Kebaruan.com Musim kemarau tahun ini terasa berbeda. BMKG mencatat indeks anomali suhu permukaan laut di kawasan Nino 3.4 sudah menyentuh angka +1,59. Angka ini menandakan El Nino 2026 sudah masuk kategori kuat dan berpeluang naik jadi sangat kuat. Puncaknya diperkirakan jatuh pada Agustus hingga September 2026, dan pemerintah tidak mau kecolongan seperti tahun-tahun sebelumnya.
Ratusan Waduk Jadi Prioritas
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengungkapkan, pihaknya sudah duduk bersama Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PU. Keduanya mempercepat pengisian sekitar 240 bendungan di seluruh Indonesia sebelum dampak kekeringan makin melebar ke berbagai sektor.
Bukan semua waduk kebagian prioritas yang sama. Faisal menjelaskan, tim mendahulukan wilayah dengan potensi kekeringan paling parah. Sektor energi ikut terancam saat pasokan air ke PLTA menipis dan berimbas pada suplai listrik. Operasi modifikasi cuaca pun jadi jawaban BMKG untuk menahan penurunan itu.
Sejumlah lokasi sudah lebih dulu merasakan operasi ini, mulai dari Danau Toba, PLTA Poso di Sulawesi, hingga Daerah Aliran Sungai Citarum di Jawa Barat. Menurut Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto, tim sedang menjalankan operasi di Citarum agar pasokan air untuk energi, pertanian, dan kebutuhan warga tetap aman.
Wilayah Selatan Khatulistiwa Paling Terdampak
Tidak semua daerah kena imbas yang sama. BMKG memprediksi Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, Pulau Jawa, dan Sumatera bagian selatan bakal mengalami penurunan curah hujan paling tajam. Kategorinya rendah sampai sangat rendah saat puncak kemarau tiba. Kondisi ini jelas berbeda dengan La Nina 2025 yang justru membuat kemarau terasa basah.
Pemerintah juga menyiapkan langkah di sektor pangan selain menjaga volume air waduk. Tim mulai menyebar varietas tanaman tahan kekeringan dan menyesuaikan kalender tanam. Tujuannya supaya produksi pangan tidak anjlok selama musim kering berlangsung.
Antisipasi Karhutla Lebih Dini dari 2015
Ancaman kebakaran hutan dan lahan, terutama di kawasan gambut, juga jadi perhatian serius. Faisal menyebut pendekatannya kali ini berbeda dari penanganan El Nino 2015 yang baru bergerak setelah api membesar. Sekarang, tim membasahi lahan gambut lebih dulu sebagai langkah pencegahan.
Kementerian Lingkungan Hidup memantau tinggi muka air gambut secara rutin. Begitu muka air turun di bawah satu meter, BMKG dan BNPB langsung menjalankan operasi modifikasi cuaca untuk mendongkrak kelembapan lahan. Kalau penyemaian awan tidak berhasil karena awan tidak tersedia, BNPB mengambil alih lewat water bombing, penyemprotan, dan pembangunan kanal. Mereka juga menggandeng TNI, Polri, Basarnas, dan pemerintah daerah setempat.
Kemarau Bukan Cuma Bawa Petaka
Menariknya, El Nino tidak melulu membawa dampak buruk. BMKG melihat peluang di sektor energi terbarukan berbasis surya dan angin. Faisal menerangkan, tutupan awan yang berkurang justru membuat penyinaran matahari lebih maksimal. Kondisi ini mendongkrak performa pembangkit listrik tenaga surya. Beda cerita dengan PLTA yang justru butuh suntikan air lewat pengisian waduk agar pasokan listrik tetap stabil.
Direktur Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Nizhar Marizi sependapat. Ia melihat berkurangnya tutupan awan selama El Nino sebagai momentum untuk menggenjot produksi listrik dari PLTS. Sebab, intensitas sinar matahari yang diterima jadi jauh lebih tinggi dari biasanya.
Dengan kombinasi strategi ini, pemerintah berharap dampak El Nino kuat tahun ini bisa mengecil tanpa harus menunggu krisis air benar-benar terjadi. Strategi itu mencakup pengisian waduk, penyesuaian pola tanam, pencegahan karhutla lebih awal, sampai pemanfaatan energi surya.
[wpcode id=”2237″
