Jasad ABK Pemandu Jurnalis Diidentifikasi, Kapal Arupadhatu Hilang Sejak 7 September
- account_circle Firmansyah
- calendar_month 13 jam yang lalu
- visibility 10
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kebaruan. Kabar duka menyertai proses pencarian delapan orang yang hilang bersama Kapal Arupadhatu. Tim identifikasi memastikan jasad ABK pemandu jurnalis yang ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu, pada 12 September lalu adalah Surakhman, anak buah kapal yang turut mengangkut lima jurnalis menuju Gunung Anak Krakatau.
Kapolda Banten Irjen Hengki mengungkap kronologi lengkap kejadian ini dalam konferensi pers di Polda Banten, Rabu (23/9/2026). Ia menjelaskan, tim mencocokkan data antemortem dari anak kandung Surakhman untuk memastikan identitas jenazah.
Delapan Orang di Atas Kapal Arupadhatu
Total delapan orang berangkat menggunakan Kapal Arupadhatu. Rombongan ini terdiri dari lima jurnalis dan tiga kru kapal. Kelima jurnalis itu adalah M Bagus Khoirunnas dari Antara, Arie Basuki dari Merdeka.com, dan Yudistiro Pranoto dari iNews. Dua jurnalis lain adalah Firman Daus dari Anadolu Agency serta Donal Husni yang berstatus jurnalis lepas.
Tiga kru kapal menyertai perjalanan itu. Warta bertugas sebagai kapten kapal, Surakhman menjadi anak buah kapal, dan Heriyanto berperan sebagai pemandu. Mereka berangkat untuk meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau, gunung berapi aktif yang kerap menarik perhatian media saat menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik.
Kronologi Hilangnya Kapal
Kapal Arupadhatu bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang, pada Senin (7/9) pukul 14.00 WIB. Sehari berselang, pihak keluarga melaporkan hilangnya kontak dengan rombongan tersebut. Hengki menjelaskan, keluarga melapor setelah tak kunjung menerima kabar dari kerabat mereka yang berangkat meliput erupsi Anak Krakatau.
Tim gabungan lantas menggelar pencarian intensif. Titik terang muncul pada hari kelima pencarian, tepatnya 12 September. Saat itu, petugas menemukan sebuah jenazah tanpa identitas di Pulau Enggano, wilayah yang masuk administrasi Bengkulu Utara. Petugas sempat mencatat jenazah itu sebagai “Mr X” sebelum proses identifikasi lengkap berjalan.
Proses Identifikasi hingga Terungkap Jati Diri Korban
Setelah menemukan jenazah, Polda Banten langsung berkoordinasi dengan Polda Bengkulu untuk proses evakuasi. Tim identifikasi kemudian mengumpulkan sampel DNA dari delapan keluarga korban guna mempercepat pencocokan data forensik.
Hasil pemeriksaan pada 23 September memastikan jenazah tersebut merupakan Surakhman. Kapolda Banten menjelaskan, tim mencocokkan data itu dengan data antemortem milik Yayat, anak kandung Surakhman. Tim forensik kepolisian memang sering memakai metode identifikasi lewat jalur keturunan biologis dalam kasus pencarian korban hilang di laut.
Pencarian Tujuh Korban Lainnya Masih Berlanjut
Meski satu jenazah sudah teridentifikasi, nasib tujuh orang lainnya masih belum diketahui secara pasti. Kelompok ini mencakup lima jurnalis dan dua kru kapal. Tim SAR gabungan diperkirakan terus menyisir wilayah perairan sekitar Selat Sunda hingga perairan Bengkulu. Arus laut di kawasan itu berpotensi membawa jenazah maupun puing kapal jauh dari titik awal hilang kontak.
Kasus hilangnya Kapal Arupadhatu menambah daftar panjang insiden kecelakaan laut yang melibatkan jurnalis dalam tugas peliputan di kawasan rawan bencana geologi seperti Gunung Anak Krakatau.
- Penulis: Firmansyah
