Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » Gaya Hidup » Karyawan Vilmei Diduga Kuras Saldo TikTok Rp1,28 Miliar Selama Setahun

Karyawan Vilmei Diduga Kuras Saldo TikTok Rp1,28 Miliar Selama Setahun

  • account_circle firmansyah
  • calendar_month 24 menit yang lalu
  • visibility 2
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kebaruan.com Standar kemiskinan Bank Dunia baru saja bikin heboh jagat maya Indonesia. Angka 64,2% penduduk RI hidup di bawah garis kemiskinan sempat viral lewat infografis Kompas.com. Angka ini memicu pertanyaan besar: benarkah dua pertiga rakyat Indonesia miskin? Jawabannya tidak sesederhana itu, dan penjelasannya justru menarik untuk kita kupas.

Duduk perkaranya begini. Data itu berasal dari laporan Macro Poverty Outlook edisi April 2026 milik Bank Dunia, bukan data resmi pemerintah Indonesia. Sementara itu, Badan Pusat Statistik mencatat angka kemiskinan RI per Maret 2026 cuma di kisaran 8,07%, setara 22,93 juta orang. Selisihnya jauh banget, kan? Nah, di situlah letak kuncinya: dua lembaga ini pakai penggaris yang beda sama sekali.

Kenapa Angkanya Bisa Sejauh Itu?

Standar kemiskinan Bank Dunia untuk negara berpendapatan menengah atas (upper-middle income) mematok garis USD8,30 per kapita per hari. Bank Dunia menghitungnya pakai metode Purchasing Power Parity (PPP) 2021. Nilai ini setara sekitar Rp35.000-40.000 per hari setelah menyesuaikan daya beli lokal. Masalahnya, angka USD8,30 ini bukan cerminan kebutuhan dasar spesifik orang Indonesia. Angka ini justru median garis kemiskinan dari kumpulan negara sekelas Indonesia di kategori pendapatan yang sama.

BPS sendiri punya pendekatan berbeda. BPS menyusun garis kemiskinan nasional berdasarkan kebutuhan kalori minimum plus kebutuhan non-pangan dasar. Mereka menyesuaikannya dengan kondisi riil masyarakat Indonesia. Jadi wajar kalau hasilnya jauh lebih rendah dibanding standar global yang Bank Dunia patok.

Indonesia Baru “Naik Kelas”, Tapi Ada Konsekuensinya

Poin menarik lain, posisi Indonesia baru saja bergeser ke kategori upper-middle income country. Gross National Income per kapita RI tercatat USD5.120 pada 2025. Angka ini cuma sedikit di atas ambang bawah kategori ini, yang berkisar USD4.636 sampai USD14.375.

Begitu status ekonomi naik kelas, standar kemiskinan yang Bank Dunia pakai buat mengukur Indonesia otomatis ikut naik jadi USD8,30. Angka ini jauh lebih tinggi dari standar sebelumnya untuk negara berpendapatan menengah bawah. Efeknya, penduduk yang sebenarnya sudah keluar dari kemiskinan versi standar lama tiba-tiba “masuk lagi” ke kategori miskin. Ini terjadi begitu kita mengukurnya pakai standar baru. Ironis memang, tapi begitulah cara kerja metodologi pembanding internasional.

Posisi Indonesia di ASEAN

Laporan yang sama menempatkan Indonesia di urutan keempat tertinggi di antara 11 negara ASEAN dan negara pembanding lain. Tiga negara di atasnya adalah Timor-Leste (71,7%), India (70,7%), dan Laos (68,6%). Filipina, Afrika Selatan, sampai Brasil justru mencatat angka lebih rendah dari Indonesia menurut standar yang sama. Thailand dan Malaysia ada di posisi paling bawah daftar itu, mencerminkan gap kesejahteraan yang cukup lebar di kawasan ini.

Jadi, Mana yang Harus Dipercaya?

Bank Dunia sendiri sebenarnya sudah mengakui, pemerintah lebih tepat memakai garis kemiskinan nasional versi BPS untuk pengambilan kebijakan dalam negeri. Standar kemiskinan Bank Dunia lebih cocok buat perbandingan lintas negara, bukan acuan tunggal buat menilai kondisi riil di lapangan. Kedua angka ini sejatinya menjawab pertanyaan berbeda, jadi membandingkannya secara langsung justru menyesatkan.

Ada satu hal yang pasti buat pembaca yang penasaran soal makna angka ini bagi kebijakan sosial. Kelompok masyarakat yang berada di antara dua garis kemiskinan itu tetap perlu perhatian serius. Mereka rentan jatuh miskin lagi kalau ada guncangan ekonomi mendadak, mulai dari lonjakan harga pangan sampai PHK massal.

Data dan proyeksi di atas bersifat dinamis, mengikuti pembaruan laporan resmi dari Bank Dunia maupun rilis terbaru BPS. Selalu cek sumber data terkini sebelum menjadikannya rujukan analisis atau kebijakan.

F
Firmansyah ✔ Jurnalis Terverifikasi

Jurnalis Kebaruan.com · Meliput isu ekonomi, politik, dan peristiwa terkini dengan integritas jurnalistik.

✎ Ditulis & ditinjau editor   |   ↻ Diperbarui 13 Juni 2026   |   Kebijakan editorial   Metodologi
  • Penulis: firmansyah

Rekomendasi Untuk Anda

  • Persija Jakarta Resmi Gandeng Adidas, Jersey Baru Meluncur 29 Agustus 2026

    Persija Jakarta Resmi Gandeng Adidas, Jersey Baru Meluncur 29 Agustus 2026

    • calendar_month Senin, 22 Jun 2026
    • account_circle Firmansyah
    • visibility 178
    • 0Komentar

    Kebaruan.com Senin, 22 Juni 2026, menjadi hari bersejarah bagi Persija Jakarta. Klub kebanggaan ibu kota ini resmi menjalin kerja sama dengan raksasa apparel asal Jerman, Adidas. Penandatanganan perjanjian berlangsung di Adidas Brand Center, Grand Indonesia, Jakarta — lokasi yang cukup ikonik untuk momentum sebesar ini. Adidas menghadirkan Senior Manager Brand Activation-nya, Cinita Dewi Mayakatri. Sementara […]

  • Investor Asing Serbu Indonesia, Ini Sektor dan Negara Penyumbang Terbesar

    Investor Asing Serbu Indonesia, Ini Sektor dan Negara Penyumbang Terbesar

    • calendar_month Selasa, 11 Agt 2026
    • account_circle Firmansyah
    • visibility 80
    • 0Komentar

    Kebaruan.com Minat investor global terhadap Indonesia belum surut. Sepanjang semester I 2026, penanaman modal asing (PMA) mencapai Rp507,6 triliun, hampir seimbang dengan penanaman modal dalam negeri sebesar Rp502,9 triliun. Angka ini membuktikan satu hal: Indonesia masih jadi incaran dana asing, meski dunia menghadapi banyak ketidakpastian. Singapura Masih Jadi Raja Investor Dari sisi asal negara, satu […]

  • 5 Aplikasi Penghasil Uang Tanpa Deposit 2026: Terbukti Membayar

    5 Aplikasi Penghasil Uang Tanpa Deposit 2026: Terbukti Membayar

    • calendar_month Selasa, 21 Apr 2026
    • account_circle Firmansyah
    • visibility 264
    • 0Komentar

    Kebaruan.com Banyak orang terjebak dalam aplikasi yang menjanjikan kekayaan instan namun ujung-ujungnya meminta deposit atau menyedot data pribadi. Di tahun 2026 ini Aku akan kasih tau ke kamu Aplikasi Penghasil Uang yang pasti di bayar dan, ekosistem ekonomi digital sudah lebih matang. Berdasarkan pengamatan saya terhadap tren gig economy saat ini, uang yang masuk ke […]

  • Viral Pria di Ethiopia Coba Membelah Laut Malah Nyaris Tenggelam

    Viral Pria di Ethiopia Coba Membelah Laut Malah Nyaris Tenggelam

    • calendar_month Selasa, 26 Mei 2026
    • account_circle Firmansyah
    • visibility 165
    • 0Komentar

    Kebaruan.com Media sosial global mendadak gempar oleh sebuah rekaman video unik yang memperlihatkan fenomena tidak biasa. Seorang pria di Ethiopia mendadak viral setelah melakukan aksi nekat di luar nalar, yaitu mencoba membelah laut layaknya kisah legendaris Nabi Musa. Ratusan ribu pasang mata langsung menyoroti unggahan video amatir tersebut karena mengandung unsur bahaya yang sangat tinggi […]

  • Progres Negosiasi Ekspor Listrik Indonesia ke Singapura: Menunggu Harga yang Adil

    Progres Negosiasi Ekspor Listrik Indonesia ke Singapura: Menunggu Harga yang Adil

    • calendar_month Selasa, 7 Jul 2026
    • account_circle Firmansyah
    • visibility 85
    • 0Komentar

    Kebaruan.com Indonesia saat ini sedang mematangkan rencana pengiriman listrik ke Singapura. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyampaikan bahwa proses negosiasi masih berjalan hingga saat ini. Pemerintah ingin memastikan setiap aspek teknis serta komersial sudah selaras sebelum proyek besar ini resmi meluncur. Bahlil menekankan bahwa Kementerian ESDM memegang kendali penuh atas regulasi, […]

  • Bahaya Sering Mengonsumsi Makanan Siap Saji bagi Kesehatan

    Bahaya Sering Mengonsumsi Makanan Siap Saji bagi Kesehatan

    • calendar_month Kamis, 18 Jun 2026
    • account_circle Firmansyah
    • visibility 96
    • 0Komentar

    Kebaruan.com Kebiasaan sering mengonsumsi makanan siap saji atau fast food kini menjadi tantangan kesehatan yang nyata bagi banyak orang. Kepraktisan yang ditawarkan seringkali membuat kita mengabaikan kandungan nutrisi di dalamnya. Padahal, makanan ini umumnya mengandung tinggi natrium, lemak jenuh, serta kalori berlebih yang kurang baik bagi organ tubuh. Jika pola makan ini terus dipertahankan dalam […]

expand_less