Gibran Rakabuming ke Batang, Minta Evaluasi Menyeluruh Program MBG
- account_circle Firmansyah
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kebaruan. Gibran Rakabuming mendesak evaluasi menyeluruh program Makan Bergizi Gratis (MBG) setelah keracunan massal di Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Wakil Presiden itu terbang langsung ke Batang pada Senin (28/9/2026) untuk melihat kondisi korban.
Dinas Kesehatan Batang mencatat 674 kasus per Senin pukul 07.00 WIB. Sebanyak 34 pasien masih menjalani rawat inap.
Apa yang Gibran Minta Dievaluasi
Gibran menyoroti aspek keamanan pangan. Evaluasi mencakup standar higiene, waktu pengolahan, penyimpanan, distribusi, dan pengawasan langsung di lapangan. “Evaluasi harus dilakukan secara menyeluruh,” tegasnya dalam keterangan tertulis.
Ia juga meminta setiap temuan segera diperbaiki. Gibran menekankan investigasi harus tuntas, dan hasilnya harus terbuka bagi publik.
Kunjungan ke Puskesmas dan Sekolah
Gibran tiba di Puskesmas Bawang sekitar pukul 10.00 WIB. Ia menemui pasien satu per satu selama hampir satu jam. Ia juga meninjau pasien di RSUD Limpung, lalu menemui wali murid dan siswa di SD Pasusukan.
Menurut Suara.com, Gibran meminta maaf kepada anak-anak dan keluarga terdampak. Pemerintah menjamin seluruh biaya pengobatan tidak membebani keluarga. Gibran juga meminta korban yang sudah pulang tetapi kembali sakit tetap mendapat pemeriksaan lanjutan.
Jumlah Korban Terus Naik
Angka korban bergerak cepat. Pada Jumat (25/9) pukul 13.00 WIB, Wakil Bupati Batang Suyono menyebut 521 orang. Tiga hari kemudian, angkanya menjadi 674. Petugas kesehatan merawat sebagian pasien di RSUD Limpung, RSUD Batang, dan sejumlah puskesmas.
Temuan Awal di Dapur SPPG
Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bawang melayani sekitar 2.700 penerima manfaat setiap hari. Investigasi awal BGN dan Pemkab Batang, termasuk pengecekan CCTV, menemukan pelanggaran SOP. Petugas mulai mengolah makanan sekitar pukul 19.30 WIB pada malam sebelumnya. Kepala KPPG Semarang BGN, Hadirya, menilai jeda panjang antara memasak dan distribusi itu serius. Makanan bisa membusuk atau terkontaminasi sebelum sampai ke penerima.
Namun, itu baru temuan awal. Gibran menegaskan penyebab pasti masih dalam pemeriksaan.
Yang Ditunggu Publik
Kasus ini menguji pengawasan MBG di lapangan. Publik kini menunggu hasil investigasi resmi dan langkah BGN memperkuat pengawasan dapur SPPG lain.
- Penulis: Firmansyah
