Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » Nasional » Pemerintah Indonesia Perlu Beli Apa Saja untuk Cegah Karhutla Kalimantan Terulang?

Pemerintah Indonesia Perlu Beli Apa Saja untuk Cegah Karhutla Kalimantan Terulang?

  • account_circle Firmansyah
  • calendar_month Rabu, 26 Agt 2026
  • visibility 115
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kebaruan.com Pemerintah Indonesia menghadapi tantangan besar setiap kali musim kemarau tiba. Terutama soal kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan. Tahun ini saja, luas areal terbakar di Kalimantan Barat sudah melampaui total kebakaran sepanjang 2025. Angkanya melonjak dari 26.703 hektare jadi 28.680 hektare, padahal baru sampai Juni 2026. Kondisi ini memunculkan satu pertanyaan penting. Investasi apa saja yang sebenarnya perlu pemerintah Indonesia siapkan, supaya kejadian serupa tidak terus berulang setiap tahun?

Menariknya, respons darurat sudah cukup sering muncul. Contohnya pengerahan helikopter water bombing dan pasukan gabungan TNI-Polri. Tapi kalau kita bicara soal pencegahan jangka panjang, ada beberapa kebutuhan mendasar yang masih perlu penguatan lebih jauh.

Armada Water Bombing yang Lebih Memadai

BNPB memang rutin menambah armada helikopter water bombing setiap kali karhutla meluas. Baru-baru ini, Presiden Prabowo Subianto mengarahkan penambahan 17 unit helikopter water bombing untuk memperkuat penanganan karhutla di Kalimantan. Sebelumnya, provinsi seperti Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan masing-masing baru mengandalkan empat unit helikopter saja.

Masalahnya, penambahan armada ini sering terjadi setelah kebakaran sudah meluas. Bukan sebagai antisipasi sejak awal musim kemarau. Kalau pemerintah Indonesia mau benar-benar mencegah eskalasi kebakaran, armada water bombing idealnya sudah siaga di titik-titik rawan sejak awal tahun. Petugas tidak perlu menunggu titik api menyebar dulu baru mengerahkan armada.

Sistem Deteksi Dini yang Lebih Canggih

Selain armada pemadam, sistem pemantauan titik panas atau hotspot juga jadi kebutuhan krusial. Teknologi satelit dan sensor darat yang terintegrasi bisa membantu petugas mendeteksi potensi kebakaran jauh sebelum api benar-benar membesar. Investasi di sektor ini sebenarnya lebih hemat. Bandingkan saja dengan biaya pemadaman skala besar, tapi dampak pencegahannya jauh lebih signifikan.

Selain itu, drone pemantauan dengan kapasitas jangkauan lebih luas juga penting. Beberapa daerah seperti Jawa Timur masih mengandalkan drone berkapasitas kecil. Kapasitasnya cuma sekitar 150 liter air per penerbangan. Angka ini tentu kurang efektif untuk kebakaran berskala besar seperti di Kalimantan.

Infrastruktur Pendukung di Lapangan

Biaya penanganan karhutla ternyata tidak cuma soal helikopter. Pemerintah Provinsi Riau misalnya, pernah mengajukan proposal hibah senilai Rp3,968 miliar. Anggaran ini mencakup kebutuhan posko, personel satuan tugas udara, bahan bakar, hingga operasional lapangan lainnya. Investasi infrastruktur pendukung seperti posko darurat, kendaraan tangki air, dan alat semprot manual juga sama pentingnya dengan armada udara.

Selain itu, pembangunan sekat kanal dan sistem pembasahan gambut jadi kebutuhan khusus di lahan gambut Kalimantan. Lahan gambut punya karakteristik yang gampang terbakar. Petugas juga kesulitan memadamkannya kalau api sudah menyala di bawah permukaan tanah.

Penguatan Personel dan Pelatihan

Selain peralatan, pemerintah Indonesia juga perlu memperkuat jumlah dan kesiapan personel di lapangan. Pengerahan 1.500 prajurit TNI beserta alat pemadam perorangan menunjukkan betapa besar skala operasi yang karhutla butuhkan saat api sudah meluas. Idealnya, personel Manggala Agni dan relawan Masyarakat Peduli Api mendapat pelatihan rutin serta peralatan standar sebelum musim kemarau tiba. Bukan cuma saat kebakaran sudah terjadi.

Teknologi Modifikasi Cuaca

Operasi Modifikasi Cuaca atau OMC juga jadi bagian penting dari strategi pencegahan karhutla. Contohnya, BNPB baru-baru ini menjalankan operasi penyemaian awan. Total bahan semai yang mereka gunakan mencapai 3.000 kilogram, untuk mendorong hujan di wilayah rawan karhutla. Teknologi ini butuh pesawat khusus dan bahan semai yang harus tersedia dalam jumlah cukup, terutama menjelang puncak musim kemarau.

Kesimpulan: Investasi Pencegahan Lebih Hemat dari Pemadaman

Coba kita bandingkan. Biaya menyiapkan sistem deteksi dini, armada water bombing yang siaga sejak awal, serta infrastruktur pendukung di lahan gambut jauh lebih terjangkau. Bandingkan dengan biaya pemadaman darurat yang bisa mencapai ratusan juta rupiah per operasi. Pemerintah Indonesia idealnya menggeser fokus anggaran dari reaktif ke preventif. Dengan begitu, kejadian karhutla besar seperti yang terjadi di Kalimantan tahun ini tidak terus berulang setiap musim kemarau.

F
Firmansyah ✔ Jurnalis Terverifikasi

Jurnalis Kebaruan.com · Meliput isu ekonomi, politik, dan peristiwa terkini dengan integritas jurnalistik.

✎ Ditulis & ditinjau editor   |   ↻ Diperbarui 13 Juni 2026   |   Kebijakan editorial   Metodologi
  • Penulis: Firmansyah

Rekomendasi Untuk Anda

  • 5 jurnalis hilang kontak selat sunda

    5 Jurnalis Hilang Kontak di Selat Sunda Saat Liput Erupsi Anak Krakatau

    • calendar_month Rabu, 9 Sep 2026
    • account_circle Akmal
    • visibility 94
    • 0Komentar

    Kebaruan. Kabar 5 jurnalis hilang kontak di perairan Selat Sunda menyita perhatian publik sejak Selasa, 8 September 2026. Rombongan itu berangkat untuk meliput erupsi Gunung Anak Krakatau, namun speedboat yang mereka tumpangi tak kunjung kembali ke daratan. Kronologi Keberangkatan Rombongan Rombongan bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, pada Senin 7 September 2026 sekitar […]

  • Sakit Kepala Saat Bangun Tidur

    Sakit Kepala Saat Bangun Tidur, Ini Penyebab yang Sering Terabaikan

    • calendar_month Senin, 21 Sep 2026
    • account_circle Firmansyah
    • visibility 58
    • 0Komentar

    Kebaruan. Sakit kepala saat bangun tidur sering bikin momen pagi hari terasa berat sejak menit pertama membuka mata. Alih-alih segar setelah beristirahat semalaman, banyak orang justru harus berjuang melawan rasa nyeri di kepala sebelum bisa memulai aktivitas. Kondisi ini ternyata bukan cuma kebetulan atau efek bangun kesiangan semata. Ada beberapa faktor medis yang bisa memicu […]

  • Antisipasi penjarahan

    Antisipasi Penjarahan Jelang Final Liga Champions, Toko di Paris Pasang Pagar

    • calendar_month Sabtu, 30 Mei 2026
    • account_circle Firmansyah
    • visibility 182
    • 0Komentar

    Kebaruan.com Antisipasi penjarahan menjadi fokus utama pemilik usaha di sepanjang Champs-Élysées, Paris, pada 29 Mei. Antisipasi penjarahan ini muncul karena kekhawatiran akan potensi kerusuhan menjelang laga final Liga Champions UEFA. Banyak pemilik toko memilih memasang pagar pelindung sebagai bentuk antisipasi penjarahan yang nyata. Langkah tegas ini mereka ambil guna meminimalisir risiko kerusakan properti di tengah […]

  • Gempa Magnitudo 7 NTT

    Gempa Magnitudo 7 NTT: Tembok Roboh di Maumere-Labuan Bajo, BMKG Survei Lokasi

    • calendar_month Sabtu, 15 Agt 2026
    • account_circle Firmansyah
    • visibility 212
    • 0Komentar

    Guncangan gempa magnitudo 7 yang mengguncang Mbay, Nagekeo, benar-benar meninggalkan jejak kerusakan. Dampaknya menyebar sampai Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). BMKG mencatat laporan kerusakan masuk dari Maumere hingga Labuan Bajo. Tembok Roboh di Tiga Wilayah Terdampak Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Teguh Rahayu, membeberkan detail kerusakan awal. Ia […]

  • Skara brae skotlandia desa purba

    Skara Brae, Skotlandia: Desa Purba yang Terkubur Pasir Selama Ribuan Tahun

    • calendar_month Sabtu, 29 Agt 2026
    • account_circle Firmansyah
    • visibility 137
    • 0Komentar

    Kebaruan.com Skara Brae menyimpan kisah unik tentang bagaimana badai besar justru membuka pintu menuju masa lalu. Permukiman purba di Kepulauan Orkney ini sempat hilang dari ingatan manusia selama ribuan tahun. Badai dahsyat pada 1850 mengikis bukit pasir dan tanpa sengaja menyingkap struktur batu kuno di bawahnya. Sejak saat itu, dunia arkeologi mengenal Skara Brae sebagai […]

  • Gempa-palu-Gempa Magnitudo

    Gempa Magnitudo 6,7 Guncang Palu, BMKG Pastikan Tidak Ada Potensi Tsunami

    • calendar_month Selasa, 16 Jun 2026
    • account_circle Firmansyah
    • visibility 179
    • 0Komentar

    Kebaruan.com Gempa Magnitudo 6,7 baru saja mengguncang wilayah Palu, Sulawesi Tengah, pada Selasa, 16 Juni 2026. Guncangan ini terjadi tepat pada pukul 10.27 WIB dengan pusat lokasi berada 42 km di tenggara Kota Palu. Warga setempat merasakan getaran yang cukup kuat saat peristiwa ini berlangsung. Fenomena alam ini segera memicu perhatian luas dari masyarakat yang […]

expand_less