Sekolah Gratis Ala Prabowo: Seberapa Besar Dukungan Masyarakat?
- account_circle Firmansyah
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 32
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kebaruan. Dukungan masyarakat terhadap sekolah gratis bikinan Prabowo Subianto tercatat tinggi di sejumlah survei nasional. Program bernama Sekolah Rakyat ini menyediakan sekolah berasrama gratis bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Programnya mencakup seragam, buku, dan makan minum tanpa biaya.
Berbagai lembaga survei sudah menguji persepsi publik terhadap program ini sejak awal peluncurannya hingga pertengahan 2026. Hasilnya konsisten positif. Namun, angkanya berbeda-beda tergantung waktu dan metodologi survei.
Awal Mula: Dukungan Nyaris Bulat
Litbang Kompas jadi lembaga pertama yang merekam antusiasme publik terhadap sekolah gratis ini. Litbang Kompas menggelar survei pada 7-12 April 2025 terhadap 1.200 responden di 38 provinsi. Hasilnya, 94,4 persen masyarakat setuju dengan program Sekolah Rakyat. Bahkan, 83,9 persen responden percaya program ini bisa mengatasi anak putus sekolah dan memutus rantai kemiskinan.
Menariknya, dukungan tidak hanya datang dari kelompok bawah yang menjadi sasaran program. Kelas menengah hingga atas juga menunjukkan sikap yang sama.
Dukungan Tetap Tinggi di Pertengahan 2026
Setahun berselang, tren dukungan masih bertahan kuat. Puspoll Indonesia menggelar survei pada 27 Juni 2026 dan mencatat 68,5 persen masyarakat puas dengan Sekolah Rakyat. Sebanyak 74 persen responden bahkan berharap program ini terus berlanjut.
Indonesia Development Monitoring (IDM) menggelar survei berikutnya pada 11-20 Juli 2026, melibatkan 1.640 responden dengan margin of error sekitar 2,37 persen. Angkanya lebih tinggi lagi: 85,6 persen setuju, hanya 11,8 persen tidak setuju.
Sepekan setelahnya, Digdaya Polling & Strategy menggelar survei pada 22-31 Juli 2026 dengan 1.200 responden. Hasilnya, 80,6 persen publik menyetujui Sekolah Rakyat. Angka ini menempatkan program tersebut sebagai program kedua paling didukung, setelah Cek Kesehatan Gratis yang mencapai 89,7 persen.
Ada yang belum tahu programnya
Survei Median Nasional menghadirkan temuan berbeda. Median menggelar survei tatap muka pada 21 Juli–2 Agustus 2026, dan mencatat 56,1 persen responden puas dengan program ini. Angka ini paling rendah dibandingkan dengan survei lain. Namun, Median juga menemukan fakta penting: baru 61,7 persen responden yang tahu program Sekolah Rakyat ada. Sebanyak 38,3 persen mengaku belum mengetahuinya sama sekali.
Alasan kepuasan publik pun beragam. Sebanyak 12 persen menyebut program ini gratis bagi masyarakat tidak mampu. Sementara itu, 8,9 persen menilai program membantu warga kurang mampu, dan 6,9 persen merasa terbantu mendapat pendidikan layak.
Kenapa Dukungannya Tinggi?
Menurut analisis IDM, program yang memberi manfaat langsung ke masyarakat cenderung mendapat dukungan lebih besar. Sebaliknya, program yang masih tahap awal pelaksanaan cenderung mendapat dukungan lebih rendah. Hal ini sejalan dengan capaian lapangan Sekolah Rakyat. Hingga awal 2026, sudah ada 166 Sekolah Rakyat berkonsep asrama beroperasi di 34 provinsi. Sekolah-sekolah ini menampung 15.954 siswa dari keluarga kurang mampu.
Pemerintah berencana menambah jumlah sekolah ini hingga 200 unit, sesuai arahan Prabowo. Fasilitas ke depan juga akan mencakup laboratorium, ruang olahraga, dan kegiatan pengembangan keterampilan.
Tantangan yang Masih Ada
Meski dukungan tinggi, Litbang Kompas mencatat satu catatan penting. Tingkat pemahaman masyarakat soal teknis dan manfaat program ini masih belum merata. Temuan median soal rendahnya pengetahuan publik memperkuat catatan itu.
Artinya, tantangan sekolah gratis ini bukan lagi soal dukungan, melainkan sosialisasi. Banyak masyarakat sebenarnya setuju dengan programnya, tapi mereka belum tahu program itu sudah berjalan di daerah mereka.
- Penulis: Firmansyah
