Nilai Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Apa Penyebabnya?
- account_circle Firmansyah
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kebaruan. Nilai rupiah ditutup di Rp18.027 per dolar AS pada Jumat (16/10/2026). Mata uang Garuda melemah 0,50% sehari, dan 0,71% dalam sepekan dari posisi Rp17.899. Kurs Google Finance menampilkan angka sedikit berbeda, yakni Rp18.053 per dolar pada pukul 23.58 UTC. Selisih kecil antarsumber itu wajar, karena tiap penyedia data memakai waktu dan mekanisme berbeda.
Mengapa nilai rupiah melemah
Pemicu utamanya datang dari dalam negeri. MSCI, penyedia indeks global, membuka konsultasi pada 15 Oktober untuk menurunkan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market ke Standalone Market. Lembaga itu menyoroti transparansi kepemilikan saham dan dugaan perdagangan terkoordinasi.
Pasar bereaksi keras. IHSG sempat kena trading halt, lalu ditutup anjlok 11,57% ke 5.185,11. Investor asing mencatat jual bersih sekitar Rp3,34 triliun. Sepanjang 2026, indeks sudah merosot sekitar 40%.
Pelemahan itu merembet ke rupiah. Saat investor menjual saham, mereka butuh dolar untuk memindahkan dana keluar. Permintaan dolar naik, dan rupiah tertekan. Rupiah juga menjadi mata uang Asia dengan pelemahan terdalam hari itu.
Namun, faktor global ikut berperan. Inflasi Amerika Serikat naik dan investor mengurangi aset berisiko. Sebaliknya, indeks dolar justru turun di bawah 102. Analis di Kontan menilai tekanan kali ini lebih banyak bersumber dari sentimen domestik.
Respons Bank Indonesia
BI menegaskan pelemahan ini masih terkendali. Bank sentral mengintervensi lewat beberapa jalur: transaksi NDF di pasar luar negeri, transaksi spot dan DNDF di dalam negeri, serta pembelian SBN di pasar sekunder. Cadangan devisa tercatat USD146,3 miliar pada akhir September 2026.
Pemerintah juga bereaksi. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan MSCI semula menjanjikan laporan pada November, tetapi mengumumkannya lebih cepat. Bursa Efek Indonesia menambahkan bahwa Standalone Market bukan kategori terendah, melainkan pasar yang butuh pengawasan khusus soal transparansi.
Cara membaca grafik kurs satu bulan
Grafik Google Finance menunjukkan pola naik-turun. Dolar AS sempat turun ke kisaran Rp17.600 pada akhir September, lalu bergerak di Rp17.800 sampai Rp18.000 sepanjang awal Oktober. Lonjakan terakhir mendorongnya melewati Rp18.000.
Konversinya mudah. Pada Rp18.053, US$100 setara sekitar Rp1,8 juta, dan US$1.000 hampir Rp18,1 juta. Pelancong, pelajar di luar negeri, dan pembeli barang impor merasakan selisih ini lebih dulu.
Yang perlu dipantau berikutnya
Usulan MSCI belum final. Karena itu, arah nilai rupiah pekan depan bergantung pada tiga hal: hasil konsultasi MSCI, arus dana asing di bursa, dan konsistensi intervensi BI. Kontan memproyeksikan arus keluar modal asing masih berlanjut.
Pantau kurs JISDOR dan pengumuman BI untuk angka resmi. Hindari mengambil keputusan penukaran besar berdasarkan satu kutipan harian.
- Penulis: Firmansyah
