Rupiah Melemah ke Rp18.187: Penyebab dan Proyeksi 28 Oktober
- account_circle Firmansyah
- calendar_month 5 jam yang lalu
- visibility 9
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kebaruan. Rupiah melemah lagi. Pada Rabu pagi (28/10/2026), data Bloomberg menunjukkan mata uang Garuda bergerak di sekitar Rp18.187 per dolar AS. Posisi itu mendekati level terlemah yang tercatat pada awal Juni 2026. Dolar yang menguat, harga minyak yang naik, dan penantian keputusan The Fed menjadi penyebab utamanya.
Enam hari menuju Rp18.187
Pelemahan ini berlangsung bertahap. Senin (19/10), rupiah menembus Rp18.046 jelang rapat Dewan Gubernur BI. Selasa (20/10), rupiah sempat menguat dan ditutup di bawah Rp18.000. Kamis (22/10), kurs spot ditutup di Rp18.060.
Setelah itu, tekanan makin kuat. Senin (26/10), rupiah ditutup melemah Rp55 atau 0,30% ke Rp18.135, level terburuk sejak awal Juni. Selasa (27/10), rupiah melemah lagi 0,12% ke Rp18.156. Kurs Jisdor mencatat Rp18.139. Pagi ini, rupiah melemah lagi ke sekitar Rp18.187.
Mengapa rupiah melemah
Dolar AS menjadi faktor pertama. Indeks dolar menguat 0,28% ke 102,24 pada Selasa, penguatan tiga hari beruntun. Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai rupiah masih berpotensi melemah karena pasar mengantisipasi sikap hawkish The Fed dalam rapat FOMC, yang berlangsung malam ini waktu Indonesia.
Faktor kedua adalah harga minyak. Bisnis.com mengutip analis yang menyebut penguatan dolar dan kenaikan harga minyak mentah dapat memperburuk tekanan terhadap rupiah, terutama di tengah ketidakpastian geopolitik global. Harga minyak yang tinggi menambah kebutuhan dolar untuk impor energi.
Faktor ketiga bersifat musiman. Kontan mencatat bahwa mendekati akhir bulan, permintaan dolar untuk kebutuhan pembayaran biasanya naik. Rupiah juga melemah bersama mayoritas mata uang Asia, dengan peso Filipina dan won Korea mencatat pelemahan lebih dalam.
Respons Bank Indonesia
BI mengaku tidak tinggal diam. Gubernur Destry Damayanti menyatakan bank sentral masih berada di pasar, yang berarti BI terus melakukan intervensi. Pekan lalu, BI juga menahan suku bunga di 5,75% dan memperkuat insentif untuk menarik dana asing masuk. Namun, rupiah tetap tertekan, sehingga sebagian analis mempertanyakan perlunya langkah tambahan.
Apa yang dipantau pasar berikutnya
Pertama, hasil rapat FOMC. Sikap The Fed yang lebih hawkish biasanya menguatkan dolar. Kedua, rilis data PCE AS pada Kamis, indikator inflasi acuan The Fed. Ketiga, pemilihan paruh waktu AS pada 3 November, yang membuat investor berhati-hati.
Direktur Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah hari ini fluktuatif tetapi rentan melemah di rentang Rp18.150-Rp18.200. Proyeksi lain menyebut tekanan bisa mencapai Rp18.250. Itu pandangan analis, bukan jaminan.
Dampak ke masyarakat
Rupiah yang lemah membuat barang impor lebih mahal. Pelajar di luar negeri, pelancong, dan pelaku usaha yang membeli bahan baku impor merasakannya lebih dulu. Dengan kurs Rp18.187, US$100 setara sekitar Rp1,82 juta.
Perhatikan data penutupan resmi BI (Jisdor) sebelum menukar dalam jumlah besar. Pasar bergerak cepat, dan angka dalam artikel ini hanya berlaku pada waktu yang tertera. Informasi ini bersifat umum, bukan rekomendasi penukaran atau investasi.
- Penulis: Firmansyah
