Kebaruan.com Jakarta Pusat kembali dipadati massa aksi hari ini, Jumat (17/7/2026). Saya memantau perkembangan aksi ini sejak pagi, dan pemerintah kota jelas tidak main-main menyikapinya — Polda Metro Jaya menyiagakan 4.132 personel gabungan dari Polres Metro Jakarta Pusat dan jajaran Polsek untuk mengamankan jalannya demo mahasiswa di kawasan Monas dan Patung Kuda.
Siapa Saja yang Turun ke Jalan
Setidaknya dua kekuatan massa besar bergerak bersamaan hari ini. Pertama, Aliansi Majelis Perjuangan Rakyat (MPR) — gabungan mahasiswa UNJ, Universitas Trilogi, Institut STIAMI, dan Universitas Paramadina — memulai aksi sekitar pukul 13.00 WIB di dekat Patung Kuda, Jalan Medan Merdeka Selatan, Gambir. Kedua, Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) turut menggelar aksi terpisah di area sekitar Monas pada hari yang sama.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, menyebut jumlah massa yang resmi melapor berkisar 500 sampai 750 orang, dengan potensi bertambah seiring berjalannya aksi. Angka ini belum termasuk masyarakat yang sekadar menonton atau pedagang UMKM yang tetap berjualan di sekitar lokasi.
Tuntutan Utama Demo Mahasiswa: Mosi Tidak Percaya ke Kabinet Merah Putih
Aliansi Majelis Perjuangan Rakyat mengusung tema besar “Mosi Tidak Percaya Rezim Prabowo Gibran” dalam aksi kali ini. Lewat akun Instagram resmi @aliansiunjmelawan, mereka menulis bahwa ketimpangan sosial, pelemahan kedaulatan sipil, dan krisis di berbagai sektor kehidupan menjadi alasan kuat mempertanyakan kepercayaan publik terhadap Kabinet Merah Putih.
Perwakilan aliansi, Muhammad Annur, membawa tiga tuntutan utama dalam aksi ini. Poin pertama jelas soal mosi tidak percaya terhadap kabinet yang berkuasa saat ini. Poin lainnya menyoroti perbaikan sistem pendidikan nasional, mengingat kondisi mahasiswa dan dunia kampus jadi salah satu perhatian utama aliansi ini sejak awal pergerakan.
Bukan Aksi Pertama, Rentetan Tuntutan Terus Berlanjut
Demo Mahasiswa hari ini bukan aksi tunggal yang berdiri sendiri. Sebulan sebelumnya, tepatnya 12 Juni 2026, BEM Universitas Indonesia sudah lebih dulu menggelar aksi bertajuk “Menuju Indonesia Bangkrut” dengan lima tuntutan: hentikan pemborosan APBN, turunkan harga kebutuhan pokok dan BBM, setop program Makan Bergizi Gratis (MBG) beserta Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, hentikan militerisme di ranah sipil, serta desakan agar Prabowo Subianto mengakui kesalahan kebijakannya.
Pola ini menunjukkan tuntutan mahasiswa terus berkembang dari isu spesifik menuju isu yang lebih fundamental soal kepercayaan terhadap pemerintahan secara keseluruhan.
Rekayasa Lalu Lintas dan Area Terlarang
Polisi menegaskan massa aksi dilarang menggelar unjuk rasa di kawasan yang dianggap objek vital, meliputi Bundaran HI-Dukuh Atas hingga sepanjang Jalan MH Thamrin. Rekayasa lalu lintas berlaku situasional, menyesuaikan kondisi dan jumlah massa di lapangan sepanjang hari.
Kalau kamu berencana melintas kawasan Monas, Patung Kuda, atau Jalan Medan Merdeka Selatan hari ini, sebaiknya siapkan jalur alternatif. Kepadatan berpotensi terjadi kapan saja, tergantung eskalasi massa yang masih terus bertambah sejak siang tadi.
