Kisah Nabi Musa AS: dari Sungai Nil hingga Laut Terbelah
- account_circle Firmansyah
- calendar_month 8 jam yang lalu
- visibility 9
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kebaruan. Nabi Musa ‘alaihissalam (AS) adalah nabi dan rasul yang Allah utus kepada Bani Israil. Tugas utamanya membawa kaumnya keluar dari penindasan Firaun di Mesir. Namanya disebut 136 kali dalam Al-Qur’an, paling banyak di antara para nabi. Menurut Tirto yang mengutip Suara Muhammadiyah, nama itu tersebar di 34 surah.
Bayi di Sungai Nil
Musa lahir saat Firaun memerintahkan pembunuhan bayi laki-laki Bani Israil. Allah mengilhamkan kepada ibunya agar menyusui lalu menghanyutkan bayi itu di sungai (QS Al-Qashash: 7). Peti kecil itu sampai ke istana. Istri Firaun, yang dalam riwayat tafsir bernama Asiyah, membujuk suaminya agar tidak membunuh bayi tersebut.
Allah lalu mengembalikan Musa kepada ibunya agar ia menyusu pada ibu kandungnya sendiri. Musa pun tumbuh di lingkungan istana.
Pelarian ke Madyan
Saat dewasa, Musa membela seorang Bani Israil yang berkelahi dengan orang Mesir. Pukulannya membuat orang itu meninggal (QS Al-Qashash: 15). Setelah mendengar ia sedang dicari, Musa lari ke Madyan.
Di sana ia membantu dua perempuan memberi minum ternak mereka. Ayah keduanya, yang menurut sebagian riwayat adalah Nabi Syuaib AS, menikahkan Musa dengan salah satu putrinya. Ulama tafsir berbeda pendapat soal identitas sang ayah. Musa bekerja untuknya selama delapan atau sepuluh tahun (QS Al-Qashash: 27-28).
Wahyu di Lembah Suci
Dalam perjalanan pulang, Musa melihat api di dekat gunung Thur. Di sanalah Allah berbicara langsung kepadanya dan mengangkatnya menjadi rasul (QS Thaha: 9-14). Musa meminta saudaranya, Harun AS, menjadi pendamping dakwah (QS Thaha: 29-30).
Allah membekali Musa dengan mukjizat: tongkat yang berubah menjadi ular dan tangan yang bercahaya. Ia diperintahkan menemui Firaun dan berbicara dengan lembut.
Berhadapan dengan Firaun
Firaun menolak dan menuduh Musa penyihir. Ia mengumpulkan para tukang sihir untuk menandingi Musa. Tongkat Musa menelan semua sihir mereka, dan para penyihir itu langsung beriman (QS Thaha: 70).
Firaun tetap membangkang dan menyiksa pengikut Musa. Allah kemudian memerintahkan Musa membawa Bani Israil pergi pada malam hari.
Laut yang Terbelah
Pasukan Firaun mengejar hingga Bani Israil terjepit di tepi laut. Allah memerintahkan Musa memukulkan tongkatnya, dan laut terbelah menjadi jalan (QS Asy-Syu’ara: 63). Bani Israil menyeberang selamat. Saat Firaun dan pasukannya menyusul, air laut kembali menutup dan menenggelamkan mereka.
Al-Qur’an menyebut jasad Firaun diselamatkan sebagai pelajaran bagi generasi sesudahnya (QS Yunus: 92).
Setelah Keluar dari Mesir
Perjalanan Bani Israil tidak mulus. Saat Musa menerima wahyu di Gunung Thur, sebagian kaumnya menyembah patung anak sapi buatan Samiri (QS Thaha: 85-88). Allah menurunkan Taurat kepada Musa sebagai petunjuk. Musa juga belajar dari seorang hamba yang saleh dalam kisah yang tertulis di Surah Al-Kahfi.
Karena keteguhannya menghadapi tekanan, Nabi Musa termasuk salah satu nabi Ulul Azmi.
- Penulis: Firmansyah
