Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » Kesehatan » Tampilkan lebih banyak 54 Juta Peserta BPJS Kesehatan Tidak Aktif, Kelas Menengah Jadi Penyebab Utama

Tampilkan lebih banyak 54 Juta Peserta BPJS Kesehatan Tidak Aktif, Kelas Menengah Jadi Penyebab Utama

  • account_circle Firmansyah
  • calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
  • visibility 138
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kebaruan.com Angka ini mengejutkan banyak pihak. BPJS Kesehatan mengungkap bahwa hingga Juni 2026, ada 54 juta peserta yang status kepesertaannya tidak aktif. Bukan karena mereka tidak terdaftar — melainkan karena mereka berhenti membayar iuran.

Direktur Utama BPJS Kesehatan Prihati Pujowaskito menyampaikan fakta ini langsung dalam acara Public Expose Laporan Pengelolaan Program dan Laporan Keuangan BPJS Kesehatan Tahun 2025 di Kantor Pusat BPJS Kesehatan, Kamis (2/7/2026).

“Sampai saat ini yang tidak aktif sekitar 54 juta ya, sampai bulan ini,” kata Pujo — sapaan akrab Prihati Pujowaskito.

Siapa yang Paling Banyak Tidak Aktif?

Bukan kelompok masyarakat miskin. Bukan pula kalangan atas. Kelompok yang paling banyak mengnonaktifkan kepesertaan BPJS mereka justru kelas menengah.

Pujo menjelaskan alasannya dengan gamblang. Masyarakat kelas menengah cenderung memperlakukan BPJS Kesehatan sebagai instrumen reaktif — bukan preventif. Mereka baru mendaftar dan membayar iuran ketika tubuh mereka mulai bermasalah. Begitu sembuh, mereka berhenti bayar lagi.

Fenomena ini punya nama teknis dalam dunia asuransi: adverse selection.

Apa itu adverse selection dan kenapa ini berbahaya?

Adverse selection terjadi ketika seseorang memanfaatkan sistem asuransi hanya saat risiko tinggi — dan mundur ketika kondisinya aman.

Pujo menjelaskannya dengan bahasa yang sangat mudah dipahami:

“Rata-rata ini menjadi semacam adverse selection itu ya. ‘Aduh, kalau nggak sakit ngapain saya bayar sekarang’. Nah, ini kelihatan sekali bagian dari problem semua asuransi sosial di dunia adalah seperti itu,” ujarnya.

Ini masalah klasik yang tidak hanya Indonesia hadapi. Hampir semua sistem asuransi sosial di seluruh dunia bergulat dengan tantangan yang sama persis.

Tapi dampaknya nyata dan serius. Ketika jutaan orang tidak membayar iuran secara konsisten, dana yang tersedia untuk menanggung biaya kesehatan peserta aktif menjadi lebih tipis. Keseimbangan sistem terganggu.

BPJS Menunggu Perpres Pemutihan Tunggakan

Pemerintah sudah menyiapkan satu solusi konkret untuk mendongkrak jumlah peserta aktif kembali.

BPJS Kesehatan saat ini masih menunggu Peraturan Presiden (Perpres) tentang pemutihan tunggakan yang segera Presiden tanda tangani. Kalau Perpres ini terbit, peserta yang sebelumnya menunggak bisa kembali aktif tanpa harus melunasi seluruh tunggakan mereka terlebih dahulu.

“Dihapuskan tunggakannya, ini membuat kita bertambah keaktifan peserta, dan dari sisi neraca keuangan kita menjadi bagus,” ujar Pujo.

Langkah ini diharapkan mampu menggerakkan kembali jutaan peserta tidak aktif — terutama dari segmen kelas menengah yang menunggak bukan karena tidak mampu, tapi karena memilih tidak membayar saat merasa sehat.

Data Positif: JKN Sudah Cover 98,62 Persen Penduduk Indonesia

Di balik masalah 54 juta peserta tidak aktif, ada pencapaian besar yang perlu diapresiasi.

Per akhir 2025, program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sudah mencakup 282,7 juta jiwa — setara 98,62 persen dari total penduduk Indonesia. Angka ini naik signifikan dari tahun 2024 yang mencatat 278,1 juta jiwa.

Artinya, hampir seluruh rakyat Indonesia sudah terdaftar dalam sistem jaminan kesehatan terbesar di dunia ini. Tantangannya kini bukan lagi soal registrasi — tapi soal mempertahankan keaktifan peserta secara konsisten.

Pemanfaatan Layanan Kesehatan Melonjak Tajam

Angka pemanfaatan layanan kesehatan oleh masyarakat melalui BPJS Kesehatan juga mencatat rekor baru.

Sepanjang 2025, masyarakat memanfaatkan layanan kesehatan sebanyak 725,3 juta kali — naik signifikan dari 673,9 juta kali pada 2024. Lonjakan ini mencerminkan kesadaran masyarakat yang terus meningkat untuk mengakses layanan kesehatan.

Tapi ada paradoks yang perlu dicermati. Pemanfaatan melonjak drastis, tapi 54 juta peserta justru tidak aktif membayar iuran. Ini menunjukkan bahwa orang mau pakai layanan BPJS, tapi enggan berkontribusi rutin ke dalam sistem.

Kenapa Kelas Menengah Harus Mulai Berpikir Ulang

Logika adverse selection memang terasa masuk akal secara individual jangka pendek. Tapi kalau dilihat dari perspektif yang lebih luas, pola ini merugikan diri sendiri dalam jangka panjang.

Beberapa alasan kenapa bayar iuran BPJS secara rutin itu jauh lebih menguntungkan:

1. Penyakit tidak selalu memberi peringatan
Serangan jantung, stroke, atau kecelakaan terjadi mendadak. Kalau kepesertaan tidak aktif saat kejadian, kamu tidak bisa langsung menggunakan fasilitas BPJS.

2. Reaktivasi tidak instan
Mengaktifkan kembali kepesertaan BPJS butuh proses. Ada kemungkinan harus melunasi tunggakan lebih dulu — kecuali Perpres pemutihan sudah berlaku.

3. Iuran jauh lebih murah dari biaya sakit
Biaya rawat inap di rumah sakit bisa mencapai puluhan juta rupiah. Iuran BPJS kelas menengah per bulan tidak ada apa-apanya dibanding risiko itu.

4. Sistem hanya kuat kalau semua berkontribusi
BPJS adalah sistem gotong royong. Semakin banyak yang aktif membayar, semakin kuat sistem ini menanggung biaya kesehatan semua peserta — termasuk mereka yang paling membutuhkan.

Tantangan yang Harus Pemerintah dan BPJS Selesaikan Bersama

Pujo mengakui bahwa adverse selection bukan masalah yang mudah dipecahkan. Ini tantangan struktural yang nyaris semua sistem asuransi sosial di dunia hadapi.

“Jadi bagian dari pada problem yang harus kita hadapi bersama-sama adalah adverse selection ini, yang menyebabkan peserta tidak aktif karena menunggu kalau sakit. Ini tantangan yang kita hadapi,” tegasnya.

Perpres pemutihan tunggakan adalah satu langkah. Tapi perlu solusi lebih sistemis — mulai dari edukasi publik soal manfaat iuran rutin, penegakan kewajiban bagi perusahaan menanggung BPJS karyawan, hingga kemudahan mekanisme pembayaran yang lebih fleksibel bagi kelas menengah.

54 juta peserta tidak aktif adalah angka yang terlalu besar untuk dibiarkan begitu saja. Dan solusinya bukan hanya tanggung jawab BPJS atau pemerintah — tapi juga kesadaran setiap individu untuk berpartisipasi aktif dalam sistem jaminan kesehatan nasional ini.

F
Firmansyah ✔ Jurnalis Terverifikasi

Jurnalis Kebaruan.com · Meliput isu ekonomi, politik, dan peristiwa terkini dengan integritas jurnalistik.

✎ Ditulis & ditinjau editor   |   ↻ Diperbarui 13 Juni 2026   |   Kebijakan editorial   Metodologi
  • Penulis: Firmansyah

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jakarta Bersholawat Vol. 2 Digelar di Monas, Yuk Ramaikan!

    Jakarta Bersholawat Vol. 2 Digelar di Monas, Yuk Ramaikan!

    • calendar_month Jumat, 21 Agt 2026
    • account_circle Firmansyah
    • visibility 139
    • 0Komentar

    Jakarta Langit Jakarta akan menyaksikan momen istimewa akhir pekan ini. Majelis Ta’lim Nurul Musthofa mengundang seluruh warga Jakarta dan sekitarnya untuk hadir dalam acara bertajuk “Jakarta Bersholawat Vol. 2: Maulid Agung Sang Cahaya Pilihan” di kawasan Monumen Nasional. Acara ini digelar Sabtu, 22 Agustus 2026, dimulai sejak waktu maghrib hingga selesai. Kamu yang ingin ikut […]

  • Badai Sentimen Negatif Hari Ini: IHSG Anjlok Parah Nyaris 5%, Cek Daftar Sahamnya!

    Badai Sentimen Negatif Hari Ini: IHSG Anjlok Parah Nyaris 5%, Cek Daftar Sahamnya!

    • calendar_month Kamis, 4 Jun 2026
    • account_circle Firmansyah
    • visibility 185
    • 0Komentar

    Kebaruan.com Lantai bursa efek Indonesia langsung membara menyusul tekanan jual masif yang melanda seluruh instrumen aset ekuitas domestik. Berdasarkan pencatatan sistem perdagangan pada Kamis (4/6/2026) pukul 09.38 WIB, laju pergerakan IHSG anjlok sangat dalam sebesar 249,255 poin. Koreksi ekstrem nyaris lima persen tersebut memaksa indeks acuan nasional mendarat jatuh ke level 5.691,811. Guncangan ini tentu […]

  • Duduk Perkara Kasus Dedi Kurniawan, Perwira Polda Sumut yang Masuk Patsus Propam

    Duduk Perkara Kasus Dedi Kurniawan, Perwira Polda Sumut yang Masuk Patsus Propam

    • calendar_month Sabtu, 2 Mei 2026
    • account_circle Firmansyah
    • visibility 9
    • 0Komentar

    Kebaruan.com Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Ferry Walintukan, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah mengambil langkah tegas dengan menempatkan Dedi Kurniawan di tempat khusus (patsus) guna menjalani pemeriksaan intensif. Langkah ini merupakan prosedur standar Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) saat menangani dugaan pelanggaran kode etik di tubuh Polri. Dalam video yang memicu kehebohan tersebut, terlihat seseorang yang […]

  • Hasil Argentina vs Mesir 3-2: Comeback Gila dari 0-2, Enzo Fernandez Cetak Gol Bersejarah

    Hasil Argentina vs Mesir 3-2: Comeback Gila dari 0-2, Enzo Fernandez Cetak Gol Bersejarah

    • calendar_month Rabu, 8 Jul 2026
    • account_circle Firmansyah
    • visibility 145
    • 0Komentar

    Kebaruan.com Argentina mengamankan tiket perempat final Piala Dunia 2026 setelah menaklukkan Mesir 3-2 di Atlanta Stadium — dan cara mereka melakukannya membuat seluruh dunia sepak bola tidak bisa berkedip. Tim berjuluk La Albiceleste mengalahkan Mesir 3-2. Tim asuhan Lionel Scaloni sempat berada di ambang kekalahan setelah Mesir unggul 2-0 saat pertandingan tersisa 15 menit. Namun […]

  • Program Pemutihan Pajak Kendaraan Jakarta Resmi Dibuka, Bebas Denda Sampai Agustus!

    Program Pemutihan Pajak Kendaraan Jakarta Resmi Dibuka, Bebas Denda Sampai Agustus!

    • calendar_month Rabu, 3 Jun 2026
    • account_circle Firmansyah
    • visibility 189
    • 0Komentar

    Kebaruan.com Kabar gembira bagi para pemilik moda transportasi di ibu kota karena Pemprov DKI Jakarta resmi meluncurkan program pemutihan berskala besar. Langkah strategis ini membebaskan denda keterlambatan bagi warga yang ingin mengurus kewajiban pajak kendaraan mereka yang sempat tertunggak. Melalui program pembebasan sanksi Pajak Kendaraan ini, masyarakat bisa menghemat pengeluaran bulanan dalam jumlah yang cukup […]

  • Kenapa Tidak Boleh Menyalakan Data di Pesawat? Simak Penjelasannya

    Kenapa Tidak Boleh Menyalakan Data di Pesawat? Simak Penjelasannya

    • calendar_month Sabtu, 13 Jun 2026
    • account_circle Firmansyah
    • visibility 253
    • 0Komentar

    Kebaruan.com Banyak penumpang sering bertanya, kenapa tidak boleh menyalakan data di pesawat saat dalam perjalanan? Aturan ini bukan sekadar larangan tanpa alasan. Maskapai menerapkan protokol ketat demi memastikan keamanan seluruh penumpang selama penerbangan berlangsung. Saat perangkat seluler aktif dengan data seluler, ponsel akan terus mencari sinyal dari menara pemancar terdekat di daratan. Proses pencarian ini […]

expand_less