Prabowo Respons MSCI Bangsa Indonesia Tidak Gentar
- account_circle Firmansyah
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kebaruan. Presiden Prabowo Subianto angkat bicara soal MSCI. Dalam Sidang Kabinet Paripurna dua tahun pemerintahan di Istana, Jakarta, Rabu (21/10/2026), Prabowo menyatakan Indonesia tidak gentar menghadapi penyedia indeks pasar saham asal Amerika Serikat itu. Ia juga menyebut rencana penghematan anggaran. Pernyataan tersebut muncul pekan setelah MSCI mengusulkan penurunan status pasar saham Indonesia dan membuat IHSG anjlok.
Pesan pertama: tidak gentar
Prabowo menggambarkan Indonesia terus menghadapi gangguan, dan menyebut MSCI sebagai salah satunya. Menurutnya, lembaga itu berusaha menakut-nakuti. Ia lalu menegaskan, bangsa Indonesia tidak takut siapa pun dan tidak akan gentar. Anggota kabinet menyambutnya dengan tepuk tangan, menurut Kompas.
Prabowo mengakui masih banyak kesulitan. Meski begitu, ia menilai dua tahun terakhir menunjukkan kemajuan, dan ia menegaskan Indonesia tidak akan menyerah.
Pesan kedua: penghematan anggaran
Dalam pidato yang sama, Prabowo menyebut akan ada penghematan anggaran besar-besaran bila diperlukan. Tempo menulis ia berencana menerapkan penghematan itu dalam skala besar, sedangkan Kompas mengutip kalimat bahwa pemerintah akan “lebih hemat lagi”. Pemberitaan belum memuat angka atau pos yang dipangkas. Sebelumnya, Prabowo juga pernah menyebut penghematan menyasar belanja mubazir, termasuk perjalanan dinas luar negeri.
Menteri Keuangan, menurut judul berita Kompas, menyebut langkah itu untuk kesejahteraan masyarakat.
Pesan ketiga: kabinet tetap bekerja
Prabowo juga memuji kerja jajarannya selama dua tahun. Selain itu, ia meminta deregulasi dan program prioritas tetap berjalan, menurut ringkasan sejumlah media. Ia mengakui koalisi politiknya sangat gemuk, tetapi menegaskan Indonesia tetap kuat dan punya ketahanan nasional.
Klarifikasi dari OJK
Sebagian publik membaca pernyataan itu sebagai tantangan kepada MSCI. Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, meluruskan hal tersebut di Istana. Ia menyatakan pernyataan Presiden tidak bermaksud menantang MSCI, melainkan mendukung reformasi pasar modal. Friderica juga menegaskan reformasi itu tidak semata-mata menanggapi evaluasi satu penyedia indeks.
Apa yang dipersoalkan MSCI?
MSCI menilai klasifikasi Indonesia sebagai pasar berkembang tidak lagi tepat. Lembaga itu menyoroti struktur kepemilikan saham yang tidak transparan, kepemilikan yang terlalu terkonsentrasi, serta praktik perdagangan yang terkoordinasi. MSCI juga menilai reformasi yang diumumkan otoritas belum menunjukkan kemajuan yang konsisten.
Sambil menunggu keputusan final, MSCI membekukan sejumlah perubahan indeks terkait saham Indonesia. Ia juga tidak menambahkan saham Indonesia ke MSCI Indonesia Investable Market Index. Usulan penurunan status ke Standalone Market sendiri masih berupa konsultasi.
Bagaimana respons otoritas pasar?
OJK dan BEI sudah merilis sejumlah kebijakan, termasuk rencana mengeluarkan saham HSC dari perhitungan IHSG dan keterbukaan afiliasi pemegang saham. IHSG sempat rebound dua hari beruntun dan ditutup 5.328,36 pada Rabu (21/10). Namun, indeks masih jauh di bawah puncaknya, dan risiko MSCI belum hilang.
Investor kini menunggu tiga hal: tindak lanjut reformasi, keputusan MSCI, dan rincian penghematan anggaran yang dijanjikan Presiden.
- Penulis: Firmansyah
