Cegah Kecanduan Bermain HP Ini Peran Orang Tua yang Efektif
- account_circle Firmansyah
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 31
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kebaruan. Anak merengek, orang tua menyodorkan ponsel, dan suasana langsung tenang. Pola itu terasa praktis, tetapi di situlah kecanduan bermain HP sering bermula. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan bahwa orang tua memegang peran terbesar: memberi contoh, mengatur aturan, mendampingi, dan menyiapkan aktivitas pengganti. Tanpa itu, anak mudah terseret ke layar berjam-jam.
1. Mulai dari diri senKecanduan Bermain HPdiri
Anak meniru apa yang dilihatnya. Kalau orang tua sibuk menggulir layar saat makan, anak akan menganggap hal itu wajar. Karena itu, ahli tumbuh kembang pediatri sosial Fitri Hartanto menyarankan orang tua memberi contoh penggunaan gawai yang sehat sebagai langkah pertama.
Praktiknya sederhana. Letakkan ponsel saat makan bersama dan satu jam sebelum tidur. Sisihkan waktu bermain tanpa layar setiap hari.
2. Pegang batas waktu sesuai usia
IDAI mengadaptasi rekomendasi WHO untuk durasi layar. Anak di bawah 2 tahun sebaiknya zero screen time, dan Ketua Umum IDAI Piprim Basarah Yanuarso menegaskan hal itu pada Juni 2026. Anak usia 2 sampai 6 tahun maksimal 1 jam per hari dengan pendampingan, sedangkan usia 6 sampai 12 tahun maksimal 1,5 jam. Remaja kira-kira sekitar 2 jam untuk hiburan.
Angka itu hanya salah satu faktor. IDAI juga mengingatkan bahwa kualitas konten dan waktu penggunaan sama pentingnya. Jadi, pastikan layar tidak mengganggu tidur, gerak badan, dan interaksi langsung.
3. Dampingi, jangan hanya melarang
Larangan tanpa penjelasan sering memancing perlawanan. Sebaliknya, pendampingan membuat anak merasa dihargai. Duduklah bersama saat anak menonton atau bermain, lalu bicarakan isinya. Tanyakan apa yang ia pelajari, siapa yang ia temui secara daring, dan bagaimana perasaannya.
Pendampingan juga melindungi. Tanpa kontrol, anak lebih rentan terhadap perundungan, pelecehan seksual, dan predator online.
4. Pakai fitur teknis sebagai alat bantu
Orang tua bisa memantau penggunaan lewat fitur Screen Time atau Digital Wellbeing. Atur batas waktu untuk aplikasi hiburan dan media sosial yang paling sering dibuka. Matikan notifikasi yang tidak perlu supaya anak tidak terus terdorong membuka ponsel.
Meski begitu, fitur hanya membantu. Aturan keluarga tetap harus jelas dan konsisten.
5. Siapkan alternatif yang menarik
Anak lebih mudah meninggalkan layar jika ada pilihan seru. Ajak bermain di luar, memasak bersama, melukis, berkebun, atau olahraga. Aktivitas fisik juga membantu tidur lebih nyenyak. Ganti layar dengan kegiatan yang melibatkan Anda, bukan sekadar menyuruh anak “main sendiri”.
6. Kenali aturan baru PP Tunas
Pemerintah ikut turun tangan lewat PP Tunas, dengan aturan pelaksana yang berlaku efektif sejak 28 Maret 2026. Anak di bawah 13 tahun hanya boleh memiliki akun di platform berisiko rendah yang dirancang untuk anak, dengan persetujuan orang tua. Usia 13 sampai 15 tahun boleh mengakses layanan berisiko sedang dengan persetujuan orang tua. Usia 16 sampai 18 tahun boleh mengakses layanan berisiko tinggi, termasuk media sosial umum, dengan pengawasan dan persetujuan orang tua.
Aturan itu memberi pegangan hukum. Meski begitu, pengawasan sehari-hari tetap ada di tangan keluarga.
Kapan perlu bantuan profesional
Perhatikan tanda-tanda berikut: anak marah berlebihan saat dibatasi, prestasi menurun, tidur terganggu, atau menarik diri dari teman dan keluarga. Jika tanda itu muncul berulang, konsultasikan ke dokter anak atau psikolog. Informasi ini bersifat umum, bukan pengganti nasihat medis.
- Penulis: Firmansyah
