yang setiap hari mengolah ribuan porsi makanan untuk siswa. Di tengah rutinitas itu, ratusan ekor ikan justru luput dari perhatian. Alih-alih masuk freezer seperti prosedur seharusnya, bahan tersebut malah teronggok di suhu ruangan selama lebih dari setengah hari.
Sudaryono menyampaikan temuan ini secara langsung ketika menjenguk korban di Rumah Sakit Haji Medan, Minggu (16/8/2026). Nada suaranya serius saat menjelaskan detail investigasi.
“Kami coba cek investigasi sementara. Jadi, itu kelalaian ada pada pengolahan. Bahan baku ikan itu sebagian besar dimasukkan ke freezer, tapi ada sekitar 200 sampai 300 ekor yang tidak masuk freezer,” ungkapnya.
Ratusan ekor ikan itu kemudian bertahan di suhu ruangan selama 12 jam, bahkan lebih. Waktu selama itu cukup panjang bagi mikroorganisme berbahaya untuk berkembang biak tanpa terkendali.
Mengapa Selisih Beberapa Jam Saja Bisa Fatal?
Ini bagian yang sering luput dari pemahaman orang awam: kenapa cuma dibiarkan di suhu ruang, bisa berujung keracunan massal?
Jawabannya ada pada konsep danger zone dalam ilmu keamanan pangan. Rentang suhu 4 hingga 60 derajat Celsius adalah zona favorit bakteri seperti Salmonella dan Vibrio parahaemolyticus untuk berkembang biak paling cepat. Semakin lama bahan mentah “terjebak” di rentang suhu ini, semakin tinggi pula risiko kontaminasi yang menyertainya.
Sudaryono menegaskan, mengabaikan rantai dingin atau cold chain pada bahan pangan mentah seperti ikan bukan perkara sepele. Risiko pembusukan dan kontaminasi bakteri mengintai setiap detik bahan tersebut dibiarkan di suhu tidak sesuai.
“Tidak boleh ada kelalaian, tidak boleh! Zero tolerance, enggak boleh lalai. Dan saya minta kepala dapur atau siapa pun yang merasa enggak sanggup kerja, keluar saja daripada kemudian membahayakan nasib nyawa seseorang,” tegasnya, dengan nada yang tak menyisakan ruang untuk kompromi.
Efek Domino: 27.000 Dapur Kena Instruksi Ketat
Insiden ini rupanya jadi alarm keras bagi BGN. Standar operasional prosedur keamanan pangan langsung diperketat di seluruh fasilitas dapur MBG se-Indonesia. Total 27.000 kepala dapur kini menerima instruksi tegas untuk mengawasi setiap tahapan pengolahan makanan secara ekstra hati-hati, mulai dari penerimaan bahan baku sampai makanan siap disajikan ke meja siswa.
Langkah cepat ini bukan tanpa alasan. Sebelumnya, kasus serupa juga sempat terjadi di Berastagi, di mana ratusan siswa mengalami keracunan hingga berujung pencopotan Kepala SPPG setempat. Dua kejadian berdekatan ini membuat BGN tak punya pilihan selain bertindak tegas.
Titik Terang di Tengah Kekhawatiran
Di balik kabar mengkhawatirkan ini, ada secercah harapan. Kondisi siswa yang sempat menjalani perawatan intensif di ruang PICU RS Haji Medan perlahan menunjukkan perbaikan. Sudaryono menyampaikan, setelah tiga hari penanganan medis, kondisi pasien kini jauh lebih stabil dibandingkan saat pertama kali dilarikan ke rumah sakit.
“Kondisinya di sini sudah dua hari, ini hari yang ketiga. Menurut laporan sudah membaik dibandingkan pertama kali masuk. Tapi memang masih di ICU. Saya berharap sesegera mungkin bisa betul-betul membaik dalam satu sampai dua hari ini,” pungkasnya penuh harap.
Ia berharap pasien bisa segera pulih sepenuhnya dan tak lama lagi bisa dipindahkan dari ruang ICU menuju ruang perawatan biasa.
Pelajaran dari Karo
Insiden di Karo membuktikan bahwa dalam pengelolaan pangan skala besar, kelalaian sekecil apa pun bisa berakibat fatal. BGN kini bergerak sigap membenahi sistem pengawasan di seluruh dapur MBG se-Indonesia, sembari terus memantau perkembangan kesehatan para korban yang masih berjuang pulih.
