Harga Batu Bara Hari Ini 3 November 2026: Newcastle dan HBA
- account_circle Firmansyah
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 2
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kebaruan. Harga batu bara dunia bertahan di kisaran US$150 per ton, level yang jarang tercapai dalam dua tahun terakhir. Acuan Newcastle untuk kontrak November tercatat US$149,5 per ton pada Senin (2/11/2026), setelah sempat menyentuh US$152,45 pada 30 Oktober. Di sisi lain, pemerintah menetapkan Harga Batubara Acuan (HBA) kalori tinggi periode pertama November sebesar US$125,60 per ton. Dua angka itu tidak saling bertentangan, karena keduanya mengukur hal berbeda.
Tiga angka batu bara yang sering tertukar
Angka pertama adalah harga pasar Newcastle, patokan perdagangan batu bara termal di Asia-Pasifik. Harga ini bergerak setiap hari mengikuti kontrak berjangka. Angka kedua adalah HBA, patokan pemerintah untuk penjualan dan penghitungan royalti. Angka ketiga adalah harga kontrak antara penambang dan pembeli, yang bergantung pada kalori dan lokasi.
Berapa HBA November 2026?
Kementerian ESDM menetapkan empat HBA untuk periode pertama November. HBA kalori tinggi (6.322 GAR) US$125,60 per ton, turun dari US$126,81 pada periode kedua Oktober. Sebaliknya, tiga kategori lainnya naik. HBA I (5.300 GAR) menjadi US$97,85 dari US$93,62. HBA II (4.100 GAR) naik ke US$69,28 dari US$66,10, dan HBA III (3.400 GAR) ke US$46,64 dari US$45,53.
Semakin rendah kalorinya, semakin murah harga acuannya. Karena itu, harga batu bara kalori rendah Indonesia jauh di bawah harga Newcastle.
Mengapa harga batu bara naik?
Pemicu pertama datang dari gas. Gangguan pasokan terkait konflik di Timur Tengah mendorong harga LNG naik. Akibatnya, sejumlah pembangkit di Asia dan Eropa beralih ke batu bara. Kenaikan harga tersebut mengerek harga Newcastle ke level tertinggi sejak Oktober 2024.
Pemicu kedua adalah pasokan Indonesia. Pengiriman batu bara Indonesia turun 23% pada Agustus karena ekspor diperketat. Badan Energi Internasional (IEA) bahkan memperkirakan produksi Indonesia turun lebih dari 12 juta ton pada 2026 akibat kuota yang lebih rendah. Pemerintah juga menaikkan HBA dan memangkas produksi untuk menjaga harga.
Pemicu ketiga datang dari India. Stok batu bara di pembangkit India berada di level terendah dalam hampir lima tahun, dengan 95 pembangkit berstatus kritis. Namun, India sempat membatalkan rencana mewajibkan impor karena harga yang tinggi dan rupee yang melemah.
Seberapa besar kenaikan setahun terakhir?
Harga batu bara naik sekitar 40% dalam setahun terakhir, tergantung tanggal yang dipakai. Dalam sebulan, kenaikannya sekitar 2,7%. Pergerakan harian masih fluktuatif. Pada 27 Oktober, kontrak November melemah US$3,05 ke US$150, sedangkan kontrak Desember melemah US$2,90 ke US$153.
Apa rencana pemerintah soal produksi?
Menteri Bahlil Lahadalia menyatakan harga batu bara sudah baik, sehingga idealnya produksi juga naik. Ia membuka peluang menambah kuota produksi 2027, tetapi penetapan kuota dan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tetap mempertimbangkan kondisi pasar. Ia menyebut strategi menaikkan HBA dan memangkas produksi membantu mendorong harga kalori tinggi mencapai US$154 per ton.
Karena itu, keputusan kuota 2027 akan menentukan arah harga berikutnya. Kuota yang naik berpotensi menambah pasokan dan menekan harga.
Bagaimana dampak ke rupiah dan perusahaan tambang?
Rupiah yang lemah tidak otomatis menguntungkan penambang. Seorang analis menilai rupiah lemah lebih tepat disebut bantalan laba, bukan pendorong ekspor. Biaya solar, alat berat, suku cadang, bahan peledak, dan utang banyak berbasis dolar AS, sehingga manfaatnya tidak penuh.
Yang perlu dipantau
Pantau stok batu bara India, harga LNG dan perkembangan di Timur Tengah, serta keputusan kuota produksi Indonesia untuk 2027. Informasi ini bersifat umum, bukan rekomendasi investasi.
- Penulis: Firmansyah
