Sudaryono Ungkap Penyebab Utama Keracunan MBG Selama 50 Hari Menjabat
- account_circle Firmansyah
- calendar_month 14 jam yang lalu
- visibility 11
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kebaruan. Sudaryono buka suara soal deretan kasus keracunan program Makan Bergizi Gratis sejak dirinya menjabat Kepala Badan Gizi Nasional. Ia menggantikan Nanik S Deyang di posisi tersebut. Sudaryono mengakui kasus gangguan kesehatan akibat MBG terjadi sangat banyak selama 50 hari masa kepemimpinannya. Pengakuan ini ia sampaikan langsung di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (17/9/2026).
Menurut Sudaryono, penyebab utamanya sudah jelas: kerusakan bahan makanan. Lauk dan sayur jadi dua komponen paling rentan busuk sebelum sempat diolah. Berikut penjelasan lengkap soal akar masalah ini, sekaligus langkah perbaikan yang sudah BGN lakukan.
Protein Hewani Jadi Sumber Masalah Terbesar
Sudaryono menjelaskan, lauk dalam menu MBG memang didominasi protein hewani. Ayam, telur, ikan, dan daging jadi bahan utama yang paling sering diolah dapur SPPG setiap hari. Bahan-bahan ini pula yang paling gampang rusak kalau penanganannya tidak tepat sejak awal.
Ia menegaskan pentingnya setiap dapur menentukan bahan baku secara benar sejak proses pembelian. Menurutnya, teknik memasak sebaik apa pun tidak akan menyelamatkan hasil akhir kalau bahan bakunya sudah busuk duluan. Logikanya sederhana: bahan rusak menghasilkan makanan yang tetap berbahaya, apa pun cara pengolahannya.
BGN Bangun Sistem Marketplace Bahan Baku
Sudaryono mengungkap solusi konkret yang sedang BGN garap. Lembaganya kini menerapkan sistem absensi penerimaan barang di setiap dapur SPPG. Selain itu, BGN tengah membangun semacam marketplace khusus untuk bahan baku protein hewani.
Tujuan marketplace ini jelas: memastikan kualitas bahan baku benar-benar sesuai standar, dengan harga yang wajar tanpa mark up. Sudaryono menyoroti praktik curang yang sering terjadi, di mana dapur memesan bahan kualitas A tapi yang datang justru kualitas D. Sistem baru ini diharapkan menutup celah kecurangan semacam itu.
Dapur Bermasalah Sudah Ditutup dan Pekerja Dicopot
Sudaryono mengeklaim BGN sudah menutup dapur-dapur yang bekerja tidak sesuai prosedur. Pekerja dan kepala dapur yang terbukti tidak kompeten pun sudah dicopot dari posisinya. Langkah tegas ini terus berlanjut seiring proses evaluasi menyeluruh yang masih berjalan.
BGN sudah memeriksa hampir setengah dari total dapur SPPG di seluruh Indonesia. Sekitar 13.000 sampai 14.000 dapur dinyatakan memenuhi standar operasional. Sisanya, hampir separuh dari total dapur, masih dalam proses pemeriksaan lanjutan.
Sanksi Bertingkat bagi Dapur yang Tidak Memenuhi Syarat
BGN menerapkan sistem sanksi bertahap bagi dapur bermasalah. Dapur yang tidak memenuhi syarat langsung kena suspend sementara. Kalau dapur tersebut tidak kunjung memperbaiki diri setelah masa suspend, BGN akan menutupnya secara permanen.
Pendekatan bertahap ini memberi kesempatan perbaikan, tapi tetap tegas bagi dapur yang terus melanggar standar keamanan pangan. Sudaryono menegaskan proses evaluasi dan penindakan ini akan terus berjalan, bukan cuma respons sesaat setelah kasus viral.
Kenapa Pengakuan Ini Penting bagi Publik
Keterbukaan Sudaryono soal akar masalah keracunan MBG jadi langkah maju dibanding sekadar menutupi masalah. Publik jadi tahu persis di mana letak kelemahan sistem selama ini, mulai dari kualitas bahan baku sampai lemahnya pengawasan di tingkat dapur. Informasi ini penting bagi orang tua siswa yang ingin memantau perkembangan perbaikan program MBG ke depannya.
Bagi keluarga yang anaknya menerima manfaat MBG, tetap penting mengawasi kondisi makanan yang diterima anak setiap hari. Laporkan segera ke pihak sekolah atau SPPG setempat kalau menemukan tanda-tanda makanan tidak layak konsumsi, sebelum berujung pada kasus keracunan yang lebih luas.
- Penulis: Firmansyah
