Kenapa BBM Makassar Sulit Didapat? Ini Penyebab Sebenarnya Menurut Pemerintah
- account_circle Firmansyah
- calendar_month Selasa, 15 Sep 2026
- visibility 19
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kebaruan. BBM Makassar jadi barang langka sejak sebulan terakhir. Antrean kendaraan mengular di hampir semua SPBU kota ini, bahkan meluber sampai badan jalan sepanjang beberapa kilometer. Sebagian pengemudi rela menginap semalaman di SPBU cuma demi memastikan tangki mereka terisi keesokan harinya.
Kondisi ini bukan cuma soal tangki kosong. Sekolah sampai perguruan tinggi terpaksa beralih ke pembelajaran daring, sementara aparatur sipil negara diminta bekerja dari rumah demi menekan mobilitas warga. Berikut penjelasan lengkap soal penyebab krisis BBM di Makassar ini.
Lonjakan Konsumsi Pertalite Jadi Pemicu Utama
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkap penyebab utama di balik antrean panjang ini. Banyak masyarakat yang sebelumnya memakai BBM nonsubsidi kini beralih ke Pertalite. Kenaikan harga BBM nonsubsidi mendorong perpindahan konsumsi secara masif dalam waktu singkat.
Data Pertamina Patra Niaga turut memperkuat temuan ini. Kebutuhan Solar bersubsidi bahkan naik sekitar 10 sampai 15 persen sepanjang Juni hingga Agustus 2026. Lonjakan permintaan sebesar ini jelas membebani kapasitas distribusi normal di lapangan.
Dugaan Penimbunan dan Modifikasi Tangki
Selain lonjakan konsumsi wajar, satuan tugas gabungan menemukan sejumlah kejanggalan di lapangan. Beberapa kendaraan melakukan transaksi berulang dalam satu hari di SPBU yang sama. Ada pula kendaraan bertangki modifikasi berkapasitas besar, bahkan sampai 700 liter hingga satu ton, yang dipakai untuk menimbun BBM subsidi.
Bahlil sendiri mengakui temuan janggal ini di lapangan. Praktik semacam ini jelas memperparah kelangkaan bagi masyarakat yang benar-benar butuh BBM untuk kebutuhan harian. Fenomena panic buying pun ikut menambah tekanan terhadap stok yang sudah menipis di berbagai titik SPBU.
Langkah Pemerintah Mengurai Antrean
Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan bersama Pertamina langsung mengambil beberapa langkah darurat. Berikut ringkasan kebijakan yang sudah diterapkan:
- Pembentukan satuan tugas gabungan TNI, Polri, Satpol PP, Dishub, dan ESDM untuk mengawasi langsung penyaluran BBM di SPBU
- Penerapan sistem ganjil-genap untuk pembelian BBM bersubsidi pada 13 sampai 20 September 2026
- Pembatasan pembelian Pertalite maksimal Rp50.000 untuk motor dan Rp300.000 untuk mobil
- Operasional 25 SPBU selama 24 jam penuh di Makassar
- Pendirian SPBU modular di kawasan Center Point of Indonesia sebagai titik pengisian tambahan
Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman turut meminta pemerintah pusat menambah kuota BBM khusus untuk Sulsel. Permintaan tambahan kuota ini penting mengingat lonjakan konsumsi yang jauh melampaui perkiraan awal.
Dampak Krisis Terhadap Aktivitas Warga
Krisis BBM Makassar ini berdampak luas ke berbagai sektor kehidupan warga. Harga Pertalite eceran bahkan sempat menembus Rp35 ribu per liter di sejumlah titik penjualan tak resmi. Pemkot Makassar akhirnya memberlakukan pembelajaran jarak jauh bagi siswa PAUD sampai perguruan tinggi selama 12 hingga 19 September 2026.
Pengemudi ojek online sempat memprotes kebijakan ganjil-genap karena dianggap menghambat mata pencaharian mereka. Pemerintah akhirnya mengecualikan ojol dari aturan tersebut, asalkan menunjukkan aplikasi dan atribut resmi saat mengisi BBM.
Kapan Krisis Ini Diperkirakan Selesai
Kementerian ESDM membantah adanya kelangkaan pasokan secara nasional. Menurut mereka, akar masalahnya lebih ke soal distribusi dan lonjakan permintaan mendadak, bukan stok BBM nasional yang menipis. Pertamina terus mengoptimalkan operasional mobil tangki selama 24 jam untuk mempercepat pengiriman ke seluruh SPBU di Makassar dan sekitarnya.
Warga Makassar disarankan tetap bersabar sembari mengikuti perkembangan kebijakan terbaru lewat kanal resmi Pemprov Sulsel dan Pertamina. Jangan tergoda ikut menimbun BBM, karena tindakan tersebut justru memperpanjang antrean bagi masyarakat lain yang benar-benar membutuhkan.
- Penulis: Firmansyah
