Keracunan MBG Cirebon Sekitar 100 Korban, SPPG Ditangguhkan
- account_circle Firmansyah
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 38
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kebaruan. Siang yang biasa berubah cemas di Kelurahan Kalijaga, Kota Cirebon. Selasa (20/10/2026), sekitar 100 orang diduga mengalami keracunan setelah menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG). Keracunan MBG Cirebon ini menimpa siswa taman kanak-kanak dan sekolah dasar, guru, serta peserta posyandu. Badan Gizi Nasional (BGN) langsung menghentikan sementara dapur yang memasok menunya, sedangkan penyebab pastinya masih menunggu hasil laboratorium.
Dari ruang kelas sampai ruang gawat darurat
Anak-anak menerima MBG di sekolah pada pagi hingga siang. Beberapa jam kemudian, sekitar pukul 15.00 WIB, kabar tak enak mulai sampai ke orang tua. Anak-anak mengeluh sakit perut. Setelah itu, sebagian muntah dan diare terus-menerus, dan sebagian lain merasa mual serta pusing.
Menjelang magrib, suasana di depan RS Siloam Putera Bahagia mulai ramai. Orang tua berdatangan sambil menggendong anak. Petugas medis menyiapkan ambulans untuk merujuk pasien ke rumah sakit lain. Korban berasal dari beberapa sekolah, antara lain SDN Kalijaga Permai, SDN Taman Kalijaga Permai, dan TK Teratai.
Empat rumah sakit, sekitar 100 korban
Pasien tersebar di RS Siloam Putera Bahagia, RSUD Gunung Jati, RS Ciremai, dan RS Cahaya Bunda. Wali Kota Cirebon Effendi Edo meninjau penanganan pada malam hari. Ia menyebut jumlah korban kurang lebih 100 orang. Sebagian pasien mulai membaik, dan beberapa sudah boleh pulang.
Satu catatan soal angka: sejumlah media menulis “ratusan” korban, sedangkan pemerintah daerah dan KPPG memakai angka sekitar 100. Petugas masih mendata, jadi jumlah itu bisa berubah. BGN berjanji menanggung seluruh biaya pengobatan korban.
Dapur dihentikan, sampel dibawa ke laboratorium
Malam itu juga, BGN menangguhkan operasional SPPG Kalijaga Lima. Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Cirebon, Yulian Septa Pratama, menyatakan penghentian berlaku sampai batas waktu yang belum ditentukan. Aparat gabungan polisi dan TNI menjaga kantor SPPG di Jalan Pramuka Penggalang sepanjang malam.
Tim mengamankan sampel sup telur puyuh untuk uji laboratorium. Beberapa siswa mengaku telurnya terasa asam. Namun, itu cerita awal dari korban, bukan hasil pemeriksaan. Sampai sekarang, belum ada kesimpulan bahwa menu itu menjadi penyebab langsung.
Cirebon bukan kasus pertama
Kasus ini menambah panjang daftar dugaan keracunan dalam program MBG. Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), yang dikutip Tempo, mencatat 16.109 korban keracunan MBG per 31 Oktober 2025. Setelah rentetan kasus itu, pemerintah menyatakan memperketat prosedur. Karena itu, publik menunggu apakah pengetatan tersebut benar-benar berjalan di dapur SPPG.
Meski begitu, setiap kasus perlu diuji sendiri. Hasil laboratorium akan menunjukkan sumber masalahnya, apakah bakteri, penyimpanan bahan, suhu pengolahan, atau hal lain.
Yang bisa dilakukan orang tua
Pertama, pantau kondisi anak yang makan MBG hari itu. Kedua, segera bawa anak ke fasilitas kesehatan bila muntah terus-menerus, diare, lemas, atau sesak napas. Ketiga, ikuti arahan tenaga medis dan hindari ramuan tanpa dasar medis. Selain itu, simpan informasi menu dan jam makan, karena data itu membantu petugas menelusuri penyebabnya.
Yang ditunggu berikutnya
Tiga hal menentukan arah kasus ini: hasil uji laboratorium, jumlah korban akhir, dan keputusan BGN soal nasib SPPG Kalijaga Lima. Sampai hasilnya keluar, semua keterangan soal penyebab bersifat dugaan.
- Penulis: Firmansyah
