Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » Internasional » Standar Kemiskinan Bank Dunia Sebut 64,2% Warga RI Miskin, Kok Beda dari BPS?

Standar Kemiskinan Bank Dunia Sebut 64,2% Warga RI Miskin, Kok Beda dari BPS?

  • account_circle Nuafal
  • calendar_month 41 menit yang lalu
  • visibility 3
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kebaruan.com Standar kemiskinan Bank Dunia baru saja bikin heboh jagat maya Indonesia. Angka 64,2% penduduk RI hidup di bawah garis kemiskinan sempat viral lewat infografis Kompas.com. Angka ini memicu pertanyaan besar: benarkah dua pertiga rakyat Indonesia miskin? Jawabannya tidak sesederhana itu, dan penjelasannya justru menarik untuk kita kupas.

Duduk perkaranya begini. Data itu berasal dari laporan Macro Poverty Outlook edisi April 2026 milik Bank Dunia, bukan data resmi pemerintah Indonesia. Sementara itu, Badan Pusat Statistik mencatat angka kemiskinan RI per Maret 2026 cuma di kisaran 8,07%, setara 22,93 juta orang. Selisihnya jauh banget, kan? Nah, di situlah letak kuncinya: dua lembaga ini pakai penggaris yang beda sama sekali.

Kenapa Angkanya Bisa Sejauh Itu?

Standar kemiskinan Bank Dunia untuk negara berpendapatan menengah atas (upper-middle income) mematok garis USD8,30 per kapita per hari. Bank Dunia menghitungnya pakai metode Purchasing Power Parity (PPP) 2021. Nilai ini setara sekitar Rp35.000-40.000 per hari setelah menyesuaikan daya beli lokal. Masalahnya, angka USD8,30 ini bukan cerminan kebutuhan dasar spesifik orang Indonesia. Angka ini justru median garis kemiskinan dari kumpulan negara sekelas Indonesia di kategori pendapatan yang sama.

BPS sendiri punya pendekatan berbeda. BPS menyusun garis kemiskinan nasional berdasarkan kebutuhan kalori minimum plus kebutuhan non-pangan dasar. Mereka menyesuaikannya dengan kondisi riil masyarakat Indonesia. Jadi wajar kalau hasilnya jauh lebih rendah dibanding standar global yang Bank Dunia patok.

Indonesia Baru “Naik Kelas”, Tapi Ada Konsekuensinya

Poin menarik lain, posisi Indonesia baru saja bergeser ke kategori upper-middle income country. Gross National Income per kapita RI tercatat USD5.120 pada 2025. Angka ini cuma sedikit di atas ambang bawah kategori ini, yang berkisar USD 4.636 sampai USD 14.375.

Begitu status ekonomi naik kelas, standar kemiskinan yang Bank Dunia pakai buat mengukur Indonesia otomatis ikut naik jadi USD8,30. Angka ini jauh lebih tinggi dari standar sebelumnya untuk negara berpendapatan menengah ke bawah. Efeknya, penduduk yang sebenarnya sudah keluar dari kemiskinan versi standar lama tiba-tiba “masuk lagi” ke kategori miskin. Ini terjadi begitu kita mengukurnya pakai standar baru. Ironis memang, tapi begitulah cara kerja metodologi pembanding internasional.

Posisi Indonesia di ASEAN

Laporan yang sama menempatkan Indonesia di urutan keempat tertinggi di antara 11 negara ASEAN dan negara pembanding lain. Tiga negara di atasnya adalah Timor-Leste (71,7%), India (70,7%), dan Laos (68,6%). Filipina, Afrika Selatan, sampai Brasil justru mencatat angka lebih rendah dari Indonesia menurut standar yang sama. Thailand dan Malaysia ada di posisi paling bawah daftar itu, mencerminkan gap kesejahteraan yang cukup lebar di kawasan ini.

Jadi, mana yang harus dipercaya?

Bank Dunia sendiri sebenarnya sudah mengakui, pemerintah lebih tepat memakai garis kemiskinan nasional versi BPS untuk pengambilan kebijakan dalam negeri. Standar kemiskinan Bank Dunia lebih cocok buat perbandingan lintas negara, bukan acuan tunggal buat menilai kondisi riil di lapangan. Kedua angka ini sejatinya menjawab pertanyaan berbeda, jadi membandingkannya secara langsung justru menyesatkan.

Ada satu hal yang pasti buat pembaca yang penasaran soal makna angka ini bagi kebijakan sosial. Kelompok masyarakat yang berada di antara dua garis kemiskinan itu tetap perlu perhatian serius. Mereka rentan jatuh miskin lagi kalau ada guncangan ekonomi mendadak, mulai dari lonjakan harga pangan sampai PHK massal.

Data dan proyeksi di atas bersifat dinamis, mengikuti pembaruan laporan resmi dari Bank Dunia maupun rilis terbaru BPS. Selalu cek sumber data terkini sebelum menjadikannya rujukan analisis atau kebijakan.

N
Nuafal ✔ Terverifikasi Kebaruan.com

Suka menelusuri angka di balik berita ekonomi, biar pembaca nggak cuma tahu "apa yang terjadi", tapi juga "kenapa itu penting" buat dompet mereka.

✎ Ditulis & disunting redaksi   |   ↻ Diperbarui 3 September 2026   |   Pedoman Media Siber   Metodologi Peliputan
  • Penulis: Nuafal

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kemeriahan Solo Menari 2026: 1.700 Penari Kipas Padati Titik Nol Kota Budaya

    Kemeriahan Solo Menari 2026: 1.700 Penari Kipas Padati Titik Nol Kota Budaya

    • calendar_month Rabu, 29 Apr 2026
    • account_circle Firmansyah
    • visibility 148
    • 0Komentar

    Kebaruan.com Acara tahunan ini bukan sekadar hiburan semata, melainkan sebuah hasil riset panjang terhadap akar tradisi Nusantara. Heru Mataya, selaku Direktur Program Solo Menari, menjelaskan bahwa kipas terpilih menjadi tema sentral karena memiliki keterikatan kuat dengan berbagai kebudayaan di Indonesia. Melalui tarian kontemporer, penyelenggara ingin melihat bagaimana para seniman mengekspresikan ragam budaya melalui gerakan kipas […]

  • Prabowo Subianto Terbitkan PP Tata Kelola Ekspor Komoditas Sumber Daya Alam

    Prabowo Subianto Terbitkan PP Tata Kelola Ekspor Komoditas Sumber Daya Alam

    • calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
    • account_circle Firmansyah
    • visibility 144
    • 0Komentar

    Kebaruan.com Presiden Prabowo Subianto secara resmi menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) baru yang mengatur tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam pada Rabu (20/5/2026). Kebijakan ini diambil Prabowo Subianto untuk memastikan kekayaan alam Indonesia memberikan dampak maksimal bagi kesejahteraan masyarakat luas. Melalui aturan tersebut, Prabowo Subianto menegaskan bahwa seluruh penjualan ekspor kini harus melalui satu pintu, […]

  • Resmi Meluncur di Indonesia, Ini Spesifikasi dan Harga iPhone 17e dengan Chip A19

    Resmi Meluncur di Indonesia, Ini Spesifikasi dan Harga iPhone 17e dengan Chip A19

    • calendar_month Kamis, 14 Mei 2026
    • account_circle Firmansyah
    • visibility 141
    • 0Komentar

    Kebaruan.com iPhone 17e kini resmi menyapa para pencinta gadget di Tanah Air sejak Rabu (13/5/2026). Sebagai suksesor dari generasi sebelumnya, ponsel ini membawa perubahan besar pada sektor jeroan meskipun masih mengusung bahasa desain yang familiar. Apple nampaknya ingin memberikan opsi bagi pengguna yang menginginkan performa tinggi namun tetap dengan budget yang lebih efisien. Salah satu […]

  • Manfaat Jahe, dari Dapur hingga Pengobatan Rumahan

    Manfaat Jahe, dari Dapur hingga Pengobatan Rumahan

    • calendar_month Rabu, 19 Agt 2026
    • account_circle Firmansyah
    • visibility 112
    • 0Komentar

    Kebaruan.com Rimpang satu ini sudah dipakai orang Indonesia turun-temurun, jauh sebelum istilah “herbal remedy” jadi tren di media sosial. Manfaat Jahe menyimpan segudang kegunaan yang mungkin belum sepenuhnya Anda ketahui, mulai dari dapur sampai kotak obat rumahan. Manfaat Jahe untuk Kesehatan 1. Meredakan Mual dan Masalah Pencernaan Kandungan gingerol dalam jahe terbukti efektif meredakan mual, […]

  • Harga Emas Antam Hari Ini 27 Juni 2026, Naik dari Kemarin — Cek Harga per Gram dan Pajaknya

    Harga Emas Antam Hari Ini 27 Juni 2026, Naik dari Kemarin — Cek Harga per Gram dan Pajaknya

    • calendar_month Sabtu, 27 Jun 2026
    • account_circle Firmansyah
    • visibility 121
    • 0Komentar

    Kebaruan.com Buat kamu yang rutin pantau harga emas sebelum memutuskan beli atau jual — ini update terbaru yang perlu kamu catat. Per Sabtu, 27 Juni 2026 pukul 08.30 WIB, Harga Emas Antam tercatat di angka Rp2.660.000 per gram untuk harga dasar. Angka ini naik dibanding posisi beberapa hari sebelumnya yang sempat menyentuh Rp2.655.000. Kenaikan tipis […]

  • Pemerintah Indonesia Perlu Beli Apa Saja untuk Cegah Karhutla Kalimantan Terulang?

    Pemerintah Indonesia Perlu Beli Apa Saja untuk Cegah Karhutla Kalimantan Terulang?

    • calendar_month Rabu, 26 Agt 2026
    • account_circle Firmansyah
    • visibility 42
    • 0Komentar

    Kebaruan.com Pemerintah Indonesia menghadapi tantangan besar setiap kali musim kemarau tiba. Terutama soal kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan. Tahun ini saja, luas areal terbakar di Kalimantan Barat sudah melampaui total kebakaran sepanjang 2025. Angkanya melonjak dari 26.703 hektare jadi 28.680 hektare, padahal baru sampai Juni 2026. Kondisi ini memunculkan satu pertanyaan penting. Investasi apa […]

expand_less