Abu Vulkanik Anak Krakatau Berpotensi Sampai Jateng-Jatim, Ini Kata BMKG
- account_circle Firmansyah
- calendar_month 8 jam yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kebaruan. Abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau sudah menyelimuti Jakarta dan wilayah sekitarnya. Pertanyaan yang kini muncul di benak banyak orang: bisakah abu vulkanik itu merambah lebih jauh lagi hingga Jawa Tengah dan Jawa Timur? BMKG punya jawabannya.
Semua Bergantung pada Arah Angin
Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menjelaskan bahwa potensi abu vulkanik mencapai Jateng dan Jatim tidak bisa dipastikan secara pasti. Faktor penentunya adalah pergerakan angin di berbagai lapisan atmosfer, yang sifatnya dinamis dan bisa berubah sewaktu-waktu.
Ia menegaskan pergerakan angin di berbagai lapisan atmosfer menentukan apakah abu vulkanik akan meluas ke wilayah timur Pulau Jawa. Artinya, prediksi arah sebaran abu tidak bisa dilepaskan dari kondisi cuaca yang terus berubah dari hari ke hari.
Sebaran Abu Saat Ini Masih di Barat
Sejauh ini, pantauan BMKG menunjukkan abu vulkanik Anak Krakatau lebih dominan bergerak ke wilayah Jawa bagian barat dan Sumatra bagian selatan. Jakarta dan sekitarnya jadi salah satu area yang paling terdampak dari sebaran tersebut.
Meski begitu, Andri mengingatkan situasi ini bisa berubah kapan saja. Ia menyebut sebaran abu berpeluang meluas ke area yang lebih jauh apabila pola angin mendukung pergerakan ke arah tersebut.
Kapan Sebaran Abu Berakhir? Belum Ada Kepastian
Soal durasi sebaran abu vulkanik di Jakarta, BMKG belum bisa memberi jawaban pasti. Alasannya sederhana: aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau sendiri masih berlangsung dan sulit diprediksi kapan akan mereda.
Andri memaparkan bahwa lama tidaknya sebaran abu di Jakarta sangat terkait dengan tingkat aktivitas erupsi, ditambah arah serta kecepatan angin yang berperan besar dalam membawa partikel abu ke berbagai penjuru.
Data Angin di Sekitar Anak Krakatau
Berdasarkan pengamatan atmosfer pada 6 September 2026 pukul 16.00 WIB, BMKG mencatat pola angin di sekitar Anak Krakatau ternyata cukup kompleks. Di lapisan bawah, angin bertiup dari arah tenggara-selatan. Beranjak ke lapisan menengah, arahnya berganti menjadi barat laut-utara. Sementara di lapisan atas, angin justru datang dari utara-timur laut, dengan kecepatan bervariasi antara 2 hingga 30 knot.
Kombinasi arah angin yang berlapis-lapis inilah yang membuat abu vulkanik terdorong ke Jawa bagian barat sekaligus Sumatra bagian selatan. Pola atmosfer seperti ini memang lazim terjadi di wilayah tropis, terutama saat masa transisi musim.
Imbauan BMKG untuk Masyarakat
BMKG mengimbau warga di wilayah terdampak maupun yang berpotensi terdampak abu vulkanik agar tetap mengenakan masker saat beraktivitas di luar ruangan. Langkah ini penting dilakukan selama paparan abu vulkanik masih terdeteksi di udara.
Bagi masyarakat yang memiliki riwayat gangguan pernapasan, sebaiknya lebih waspada dan membatasi aktivitas di luar rumah. Memantau informasi resmi dari BMKG secara berkala juga jadi langkah bijak agar tetap update dengan perkembangan situasi terkini.
- Penulis: Firmansyah
