Kebaruan.com Nama Kampung Bahari kerap muncul di headline media. Setiap kali polisi atau BNN menggelar razia narkoba di Jakarta, kawasan ini jadi sorotan. Lokasinya berada di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Letaknya tidak jauh dari Terminal dan Stasiun Tanjung Priok. Bagi warga ibu kota, nama kampung ini identik dengan satu label: kampung narkoba.
Secara geografis, Kampung Bahari punya lima ruas jalan utama. Jalan-jalan itu diberi nama Jalan Bahari I sampai Jalan Bahari V. Jalan utamanya sempit, hanya muat satu mobil. Gang-gang kecil di sekitarnya cuma bisa dilewati sepeda motor. Kepadatan penduduk di sini cukup tinggi. Rumah-rumah semipermanen berderet rapat di sepanjang rel kereta yang melintasi kawasan tersebut.
Kenapa Disebut Kampung Narkoba?
Label “kampung narkoba” bukan tanpa alasan. Kawasan ini menjadi target operasi berulang dari kepolisian dan BNN sejak bertahun-tahun lalu. Salah satu operasi besar terjadi pada awal November 2025. Kepala BNN RI, Komjen Suyudi Ario Seto, turun langsung memimpin razia gabungan. Sebanyak 700 personel dari BNN, Polda Metro Jaya, Brimob, dan Polres Jakarta Utara ikut dalam operasi ini.
Hasil operasi itu cukup mengejutkan. Petugas menemukan hampir 90 kilogram sabu dan ratusan pil ekstasi. Mereka juga menyita ganja, uang tunai lebih dari Rp1,4 miliar, senjata api, dan senjata tajam. Razia serupa pernah terjadi sebelumnya. Pada Juli 2024, polisi menggelar Operasi Nila Jaya di kampung ini. Puluhan warga sempat diamankan saat itu. Sebagian dari mereka terbukti positif narkoba lewat tes urine.
Kondisi Sosial di Dalam Kampung
Di balik reputasi buruknya, Kampung Bahari tetap jadi rumah bagi ribuan keluarga. Mereka menjalani hidup normal sehari-hari seperti warga kota lainnya. Sebagian warga berjualan di pasar. Sebagian lain membuka warung kecil atau bekerja serabutan di sekitar pelabuhan. Pindah dari kampung ini bukan pilihan mudah bagi mereka. Sumber penghasilan sudah terlanjur menyatu dengan lingkungan tempat tinggal.
Kompas pernah mengangkat situasi ini dalam sebuah liputan mendalam. Pengunjung dari luar kerap mendapat pengawasan ketat begitu memasuki gang-gang sempit kampung ini. Petugas bahkan sudah memetakan kawasan ke dalam beberapa titik pengawasan, dari A1 sampai A10. Pemetaan ini memudahkan pemantauan aktivitas peredaran narkoba di lapangan.
Upaya Pemulihan yang Terus Berjalan
Aparat tidak hanya mengandalkan penindakan hukum di Kampung Bahari. Mereka juga menggalakkan pendekatan sosial lewat sosialisasi P4GN, singkatan dari Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkotika. Kombes Pol Mukti Juharsa, mantan Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya, pernah menyambangi kampung ini secara langsung. Ia mengajak warga bersama-sama membasmi narkoba lewat edukasi keluarga sejak dini.
Meski begitu, stigma “kampung narkoba” belum sepenuhnya hilang. Razia demi razia terus berulang dari tahun ke tahun. Kondisi ini menandakan persoalan di kawasan tersebut jauh lebih kompleks daripada sekadar penegakan hukum. Faktor ekonomi, kepadatan penduduk, dan lemahnya pengawasan jadi akar masalah utama. Ketiga faktor ini membuat peredaran narkoba sulit diberantas tuntas dari wilayah tersebut.
Intinya
Kampung Bahari bukan sekadar nama kawasan biasa di peta Jakarta Utara. Kawasan ini mencerminkan kompleksitas masalah sosial di kota besar. Penegakan hukum, kondisi ekonomi warga, dan stigma publik saling berkelindan di sini. Banyak orang penasaran soal asal-usul labelnya sebagai kampung narkoba. Jawabannya ada pada rentetan razia panjang yang terus terjadi hingga hari ini.
