Kebaruan.com Saya selalu tertarik membaca kisah CEO besar, karena hampir semua orang lupa bahwa mereka pun pernah jadi karyawan biasa sebelum nama mereka dikenal dunia. Daftar CEO Index 2026 ini mengingatkan saya lagi soal itu — lima tokoh teknologi yang sekarang memimpin perusahaan bernilai miliaran dolar, ternyata dulu cuma menjalani pekerjaan yang terdengar biasa saja, jauh dari kesan “calon miliarder”.
Jensen Huang: Dari Chip Designer Jadi Bos Perusahaan Terbesar Kedua Dunia
Sebelum mendirikan NVIDIA, Jensen Huang menghabiskan waktu sebagai chip designer di LSI Logic. Posisi ini jauh dari sorotan publik, sekadar pekerjaan teknis di balik layar industri semikonduktor. Huang kemudian mendirikan NVIDIA bersama dua rekannya di sebuah kedai Denny’s tahun 1993, dan perusahaan itu kini bertransformasi menjadi salah satu perusahaan paling bernilai di dunia — bahkan sempat menempati posisi kedua terbesar global dari sisi kapitalisasi pasar.
William Tanuwijaya: Dulu Jaga Warnet, Sekarang Pimpin Raksasa E-commerce
William Tanuwijaya punya cerita yang menurut saya paling relate buat generasi muda Indonesia. Ia sempat bekerja sebagai penjaga warnet sekaligus software developer sebelum akhirnya mendirikan Tokopedia. Latar belakang sederhana ini justru jadi modal pemahaman langsung soal kebutuhan masyarakat akan akses internet dan perdagangan digital. Tokopedia yang ia bangun kini menjelma jadi salah satu platform e-commerce terbesar di Indonesia, sekaligus mengukuhkan posisi Tanuwijaya sebagai salah satu perintis technopreneur Tanah Air.
Toto Sugiri: Insinyur PT Telkom yang Bangun Bisnis Data Center Terbesar
Toto Sugiri memulai karier sebagai insinyur di PT Telkom, jauh sebelum nama DCI Indonesia dikenal luas. Pengalamannya di sektor telekomunikasi memberi bekal teknis yang matang ketika ia memutuskan merintis bisnis data center sendiri. DCI kini berkembang menjadi perusahaan penyedia data center terbesar di Indonesia, melayani kebutuhan infrastruktur digital yang terus meningkat seiring transformasi digital nasional.
Ferry Unardi: Software Engineer Amazon yang Bangun Traveloka
Ferry Unardi sempat meniti karier sebagai software engineer di Amazon sebelum memutuskan pulang ke Indonesia dan mendirikan Traveloka. Pengalamannya bekerja di perusahaan teknologi kelas dunia membentuk standar produk yang ia bawa ke platform pemesanan tiket dan hotelnya sendiri. Traveloka kini mengantongi valuasi sekitar US$3 miliar dan sudah beroperasi di enam negara, jadi salah satu unicorn kebanggaan Asia Tenggara.
Nadiem Makarim: Konsultan McKinsey yang Ciptakan Jutaan Lapangan Kerja
Nadiem Makarim mengawali karier sebagai konsultan di McKinsey & Company. Pengalaman ini rupanya membekali Nadiem dengan kemampuan analisis bisnis yang matang, terbukti ketika ia mendirikan Gojek dan berhasil menciptakan lapangan kerja bagi sekitar 3 juta mitra pengemudi di Indonesia. Gojek kemudian berkembang jauh melampaui layanan ojek online, merambah pembayaran digital hingga logistik.
Benang Merah dari Lima Kisah Ini
Kalau saya perhatikan pola dari lima tokoh ini, satu kesamaan yang mencolok adalah: mereka semua pernah bekerja di posisi teknis atau operasional biasa sebelum benar-benar memutuskan membangun sesuatu milik sendiri. Pengalaman kerja itu bukan cuma pengisi CV, tapi jadi fondasi pemahaman mendalam soal industri yang mereka geluti kemudian.
Buat kamu yang masih merasa “cuma karyawan biasa” saat ini, kelima kisah ini menunjukkan bahwa posisi awal karier bukan penentu akhir cerita. Chip designer bisa jadi CEO perusahaan terbesar dunia, penjaga warnet bisa membangun raksasa e-commerce, dan konsultan bisa mendirikan perusahaan yang menghidupi jutaan orang. Yang membedakan bukan titik awalnya, melainkan keberanian mengambil langkah membangun sesuatu yang baru.
