Kebaruan.com Kabar dari Selat Hormuz mulai terasa berbeda. Kamis, 18 Juni 2026, sedikitnya 20 kapal tanker minyak melintas di jalur perairan strategis itu — angka tertinggi sejak 2 Juni 2026. Data ini berasal dari Kpler, perusahaan intelijen perdagangan komoditas global yang rutin memantau arus pelayaran internasional.
Pemulihan ini terjadi setelah Amerika Serikat dan Iran mulai menjalankan kesepakatan bersama: membuka kembali Selat Hormuz bagi kapal-kapal komersial yang sempat terhenti akibat konflik.
Angka Masih Jauh dari Normal, Tapi Tren Positif Mulai Terbentuk
Dua puluh kapal tanker memang terdengar signifikan. Namun sebelum konflik pecah, lebih dari 100 kapal — termasuk puluhan tanker — melintasi selat ini setiap harinya. Jadi pemulihan masih panjang. Secara keseluruhan, 25 kapal melintas pada Kamis itu. Selain tanker minyak, ada pula kapal kargo, kapal kontainer, dan berbagai jenis armada lainnya.
Matt Smith, Direktur Riset Komoditas Kpler, menggambarkan situasinya cukup seimbang. “Lalu lintas secara umum seimbang, dengan 13 pelayaran bergerak dari barat ke timur dan 12 pelayaran dari timur ke barat,” kata Smith.
Iran Beri Kebebasan Transit 60 Hari, AS Cabut Blokade
Di balik pemulihan ini ada dua langkah konkret dari kedua pihak. Angkatan Laut AS resmi mengakhiri blokade terhadap Iran. Sementara Teheran memberi kelonggaran: kapal-kapal boleh melintas tanpa biaya transit selama 60 hari.
Wakil Presiden AS JD Vance menegaskan Iran mematuhi komitmen yang sudah disepakati. “Sejauh ini mereka menjalankan bagian komitmennya,” ujar Vance kepada wartawan.
Pernyataan itu memberi sinyal positif bagi pasar energi global yang selama ini khawatir dengan instabilitas di kawasan Teluk Persia.
Kapal Tanker Raksasa VLCC Kembali Bergerak
Salah satu indikator paling menarik datang dari pergerakan kapal tanker kelas Very Large Crude Carrier atau VLCC. Kpler mencatat tiga VLCC milik Arab Saudi dan satu dari Uni Emirat Arab sudah melintas pada Kamis.
VLCC bukan kapal sembarangan. Satu kapal jenis ini mampu mengangkut hingga 2 juta barel minyak mentah dalam satu perjalanan. Kembalinya armada ini ke jalur Hormuz menjadi tanda nyata bahwa perdagangan energi kawasan Teluk mulai berputar lagi.
Tak hanya itu, kapal tanker raksasa Iran juga mulai mengaktifkan kembali transponder mereka. Selama perang berlangsung, perangkat pelacak ini sengaja dimatikan. Pada Jumat, 19 Juni 2026, lima VLCC Iran yang membawa muatan minyak terpantau meninggalkan kawasan tersebut.
Para analis Kpler menyebut ini sebagai pertanda pemulihan bertahap. “Arus kapal dua arah menunjukkan perdagangan minyak mentah Iran secara bertahap kembali ke pola operasi yang lebih normal,” tulis mereka dalam catatan kepada klien.
Tata Kelola Selat Hormuz Jadi Pertanyaan Besar
Di balik pemulihan ini, ada isu yang belum selesai: siapa yang berwenang mengatur Selat Hormuz ke depan?
Data Kpler menunjukkan 18 dari 25 kapal yang melintas pada Kamis menggunakan jalur pelayaran versi Iran. Hanya satu kapal yang memakai jalur resmi dari Organisasi Maritim Internasional (IMO). Rute enam kapal lainnya tidak dapat dipastikan.
Berdasarkan kesepakatan AS-Iran, setelah masa bebas biaya 60 hari berakhir, Iran akan menggelar pembicaraan dengan Oman dan negara-negara Teluk soal mekanisme pengelolaan selat. Artinya, kemungkinan biaya transit bagi kapal yang melintas bisa kembali berlaku — dan itu berpotensi menggerakkan harga minyak dunia.
Mengapa Selat Hormuz Begitu Penting?
Selat Hormuz adalah urat nadi ekspor minyak dari kawasan Teluk. Hampir seperlima pasokan minyak dunia melewati jalur sepanjang 33 kilometer ini setiap harinya.
Setiap gangguan di sini — entah blokade, konflik, atau perubahan aturan — langsung berdampak pada harga energi global. Itulah mengapa pasar minyak dunia selalu bereaksi cepat terhadap perkembangan apapun di Selat Hormuz.
Kini, dengan tanda-tanda pemulihan yang mulai terlihat, dunia menunggu apakah jalur vital ini benar-benar bisa kembali beroperasi penuh — atau justru ada babak baru ketegangan yang menanti.
