276 Warga Batang Keracunan Usai Santap MBG, Telur Jadi Dugaan Awal
- account_circle Firmansyah
- calendar_month 18 jam yang lalu
- visibility 8
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kebaruan. Kabupaten Batang jadi daerah terbaru yang mencatat kasus keracunan massal dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Wakil Bupati Batang Suyono melaporkan 276 warga di Kecamatan Bawang mengeluhkan gejala mual dan pusing usai menyantap menu MBG pada Selasa (22/9).
Empat fasilitas kesehatan langsung dikerahkan Pemkab Batang untuk menangani korban, yakni Puskesmas Batang, RSU Limpung, Puskesmas Subah, dan RSUD Kalisari Batang. “Kita berikan layanan di sejumlah tempat layanan kesehatan, seperti Puskesmas Batang, RSU Limpung, Puskesmas Subah, dan RSUD Kalisari Batang,” kata Suyono saat ditemui di RSUD Kalisari, Rabu (23/9) malam.
Kronologi Keracunan MBG di Batang
Gejala mulai muncul beberapa jam setelah santap siang. Para siswa mengonsumsi MBG sekitar pukul 11.00 WIB, tapi keluhan baru terasa sore hari, sekitar pukul 13.00 hingga 14.00 WIB. Selain pelajar, sejumlah orang tua murid ikut merasakan gejala serupa setelah mencicipi sisa makanan yang dibawa pulang anak mereka.
RSUD Kalisari mencatat lonjakan pasien signifikan malam itu. Belasan ambulans keluar masuk rumah sakit sejak pukul 19.13 WIB hingga menjelang pukul 21.00 WIB. Hingga pukul 21.00 WIB, sebanyak 20 pasien dari Kecamatan Bawang menjalani perawatan akibat dugaan keracunan tersebut.
Telur Diduga Jadi Penyebab Keracunan
Suyono mengungkap dugaan awal mengarah pada menu telur yang disajikan dalam paket MBG hari itu. “Telur, makan telur, rasanya beda. Setelahnya menjadi mual. Tadi saya tanya pusing dan mual,” ungkapnya.
Meski begitu, dugaan ini belum bisa dipastikan sebagai penyebab tunggal sebelum hasil laboratorium keluar. Pemkab Batang sudah menginstruksikan Dinas Kesehatan mengambil sampel makanan MBG untuk diperiksa lebih lanjut. “Kita tunggu bersama, sambil menunggu hasil lab. Tadi saya sudah telepon Dinas Kesehatan agar mengambil sampel,” tuturnya.
Skala Dampak: 11 Titik Penerima Manfaat Terdampak
Seluruh korban keracunan MBG di Batang menerima makanan dari satu dapur SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) yang sama. Dapur tersebut melayani 11 titik penerima manfaat di Kecamatan Bawang, dengan total 2.700 penerima manfaat secara keseluruhan.
Titik-titik yang terdampak meliputi TK Al Ikhlas, SDN 3 Bawang, TK Pertiwi, MA Sunan Kalijaga, MTs Sunan Kalijaga, TK Kuncup Mekar, TP Ananda, Pos PAUD Anggrek Mas, TK Korotayun, RA Al Hidayah, dan MI Salafiyah Pasusukan. Cakupan yang luas ini menjelaskan kenapa jumlah korban bisa melonjak hingga ratusan orang dalam waktu singkat.
SPPG Dihentikan Sementara, Pengelola Dipanggil
Pemkab Batang langsung menghentikan sementara operasional SPPG yang menyediakan MBG bagi warga terdampak. “Ya diberhentikan sementara ini SPPG yang itu. Yang bersangkutan berhenti,” tegas Suyono.
Pemerintah daerah berencana memanggil koordinator wilayah dan pengelola dapur untuk dimintai keterangan serta pertanggungjawaban penuh. Suyono menegaskan tindakan lebih lanjut bisa diambil apabila ditemukan pelanggaran SOP dalam proses pengolahan makanan.
“Ini rawan sekali. Sekali lagi, yang mempunyai SPPG, hati-hati. SOP dipegang teguh, jangan sampai menimbulkan keracunan berikutnya yang bahkan bisa mengancam nyawa manusia,” tegasnya kepada seluruh pengelola dapur MBG lainnya.
Belum Ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa
Soal status Kejadian Luar Biasa (KLB), Pemkab Batang masih menahan diri untuk mengambil keputusan resmi. “Saya belum bisa mengambil bahasa KLB, Kejadian Luar Biasa. Karena nanti harus ada rapat tersendiri kalau itu,” jelas Suyono.
Kasus di Batang ini menambah daftar panjang insiden keracunan terkait program MBG belakangan ini, menyusul kasus serupa yang menimpa 413 siswa dan tenaga pendidik di sebuah SMK Yogyakarta, serta 431 santri di Sidoarjo. Pola berulang ini memunculkan sorotan publik terhadap standar keamanan pangan di seluruh dapur SPPG se-Indonesia.
Harapan Pemkab Batang ke Depan
Pemkab Batang saat ini masih menunggu perkembangan kondisi seluruh penerima manfaat, sekaligus hasil pemeriksaan sampel makanan dari laboratorium. Suyono berharap kejadian serupa tidak lagi berulang di wilayahnya maupun daerah lain yang menjalankan program MBG.
“Sekali lagi ini menjadi keprihatinan kita bersama. Semoga kejadian ini menjadi kejadian yang terakhir,” pungkasnya, menegaskan pentingnya pengawasan ket
- Penulis: Firmansyah
