Patung “Najma” Berwarna Biru Picu Kontroversi di Pameran Desert X AlUla

Kebaruan.com Sebuah karya seni berjudul Najma menjadi sorotan tajam sejak dipamerkan dalam ajang Desert X AlUla 2026. Patung berwarna biru elektrik ini menggambarkan sosok wanita duduk bermeditasi dalam posisi lotus. Karya ini ditempatkan megah di atas hamparan batu raksasa kawasan Wadi Al Fann.

Lokasi yang Membuat Kontroversi Kian Sensitif

Seniman asal Santa Monica, Amerika Serikat, Lita Albuquerque, menciptakan karya ini. Penempatan patung menjadi persoalan tersendiri karena Wadi Al Fann berada dalam wilayah administratif Madinah. Kawasan ini menyimpan nilai historis dan religius yang sangat penting bagi umat Islam.

Instalasi ini segera menjadi bahan perbincangan luas. Representasi figur manusia, apalagi dalam bentuk tubuh wanita, dianggap sensitif ketika muncul di ruang yang identik dengan nilai keagamaan.

Kritik dari Kalangan Konservatif

Sejumlah kalangan konservatif menilai kehadiran patung figuratif ini tidak sejalan dengan tradisi seni Islam. Tradisi ini cenderung menghindari penggambaran makhluk bernyawa selama berabad-abad, terutama di ruang-ruang dengan sensitivitas keagamaan tinggi.

Sebagian pihak bahkan menyebut karya ini sebagai “berhala”. Istilah ini langsung memicu perdebatan luas di media sosial dan kalangan agamawan Arab Saudi. Perdebatan tersebut mencerminkan ketegangan lama antara ekspresi seni kontemporer dan nilai-nilai keagamaan lokal.

Penjelasan Pihak Penyelenggara

Penyelenggara Desert X AlUla merespons kritik ini dengan penjelasan yang cukup gamblang. Pameran tahun ini menghadirkan total 14 instalasi seni berskala besar, tersebar di sepanjang lanskap gurun AlUla yang dramatis dan ikonik.

Menurut penyelenggara, tujuan pameran bukan sekadar memamerkan karya seni semata. Mereka ingin membangun dialog lintas budaya. Mereka juga ingin memperkenalkan kekayaan sejarah AlUla sebagai jalur perdagangan kuno yang pernah menjadi pusat peradaban penting di Jazirah Arab.

Pameran ini menjadi bagian dari strategi yang lebih besar. Desert X AlUla mendukung sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, dua pilar utama dalam program transformasi nasional Arab Saudi.

Ketika Modernisasi Bertemu Tradisi

Polemik ini menunjukkan satu hal penting. Transformasi sebuah negara tidak melulu soal pembangunan infrastruktur atau derasnya investasi asing. Ada wilayah yang jauh lebih sensitif untuk disentuh—identitas budaya, tradisi leluhur, dan cara masyarakat memaknai keberadaan mereka sendiri.

Arab Saudi berada di persimpangan menarik saat ini. Negara ini ingin membuka diri lebih luas kepada dunia seni internasional dan pariwisata global. Namun, akar nilai keagamaan yang tertanam kuat selama berabad-abad tidak bisa begitu saja diabaikan.

Kasus Najma pada akhirnya menjadi cermin dinamika ini. Ini adalah pengingat bahwa setiap langkah modernisasi selalu membawa konsekuensi budaya. Konsekuensi ini perlu dikelola dengan hati-hati, bukan sekadar diselesaikan lewat argumen ekonomi atau pariwisata semata.